Hikayat Perjuangan KH Abdul Wahab Chasbullah

Ya lal wathan, ya lal wathan, ya lal wathan. Hubbul wathan minal iman. Wala takun minal hirman. Inhadhu ahlal wathon. Indonesia Biladi. Anta ‘unwanul mufakhoma. Kullu man ya’tika yauma. Thamihan yalqo himama (Pusaka hati wahai tanah airku. Cintamu dalam imanku. Jangan halangkan nasibmu. Bangkitlah, hai bangsaku! Indonesia negeriku. Engkau Panji Martabatku. Siapa datang mengancammu. Kan binasa dibawah dulimu!)
Bait-bait syair lagu Ya Lal Wathon, menggelora dari pekikan mulut-mulut mungil para siswa sebuah Madrasah Ibtida’iyah (MI) yang terletak tak jauh dari Gunung Lawu. Lagu tersebut menjadi penyemangat mereka saat hendak akan memulai kegiatan belajar di pagi hari, selain juga tentunya lagu Indonesia Raya dan Bagimu Negeri yang wajib dihafal oleh para murid.
Kata salah guru di madrasah tersebut, lagu itu juga menjadi ikhtiar untuk membangkitkan rasa nasionalisme kepada murid sedari dini.
Namun siapa sangka, lagu tersebut ternyata sudah dinyanyikan para siswa perguruan Nahdlatul Wathan di Surabaya, hampir seabad yang lalu. Lagu tersebut merupakan gubahan dari KH Abdul Wahab Chasbullah yang ketika itu mengemban amanah sebagai Pimpinan Dewan Guru (keulamaan) di Nahdlatul Wathan.
Mbah Wahab bersama dengan KH Abdul Kahar sebagai Direkur, dan KH Mas Mansur sebagai Kepala Sekolah dibantu KH Ridwan Abdullah, mereka menjadikan NW sebagai markas penggemblengan para pemuda. Mereka dididik untuk menjadi pemuda yang berilmu dan cinta tanah air. (Anam, 1983)
Kelak, perjuangannya dengan membangun semangat nasionalisme melalui jalur pendidikan akan terus dikenang generasi sesudahnya. Nama madrasah Nahdlatul Wathan yang bermakna ‘Kebangkitan Tanah Air’, juga sengaja dipilih Mbah Wahab dan kawan-kawannya, untuk menegaskan cita-cita membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Tidak hanya itu, Kiai Wahab juga membentuk cabang-cabang baru: Akhul Wathan di Semarang, Far’ul Wathan di Gresik, Hidayatul Wathan di Jombang, Ahlul Wathan di Wonokromo dan lain sebagainya. Semua sekolah tersebut memiliki kesamaan, yakni pencantuman kata wathan yang berarti tanah air.
Usaha ini memang tidak mudah, akan tetapi Mbah Wahab selalu yakin akan kemerdekaan yang akan diraih bangsa ini. Pernah suatu ketika Kiai Abdul Halim (Cirebon) bertanya kepadanya, apakah dengan usaha (jalur pendidikan dan perkumpulan ulama) macam begini bisa menuntut kemerdekaan? Mendengar pertanyaan itu, Kiai Wahab segera mengambil satu batang korek api dan menyulutkannya, sambil berkata: “Ini bisa mengancurkan bangunan perang. Kita jangan putus asa. Kita harus yakin tercapai negeri merdeka!” (Saifuddin Zuhri, 1972).
Resolusi Jihad
Bersama sejumlah ulama lainnya, Kiai Wahab juga ikut membidani berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926. Pada awal berdiri, duetnya bersama sang Rais Akbar Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari menjadikan NU sebagai salah organisasi yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan bangsa ini. Salah satunya, ketika dikeluarkan sebuah fatwa ‘Resolusi Jihad’. Sebuah seruan yang ditujukan kepada Pemerintah Republik Indonesia dan umat Islam Indonesia, yang mengajak kepada semua untuk berjuang membela Tanah Air dari penguasaan kembali pihak Belanda dan pihak asing lainnya.
Resolusi Jihad ini dikeluarkan, ketika pada Oktober 1945, Belanda datang bersama pasukan Sekutu untuk kembali menjajah Indonesia yang baru beberapa bulan memproklamirkan kemerdekaannya. Satu demi satu kota jatuh ke tangan musuh. Bandung dan Semarang, dua kota penting telah dikuasai pihak sekutu.
Mendengar kabar tersebut, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Chasbullah mengumpulkan sejumlah ulama untuk mengikuti Rapat Besar Konsul-konsul Nahdlatul Ulama (NU) se-Jawa dan Madura, 21-22 Oktober di Surabaya, Jawa Timur. Dari pertemuan itu dikeluarkan sebuah seruan yang kemudian dikenal dengan “Resolusi Jihad fi Sabilillah”.
Adapun isi seruan tersebut sebagaimana termaktub dalam buku “Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama” (Anam: 1983) yakni : “Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja…”.
Selain itu para ulama juga memberikan beberapa seruan, antara lain: Pertama. Memohon dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia supaya menentukan suatu sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan terhadap usaha-usaha yang akan membahayakan kemerdekaan Agama dan Negara Indonesia, terutama terhadap pihak Belanda dan kaki tangan. Kedua. Supaya memerintahkan melanjutkan perjuangan bersifat “sabilillah” untuk tegaknya Negara Republik Indonesia Merdeka dan Agama Islam.
Usai disebarkannya seruan itu ke segala penjuru, para pejuang di tiap daerah bersiaga perang menunggu pendaratan tentara Inggris yang kabarnya sudah tersiar. Seruan untuk berjihad fii sabilillah ini pula yang menjadi pemicu perang massa (Tawuran Massal) pada tanggal 27, 28, 29 Oktober 1945. Saat itulah, arek-arek Surabaya yang dibakar semangat jihad menyerang Brigade ke-49 Mahratta pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby.
Hasilnya, lebih dari 2000 orang pasukan kebanggaan Inggris tewasnya. Sang Brigadir Jenderal, A.W.S. Mallaby juga tewas akibat dilempar granat. Perang Massa (Tawuran Massal) tanpa komando yang berlangsung selama tiga hari yang mengakibatkan kematian Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby itulah yang memicu kemarahan Inggris yang berujung pada pecahnya pertempuran besar Surabaya 10 November 1945, yang kelak dikenang sebagai tanggal peringatan Hari Pahlawan.
Pahlawan Sejati
Demikianlah, dedikasi Mbah Wahab baik sebagai seorang ulama, pendidik, negarawan, maupun aktivis pergerakan untuk bangsa ini memang sangat besar pengaruhnya. Gelar Pahlawan Nasional yang diberikan kepadanya, tentu istimewa. Namun, jauh sebelum pemberian gelar pahlawan ini, Mbah Wahab sejatinya sudah menjadi sosok yang telah memberikan banyak inspirasi dan jasa.
Kini, meski ia telah wafat, jasa dan ilmunya akan tetap dikenang, sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang penyair Arab yang termaktub dalam kitab Alala: “Akhul ‘ilmi hayyun kholidun ba’da mautihi, wa aushooluhu tahta turobi romiimun” (Para ahli ilmu, hidup abadi (nama dan jasanya) meski telah mati dan jasadnya terkubur di dalam tanah). Lahumu al-fatihah! (Ajie Najmuddin)
sumber : nu.or.id

KH Hasyim Muzadi: Dari Memimpin Ranting NU sampai Muslim Dunia

KH Hasyim Muzadi merupakan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama selama dua periode (1999-2004 dan 2005-2009/2010). Nama lengkapnya Ahmad Hasyim Muzadi. Lahir di Desa Bangilan, Tuban, 8 Agustus 1944, dari pasangan Muzadi dan Rumyati. Ayahnya pebisnis lokal bekerja sebagai pedagang pengepul tembakau yang sukses. Sang ayah pernah nyantri di Pesantren Syekhona Cholil, Bangkalan.

Pada tahun 1950, Hasyim Muzadi memasuki bangku Madrasah Ibtida’iyah, tetapi ketika menginjak kelas 3 ia pindah ke Sekolah Rakyat (SR). Pada tahun 1956 ia tinggal bersama kakaknya, Muchit Muzadi, yang saat itu menjadi sekretaris NU daerah Tuban. Dia melanjutkan ke SMTP Negeri Tuban dan baru setahun duduk di situ, Hasyim remaja memilih nyantri di Pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Pada tahun 1962, ia lulus dari Gontor, dan kemudian nyantri selama 2 tahun di beberapa pesantren: Pondok Pesantren aI-Anwar Lasem, Pondok Pesantren al-Fadholi Senori Tuban, dan Pondok Pesantren Tanggir asuhan KH Sho’im.

Aktivitasnya sebagai pengurus organisasi NU dimulai ketika ia pindah ke Malang bersama sang kakak. Pada saat yang sama, ia melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi di IAIN Sunan Ampel Malang pada 1964. Oleh kakaknya, Hasyim Muzadi dikenalkan dengan organisasi NU, khususnya di Maiang dan Jawa Timur.

Ia kemudian terlibat di organisasi kalangan Nahdiiyin, dan menjadi Ketua Anak Cabang GP Ansor Bululawang, Malang (1965); Ketua Cabang PMII Malang (1966); Ketua KAMI Malang (1966); Ketua Cabang GP Ansor Malang (1967-1971); Wakil Ketua PCNU Malang (1971-1973) dan sekaiigus menjadi anggota DPRD Malang mewakili Fraksi NU; Ketua DPC PPP Malang (1973-1977); Ketua PCNU Malang (1973-1977); Ketua PW GP Ansor Jawa Timur (1983-1987); Ketua PP GP Ansor (1985-1987); Sekretaris PWNU Jawa Timur (1987-1988); Wakil Ketua PWNU Jawa Timur (1988-1992); Ketua PWNU Jawa Timur (1992-1999); dan pernah menjadi anggota DPRD Malang dan Jawa Timur (1986-1987).

Kepemimpinan Kiai Hasyim di PWNU Jawa Timur pada periode kedua berbarengan dengan kondisi politik nasional yang mulai kisruh karena menjelang runtuhnya kekuasaan Orde Baru. Sementara Jawa Timur menjadi basis utama warga NU. Saat itu, NU menghadapi banyak cobaan karena rezim Orde Baru menggunakan operasi Naga Hijau untuk menekan NU yang dipimpin KH Abdurrahman Wahid. Hasyim saat itu bekerja sama dengan Gus Dur untuk melawan tekanan-tekanan yang dilakukan rezim berkuasa. Kemunculannya dalam pentas nasional banyak diorbitkan Gus Dur, karena di berbagai tempat Gus Dur sering menyebut-nyebutnya dan mengajaknya berkeliling.

Ketika Gus Dur menjadi presiden pada tahun 1999, Hasyim Muzadi terpiiih menjadi Ketua Umum PBNU di Muktamar NU ke-30 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Pada periode kepemimpinannya ini, NU membuat media online bernama NU online; menerbitkan Risalah Nahdlatul Ulama; menyelenggarakan konferensi ulama dan cendekiawan muslim tingkat dunia atau International Conference of Islamic Scholars (lCIS); dan membentuk beberapa PCINU (Pengurus Cabang Istimewa NU) di luar negeri. Di ICIS Kiai Hasyim mengemban amanah sebagai sekretaris jendral yang memimpin perwakilan cendekiawan Muslim dari puluhan negara dalam menanggapi berbagai persoalan dunia Muslim di seluruh dunia. ICIS diprakarsai bersama oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Departemen Luar Negeri sejak tahun 2004.

Di akhir jabatannya, dia mencalonkan diri sebagai wakil presiden mendampingi Megawati, dan mengajak banyak orang di sekitarnya untuk menjadi tim sukses. Langkah ini memicu gelombang protes dari warga NU, karena ia dianggap berpolitik praktis, tetapi tidak mau mengundurkan diri dari jabatannya di PBNU. Gerakan protes warga NU ini kemudian berklimaks dalam Mubes Warga NU di Cirebon tahun 2004, menjelang Muktamar NU di Boyolali. Syuriyah PBNU kemudian mengeluarkan qarar (putusan) yang menonaktifkannya.

Meski mendapat kritikan tajam, di Muktamar NU ke-31 yang diadakan di Boyolali Kiai Hasyim terpilih kembali menjadi Ketua Umum PBNU periode 2004-2009, dengan mengucapkan sumpah kontrak jam‘iyah di hadapan Rais ‘Aam terpilih, KH MA Sahal Mahfudh. Pada periode ini, meski bertahan dari berbagai kritikan karena terlibat dalam beberapa kali dukungan Pilkada, yang berarti mengingkari kontrak jam‘iyah, dia bisa bertahan sampai Muktamar NU ke-32 tahun 2010 di Makassar.

Pada Muktamar ke-32 di Makassar, dia mencalonkan diri sebagai Rais ‘Aam Syuriyah PBNU, dan membuat tradisi persaingan yang belum pernah ada dalam sejarah jami‘yah. Jabatan ini jarang sekali ada yang mau, kecuali diminta dan diberikan kepada kiai yang berwibawa, zuhud, faqih, dan aliman terhadap persoalan umat. Akan tetapi upayanya gagal, karena muktamirin memilih KH MA Sahal Mahfudh.

Ketika lepas posisi sebagai ketua umum PBNU pada 2010, Kiai Hasyim masuk dalam jajaran Mustasyar PBNU pada periode kepemimpinan Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj (2010-2015). Saat inilah Kiai Hasyim lebih banyak mencurahkan perhatiannya pada penyelesaian konflik di Timur Tengah. Melalui forum ICIS ia sering menggelar konferensi yang melibatkan para ulama terkemuka di Timur Tengah untuk mencari solusi perdamaian di Timur Tengah yang tak henti-henti berkecamuk.

Pada Maret 2014 di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Kabupaten Situbondo untuk kesekian kali Kiai Hasyim menggelar pertemuan dengan peserta yang terdiri atas ulama terkemuka dunia, antara lain Syekh Ali Jumah (Mesir), Syekh Ahmad Badrudin Hassoun (Syria), Dr. M Yisif (Maroko), Syekh Abdul Karim Dibaghi (Aljazair), dan Syekh Mahdi bin Ahmad Assumaidi (Irak). Forum tersebut menggaungkan sembilan butir berisi seruan moderasi di berbagai bidang, pemikiran keagamaan, politik, pendidikan, ekonomi, dan lainnya. Gema wawasan Islam moderat ini merupakan oleh-oleh dari Indonesia untuk dibawa pulang para delegasi luar negeri ke kampung halaman masing-masing.

Ketika pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla terpilih sebagai presiden dan wakil presiden untuk periode 2015-2019, Kiai Hasyim dipercaya menjadi salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) bersama sembilan orang lainnya. Sayangnya, belum tuntas tugas sebagai Watimpres, Kiai Hasyim mengembuskan napas terakhir di Malang, Jawa Timur, pukul 06.00 WIB, Kamis, 16 Maret 2017, pada usia 73 tahun. Pemerintah lalu menyerahkan anugerah tanda kehormatan jenis bintang untuk almarhum KH Hasyim Muzadi di Istana Negara pada Selasa, 15 Agustus 2017.

 

Sumber: Ensiklopedia NU (2012), dengan penambahan seperlunya terkait data-data mutakhir (nu online)

 

Subchan ZE: Nyawanya Lenyap Bersama Sejarahnya

Nama lengkapnya Subchan Zaenuri Echsan. Lebih populer dipanggil Subchan ZE. Tokoh muda NU inspirator suburnya gerakan pemuda dan mahasiswa di Indonesia seperti HMI, PMII, GMNI, PMKRI, dll. Figur politik yang tajam, pemberontak, dan berani melawan rezim Presiden Soeharto. Meninggal misterius dalam kecelakaan di Riyadh, Arab Saudi di usia 42 tahun dalam sebuah operasi intelijen. Nama Subchan dihapus oleh rezim Orde Baru dari sejarah Indonesia.

Subchan ZE lahir di Kepanjen, Malang Selatan, 22 Mei 1931. Tumbuh di lingkungan santri di Kudus. Anak keempat dari 13 bersaudara. Ayahnya H Rochlan Ismail, adalah mubaligh, pedagang, dan pengurus Muhammadiyah di Malang. Sedangkan ibunya pengurus Aisyiyah. Sewaktu kecil dia diangkat anak oleh pamannya, H Zaenuri Echsan, seorang pengusaha rokok kretek asal Kudus.

Subchan adalah potret generasi muda NU yang sukses di bidang ekonomi. Sejak usia 14 tahun, dia sudah mengelola perusahaan rokok “Cap Kucing”. Pada usia 15, Subchan sudah rutin bepergian ke Singapura berjualan ban mobil dan truk, cengkeh dan cerutu. Pada saat Belanda memasuki Solo ia mengkordinir adik- adiknya untuk berjualan cerutu, roti dan permen kepada prajurit Belanda. Setelah dewasa ia menetap di Semarang untuk mendirikan perusahaan ekspor dan impor.

Subchan ZE sempat nyantri di pesantren Kiai Noer di Jalan Masjid Kudus. Selain mengenyam pendidikan pesantren, Subchan juga mengikuti kuliah di Universitas Gadjah Mada sebagai mahasiswa pendengar. Dia pernah pula belajar di sekolah Dagang Menengah di Semarang dan ikut dalam kursus program ekonomi di Unversity of California Los Angeles.

Di masa pecah revolusi fisik, Subchan bergabung dalam Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) dan organisasi Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) dipimpin Bung Tomo.

Di usia yang kian matang, Subchan pindah ke ibukota Jakarta dan memiliki 28 perusahaan. Jaringan bisnisnya bahkan merambah hingga ke Timur Tengah. Subchan menjadi pionir bisnis perjalanan haji dengan pesawat terbang melalui biro perjalanan Al-Ikhlas. Pada tahun sebelumnya, jamaah haji Indonesia berangkat dengan kapal laut.

Karir politik Subchan ZE dimulai pada 1953. Ketika itu dia duduk sebagai pengurus Ma’arif NU di Semarang. Tiga tahun kemudian dalam kongres NU di Medan, Idham Kholid terpilih sebagai ketua PBNU. Subchan ZE lalu muncul dalam kongres itu sebagai figur NU muda yang potensial dan terpilih sebagai ketua Departemen Ekonomi. Pada kongres berikutnya di Solo tahun 1962 Subchan terpilih sebagai Ketua IV PBNU.

Nama Subchan kian dikenal pasca aksi pembunuhan para Jenderal 1 Oktober 1965. Ketika itu, suasana ibukota Jakarta sangat mencekam. Dan ratusan pemuda berkumpul di kediaman Subchan ZE Jl. Banyumas 4, Menteng. Mereka adalah para aktivis anti PKI. Berasal dari berbagai aktivis ormas Islam, Kristen, dan Katolik. Mereka mengkonsolidir diri ke dalam Komando Aksi Pengganyangan (KAP) Gestapu yang dipimpin oleh Subchan ZE (NU) dan Hary Tjan Silalahi (PMKRI/Katolik).

 

Subchan ZE menjadi tokoh sipil yang mampu menggerakan massa untuk menuntut pembubaran PKI. Hal itu membuatnya disegani oleh kalangan petinggi Angkatan Darat.

 

Di masa itu, PKI melihat NU sebagai lawan politik dan ideologi. Subchan sebagai tokoh muda NU menunjukkan konsistensinya untuk melawan perkembangan ideologi komunisme. Ketidaksukaan Subchan terhadap komunisme tidak hanya ditunjukan di dalam negeri. Bahkan, selaku Vice President dari Afro Asia Economic Coorporation (Afrasec) tahun 1960-1962, Subchan pernah mengusir delegasi Uni Soviet dari persidangan di Mesir. Setibanya di tanah air dia sempat ditahan oleh pemerintah karena mempermalukan negara.

 

Walau masih muda, tapi Subchan sudah rutin diundang dalam konferensi ekonomi di luar negeri. Seperti The International Chambers of ECAFE, Afro Asian Economic Conference, dan masih banyak lagi. Subchan memiliki pengetahuan yang cerdas tentang ekonomi.Hal itu membuatnya sering diundang sebagai pembicara dalam acara-acara seminar yang dilakukan berbagai universitas di Indonesia.

 

Kemampuan Subchan di bidang ekonomi antara lain terlihat ketika di awal Orde Baru. Pada 1966, berlangsung sebuah diskusi di kampus UI Salemba dengan topik tentang kebijakan ekonomi yang selayaknya ditempuh pemerintahan baru.Saat itu pembicaranya adalah Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, dan Subchan ZE.Kedua ekonom lulusan Berkeley AS yang dipandang mumpuni itu, dalam pandangan sebagian pihak yang hadir dalam diskusi itu, tampak kewalahan dalam menghadapi pemikiran Subchan.Mutlak, makin banyak mahasiswa dan aktivis pergerakan yang mengidolakannya.

Di tahun yang sama, Subchan diangkat sebagai Wakil Ketua MPRS. Dalam posisinya, ia tetap konsisten mendesak pembubaran PKI dan menuntut pertanggungjawaban Soekarno sebagai Presiden. Soeharto yang diuntungkan dari rencana makar PKI dikukuhkan sebagai Presiden oleh MPRS tahun 1968.

Setelah pelantikan Presiden Soeharto, Subchan tak berhenti menjadi “pemberontak”. Dia berbicara keras tentang gaya Soeharto yang mengamputasi perangkat demokrasi dalam lembaga legislatif. Kritik keras dia sampaikan dalam pidato sebagai wakil ketua MPRS. Ia menuding kaidah-kaidah Orde Baru mulai kabur dan tidak lagi melandasi perjuangan bagi seluruh komponen Orde Baru.

Subchan menyatakan, mesin politik Orde Lama justru mendapat jalan melalui sel-sel koruptif, intrik, dan konspirasi yang makin merajalela di era Soeharto. Dengan tajam, ia mengkoreksi pemerintahan Soeharto yang sengaja menunda penyelenggaraan pemilu 1968 menjadi 1973. Berkat perlawanan gigihnya pemilu bisa berlangsung tahun 1971.

Jelang pemilu, konfrontasi terbuka Subchan dengan Soeharto justru meruncing. Dia mengkritik keras Mendagri Jenderal Amir Machmud, agar menjadi wasit yang adil dan jangan main “bulldozer” dalam politik. Kritik itu terkait dengan keluarnya Permendagri No 12/1969 yang melarang keterlibatan anggota departemen (PNS) di dalam partai politik. Kebijakan itu jelas hanya menguntungkan Golkar. Ia menyebut Permendagri tersebut tidak memenuhi syarat perundang-undangan dari sudut formal karena bertentangan dengan UU No 18/1968.

Kritik-kritik terhadap rezim Orde Baru juga dia sampaikan selama masa kampanye untuk Partai NU. Pidato politik Subchan saat berkampanye kerap menggunakan istilah “jihad” untuk mengobarkan semangat politik umat Islam. Istilah “jihad” kemudian digunakan oleh Soeharto dalam pidato tanpa teksnya.

Soeharto menyatakan, setiap usaha “jihad” yang selalu dikobar-kobarkan golongan tertentu akan dihadapi oleh pemerintah dengan semangat “jihad” pula. Komentar Soeharto di wilayah publik ditujukan hanya kepada Subchan.

Berkat kerja keras Jusuf Hasyim, Syaifudin Zuhri, KH A. Syaichu, dan terutama Subchan ZE berhasil menempatkan Partai NU dalam dua besar Pemilu 1971. Persis di bawah Golkar. Menguasai 69,96 persen suara yang diperoleh partai-partai Islam. Itulah prestasi terbesar NU dalam kapasitasnya sebagai partai politik.

 

Usai pemilu, ia bersama Nasution menulis “Buku Putih” yang berisi laporan pimpinan MPRS 1966-1972. Belum sempat diedarkan secara luas, buku itu disita dan dimusnahkan oleh Kopkamtib karena berisi sejumlah kecaman.

Subchan ZE tidak setengah hati dalam berpolitik. Hingga intervensi dan tekanan dari rezim Soeharto membuat Subchan ZE kehilangan karir politik. Pengurus Besar Syuriyah NU lewat suratnya No.004/Syuriyah/c/1972 yang ditandatangani oleh Rois Aam KH Bisri Syamsuri kemudian memecat Subchan ZE sebagai anggota NU.

Subchan menolak pemberhentian itu dan melawan balik. Tetapi mayoritas cabang NU mendukung pemberhentian Subchan. Hal itu menguatkan kesan bahwa prototipe kepemimpinan Subchan yang terlalu kritis dan vokal terhadap pemerintahan Soeharto tidak mendapatkan dukungan dari masyarakat pedesaan dan kultur tradisional.

Kritik-kritik tajam pada pemerintah dan popularitasnya yang terus meningkat adalah ancaman bagi rezim Soeharto. Perilaku koruptif rezim jelas dia benci. Kebencian itulah yang membuat dia mati muda di usia 42 tahun. Kematiannya yang tiba-tiba banyak mengejutkan banyak orang, terutama kalangan kaum muda yang selalu setia mengidolakannya. Kejadian ini terjadi setahun setelah pemecatan Subchan dari NU.

Hingga saat ini kematiannya masih menjadi misteri. Karena saat itu Subchan berencana melakukan pertikaian politik terhadap rezim Soeharto setelah pulang dari Mekkah. Beberapa sumber mengatakan, kematiannya tak luput dari “campur tangan” CIA yang berada dibalik suksesi Orde Baru.

Sebelum kematiannya, dia memberikan wawancara eksklusif koresponden AFP, Brian May, tentang jaringan bisnis Soeharto yang ada di Singapura, Belanda, dan AS.

Kecelakaan yang merenggut nyawa Subchan cukup janggal karena supir mobil justru lolos hanya dengan luka-luka ringan. Usai kematiannya, referensi tertulis, biografi dan kisah tentang Subchan ZE dihilangkan perlahan dari sejarah. Namun, namanya masih sempat diabadikan sebagai nama sebuah jalan di Kudus, Jawa Tengah.

Kisah hidup Subchan ZE menandakan bahwa semangat pemuda selalu kebal terhadap impunitas, pembunuhan karakter, dan bahkan upaya penghilangan paksa dari sejarah.

*Zulham Mubarak, Ketua Departemen Advokasi dan Kebijakan Publik PC GP Ansor Kabupaten Malang.

 

sumber : nu.or.id

 

Kiai Mas Alwi, Pendiri Nahdlatul Ulama yang Terlupa

Sosok pemberi nama Nahdlatul Ulama (NU) adalah Sayid Alwi Abdul Aziz al-Zamadghon. Lazim disebut Kiai Mas Alwi. Ia putra kiai besar, Abdul Aziz al-Zamadghon. Bersepupu dengan KH. Mas Mansyur dan termasuk keluarga besar Sunan Ampel, yang juga pendiri sekolah Nahdlatul Waton dan pernah belajar di pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura. Dari pulau garam, ia melanjutkan sekolah di Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, lalu memungkasi rihlah ‘ilmiyah-nya di Makkah al-Mukarromah.

Setelah pulang dari keliling Eropa, ia membuka warung di Jalan Sasak Ampel, Surabaya. Sebagaimana disebutkan dalam kisah berdirinya NU oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin, bahwa sebelum 1926, Kiai Hasyim Asy’ari telah berencana membuat organisasi Jami’iyah Ulama (Perkumpulan Ulama). Para kiai mengusulkan nama berbeda. Namun Kiai Mas Alwi mengusulkan nama Nahdlatul Ulama. Lantas Kiai Hasyim bertanya, “kenapa mesti pakai Nahdlatul, kok tidak jam’iyah ulama saja? Sayid Alwi pun menjawab, “karena tidak semua kiai memiliki jiwa nahdlah (bangkit). Ada kiai yang sekadar mengurusi pondoknya saja, tidak mau peduli terhadap jam’iyah.”

Akhirnya para kiai menyepakati nama Nahdlatul Ulama yang diusulkan Kiai Mas Alwi. Seorang ulama berdarah Hadramaut, Yaman. Lantas siapakah sosok penting yang namanya jarang disebut dalam kancah pergerakan NU selama ini?

Penyelidik Isu Pembaharuan Islam

Kiai Mas Alwi adalah salah seorang pendiri NU bersama Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Abdul Wahab Chasbullah, Kiai Ridlwan Abdullah, dan beberapa kiai besar lain. Mereka bergerak secara aktif di masyarakat sejak NU belum didirikan. Kiai Mas Alwi lah yang pertama mengusulkan nama Nahdlatul Ulama dalam versi riwayat keluarga Kiai Ridlwan Abdullah.

Namun nama Kiai Mas Alwi hampir jarang disebut dalam literatur sejarah NU. Apa sebabnya? Lantaran ia tidak memiliki keturunan dan dikeluarkan dari silsilah keluarga, sebagaimana yang akan tertulis di bawah ini. Hasil olah data dari karangan Ma’ruf Khozin, Wakil Katib Syuriyah NU Kota Surabaya dan Anggota LBM PWNU Jatim. Riwayat ini berdasarkan kisah langsung dari Gus Sholahuddin Azmi, putra Kiai Mujib Ridlwan dan cucu Pendiri NU, Kiai Ridlwan Abdullah (pencipta lambang NU) .

Memang tidak ada data pasti mengenai kelahiran Kiai Mas Alwi. Hanya ditemukan petunjuk dari kisah Kiai Mujib Ridlwan bahwa ketiga kiai yang bersahabat semasa (Kiai Ridlwan Abdullah, Kiai Wahab Chasbullah dan Kiai Mas Alwi), secara usia tidak terlalu jauh jaraknya. Pada masa awal NU berdiri (1926), usia Kiai Ridlwan 40 tahun, Kiai Wahab 37 tahun, dan Kiai Mas Alwi 35 tahun. Maka, Kiai Mas Alwi diperkirakan lahir pada sekitar 1890-an.

Ketiga Kiai tersebut, bukan sosok yang baru bersahabat ketika mendirikan sekolah Nahdlatul Wathon, namun jauh sebelum itu, ketiganya telah menjalin persaudaraan sejak berada di Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura.

Kiai Wahab dan Kiai Mas Alwi adalah dua kiai yang sudah terlihat hebat sejak masih nyantri di pondok, terutama dari sisi kecerdasan dan kecakapannya sebagai santri. Bersama Kiai Ridlwan Abdullah, Kiai Wahab Chasbullah, dan saudara sepupunya, Kiai Mas Mansur, Kiai Mas Alwi turut membidani pendirian Nahdlatul Wathon. Saat itu, Kiai Mas Mansur menjabat sebagai kepala sekolah, sebelum terpengaruh pemikiran pembaharuan Islam di Mesir yang kemudian menjadi pengikut Muhammadiyah.

Mendalami Renaisans Islam

Saat merebak isu “Pembaharuan Islam” (Renaissance), Kiai Mas Mansur, adik sepupu Kiai Mas Alwi, mempelajarinya langsung pada Muhammad Abduh, rektor Universitas al-Azhar, Mesir. Maklum, Kiai Mas Mansur berasal dari keluarga yang mampu secara material, sehingga dapat mencari ilmu hingga ke Aleksandria (Mesir) sana.

Kiai Mas Alwi yang bukan dari keluarga kaya pun, bertanyatanya tentang apa yang sejatinya dicari Kiai Mas Mansur hingga ke negeri Mesir. Padahal Renaissance (pembaharuan) itu berasal dari Eropa. Maka ia pun berusaha mengetahui apa sebenarnya Renaissance itu ke Eropa, melalui Belanda dan Prancis–dengan menggabungkan diri dalam pelayaran.

Pada masa itu, orang yang bekerja di pelayaran mendapat stigma buruk di masyarakat dan memalukan bagi keluarga. Sebab pada umumnya pekerja pelayaran selalu melakukan perjudian, zina, mabuk, dan tindak asusila lainnya. Sejak saat itulah keluarga Kiai Mas Alwi mengeluarkannya dari silsilah keluarga dan ‘diusir’ dari rumah.

Setelah Kiai Mas Alwi berhasil mendapat jawaban dari kegelisahannya, ia pun kembali ke Hindia Belanda. Setiba di tanah air, ia langsung dikucilkan oleh para sahabat, rekan sejawat, dan para tetangga. Tak patah arang, Kiai Mas Alwi membuka warung kecil di Jalan Sasak, dekat wilayah Ampel, demi memenuhi hajat hidupnya. Mengetahui ia telah pulang dari perantauan, Kiai Ridlwan pun datang menyambang.

“Kenapa sampean datang ke sini, Kang? Nanti sampean dicuci pakai debu sama para kiai lain, sebab warung saya ini sudah dianggap najis mughalladzah?”

Kiai Ridlwan malah balik bertanya.

“Dik Mas Alwi, sebenarnya apa yang sampean lakukan sampai pergi berlayar ke Eropa?”

“Begini, Kang Ridlwan. Saya ingin memahami apa sih sebenarnya Renaissance itu? Lah, Dik Mansur mendatangi Mesir untuk mempelajari Renaissance itu salah, sebab tempatnya ada di Eropa. Coba sampean lihat nanti kalau Dik Mansur datang, dia pasti akan berkata begini, begini dan begini…” (maksudnya adalah kembali ke al-Quran-Hadits, tidak bermadzhab, tuduhan bid’ah dan sebagainya)

“Renaisans di Mesir itu sudah tidak murni lagi, Kang Ridlwan, sudah dibawa makelar. Lha orang-orang itu mau melakukan pembaharuan apa dalam tubuh Islam? Agama Islam sudah sempurna. Tidak ada lagi yang harus diperbaharui. Al-Quran dengan jelas menyatakan”:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

“… Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (QS. al-Maidah [5]: 3)

Inti dari perjalanan Kiai Mas Alwi ke Eropa adalah, Renaisans yang ada dalam dunia Islam adalah upaya pecah belah yang dihembuskan dunia Barat, khususnya Belanda dan Prancis. Kiai Ridlwan kembali bertanya.

“Dari mana sampean tahu?”

“Karena saya berhasil masuk ke banyak perpustakaan di Belanda.”

“Bagaimana caranya sampean bisa masuk?”

“Dengan menikahi perempuan Belanda yang sudah saya Islam-kan. Dialah yang mengantar saya ke banyak perpustakaan. Untungnya saya tidak punya anak dengannya.”

Setelah Kiai Mas Alwi membabarkan perjalanannya ke Eropa secara panjang lebar, maka Kiai Ridlwan berkata: “Begini, Dik Alwi, saya ingin menjadi pembeli terakhir di warung ini.”

“Ya jelas terakhir, Kang Ridlwan, karena ini sudah malam.”

“Bukan begitu. Sampean harus kembali lagi ke Nahdlatul Wathon. Sebab sudah tidak ada yang membantu saya sekarang. Kiai Wahab lebih aktif di Taswirul Afkar. Sampean harus membantu saya.”

Keesokan pagi, sebelum Kiai Ridlwan sampai di Nahdlatul Wathon, ternyata Kiai Mas Alwi sudah tiba lebih dulu. Kiai Ridlwan yang masih kaget pun berkata:

“Kok sudah ada di sini?”

“Ya, Kang Ridlwan, tadi malam ternyata warung saya laku dibeli orang. Uangnya bisa kita gunakan untuk sekolah ini.”

Kedua kiai muda tersebut kemudian kembali membesarkan nama sekolah Nahdlatul Wathon.

Makam Kiai Mas Alwi

Sampai saat ini, belum ditemukan pula data tentang kapan Kiai Mas Alwi wafat, yang jelas, makam beliau terletak di pemakaman umum Rangkah, yang sudah lama tak terawat–bahkan pernah berada dalam dapur pemukiman liar yang ada di tanah pekuburan umum.

KH Asep Saefuddin, Ketua PCNU Surabaya, pernah mengerahkan Banser guna menertibkan rumahrumah yang merambah ke makam Kiai Mas Alwi. Maka sejak saat itu, makam beliau mulai dibangun dan diberi pagar. Kini, setiap perhelatan Harlah NU, Pengurus Cabang NU Surabaya kerap mengajak MWC dan Ranting se-Surabaya untuk ziarah ke makam para Muassis, khususnya wilayah Surabaya.

Pertanyaan kita, mengapa beliau dikebumikan di pemakaman umum? Tak ada jawaban pasti. Kemungkinan terbesar, karena beliau telah dikeluarkan dari silsilah keluarganya.

Sebagian kecil Nahdliyin yang mengetahui fakta ini sempat mengusulkan agar makam beliau dipindah ke kawasan Ampel. Berita ini telah diterima oleh PCNU Surabaya dan akan ditindaklanjuti. Tetapi bila prosesnya menemukan jalan buntu, maka PCNU akan berencana memindah makam beliau ke kawasan makam Jl. Tembok, diletakkan di sebelah makam sahabatnya, Kiai Ridlwan Abdullah.

Di area makam tersebut telah dikebumikan pula beberapa tokoh NU, di antaranya adalah; KH Abdullah Ubaid dan KH Thohir Bakri (dua tokoh pendiri Ansor), Kiai Abdurrahim (salah seorang pendiri Jamqur atau Jam’iyah Qurra’ wa l-Huffadz), Kiai Hasan Ali (Kepala logistik Hizbullah), Kiai Amin, Kiai Wahab Turham, Kiai Anas Thohir, Kiai Hamid Rusdi, Kiai Hasanan Nur, dan beberapa kiai lain.

Sosok besar yang nyaris terpendam dalam kuburan sejarah ini, telah menanggung risiko serius dengan dikeluarkan dari daftar keluarga sekaligus hak warisnya. Namun ia tetap melanjutkan tekadnya meneliti akar persoalan umat Islam saat itu hingga sampai ke Benua Biru. Sudah sepantasnya Muslim Indonesia harus menyertakan nama Kiai Mas Alwi saat nama para Muassis NU lain disebut.

Semoga Allah mengganjar perjuangan Kiai Mas Alwi dan para Muassis NU sebagai amal jariyah mereka. Semoga Allah mengangkat derajat mereka dan memberi keberkahan kepada para pejuang NU saat ini, sebagaimana Allah telah melimpahkan keberkahan kepada mereka semua. Semoga juga Pemerintah saat ini tergerak menahbis Kiai Mas Alwi sebagai pahlawan bangsa Indonesia–setelah Kiai As’ad Syamsul Arifin–dari kalangan Nahdlatul Ulama. Amin ya Rabb l-‘Alamin. Al-Fatihah… (Ren Muhammad, sumber : NU Online)

Hikayat Perjuangan KH Abdul Wahab Chasbullah

Perjuangan KH Abdul Wahab ChasbullahYa lal wathan, ya lal wathan, ya lal wathan. Hubbul wathan minal iman. Wala takun minal hirman. Inhadhu ahlal wathon. Indonesia Biladi. Anta ‘unwanul mufakhoma. Kullu man ya’tika yauma. Thamihan yalqo himama (Pusaka hati wahai tanah airku. Cintamu dalam imanku. Jangan halangkan nasibmu. Bangkitlah, hai bangsaku! Indonesia negeriku. Engkau Panji Martabatku. Siapa datang mengancammu. Kan binasa dibawah dulimu!)
Bait-bait syair lagu Ya Lal Wathon, menggelora dari pekikan mulut-mulut mungil para siswa sebuah Madrasah Ibtida’iyah (MI) yang terletak tak jauh dari Gunung Lawu. Lagu tersebut menjadi penyemangat mereka saat hendak akan memulai kegiatan belajar di pagi hari, selain juga tentunya lagu Indonesia Raya dan Bagimu Negeri yang wajib dihafal oleh para murid.
Kata salah guru di madrasah tersebut, lagu itu juga menjadi ikhtiar untuk membangkitkan rasa nasionalisme kepada murid sedari dini.
Namun siapa sangka, lagu tersebut ternyata sudah dinyanyikan para siswa perguruan Nahdlatul Wathan di Surabaya, hampir seabad yang lalu. Lagu tersebut merupakan gubahan dari KH Abdul Wahab Chasbullah yang ketika itu mengemban amanah sebagai Pimpinan Dewan Guru (keulamaan) di Nahdlatul Wathan.
Mbah Wahab bersama dengan KH Abdul Kahar sebagai Direkur, dan KH Mas Mansur sebagai Kepala Sekolah dibantu KH Ridwan Abdullah, mereka menjadikan NW sebagai markas penggemblengan para pemuda. Mereka dididik untuk menjadi pemuda yang berilmu dan cinta tanah air. (Anam, 1983)
Kelak, perjuangannya dengan membangun semangat nasionalisme melalui jalur pendidikan akan terus dikenang generasi sesudahnya. Nama madrasah Nahdlatul Wathan yang bermakna ‘Kebangkitan Tanah Air’, juga sengaja dipilih Mbah Wahab dan kawan-kawannya, untuk menegaskan cita-cita membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Tidak hanya itu, Kiai Wahab juga membentuk cabang-cabang baru: Akhul Wathan di Semarang, Far’ul Wathan di Gresik, Hidayatul Wathan di Jombang, Ahlul Wathan di Wonokromo dan lain sebagainya. Semua sekolah tersebut memiliki kesamaan, yakni pencantuman kata wathan yang berarti tanah air.
Usaha ini memang tidak mudah, akan tetapi Mbah Wahab selalu yakin akan kemerdekaan yang akan diraih bangsa ini. Pernah suatu ketika Kiai Abdul Halim (Cirebon) bertanya kepadanya, apakah dengan usaha (jalur pendidikan dan perkumpulan ulama) macam begini bisa menuntut kemerdekaan? Mendengar pertanyaan itu, Kiai Wahab segera mengambil satu batang korek api dan menyulutkannya, sambil berkata: “Ini bisa mengancurkan bangunan perang. Kita jangan putus asa. Kita harus yakin tercapai negeri merdeka!” (Saifuddin Zuhri, 1972).
Resolusi Jihad
Bersama sejumlah ulama lainnya, Kiai Wahab juga ikut membidani berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926. Pada awal berdiri, duetnya bersama sang Rais Akbar Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari menjadikan NU sebagai salah organisasi yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan bangsa ini. Salah satunya, ketika dikeluarkan sebuah fatwa ‘Resolusi Jihad’. Sebuah seruan yang ditujukan kepada Pemerintah Republik Indonesia dan umat Islam Indonesia, yang mengajak kepada semua untuk berjuang membela Tanah Air dari penguasaan kembali pihak Belanda dan pihak asing lainnya.
Resolusi Jihad ini dikeluarkan, ketika pada Oktober 1945, Belanda datang bersama pasukan Sekutu untuk kembali menjajah Indonesia yang baru beberapa bulan memproklamirkan kemerdekaannya. Satu demi satu kota jatuh ke tangan musuh. Bandung dan Semarang, dua kota penting telah dikuasai pihak sekutu.
Mendengar kabar tersebut, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Chasbullah mengumpulkan sejumlah ulama untuk mengikuti Rapat Besar Konsul-konsul Nahdlatul Ulama (NU) se-Jawa dan Madura, 21-22 Oktober di Surabaya, Jawa Timur. Dari pertemuan itu dikeluarkan sebuah seruan yang kemudian dikenal dengan “Resolusi Jihad fi Sabilillah”.
Adapun isi seruan tersebut sebagaimana termaktub dalam buku “Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama” (Anam: 1983) yakni : “Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja…”.
Selain itu para ulama juga memberikan beberapa seruan, antara lain: Pertama. Memohon dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia supaya menentukan suatu sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan terhadap usaha-usaha yang akan membahayakan kemerdekaan Agama dan Negara Indonesia, terutama terhadap pihak Belanda dan kaki tangan. Kedua. Supaya memerintahkan melanjutkan perjuangan bersifat “sabilillah” untuk tegaknya Negara Republik Indonesia Merdeka dan Agama Islam.
Usai disebarkannya seruan itu ke segala penjuru, para pejuang di tiap daerah bersiaga perang menunggu pendaratan tentara Inggris yang kabarnya sudah tersiar. Seruan untuk berjihad fii sabilillah ini pula yang menjadi pemicu perang massa (Tawuran Massal) pada tanggal 27, 28, 29 Oktober 1945. Saat itulah, arek-arek Surabaya yang dibakar semangat jihad menyerang Brigade ke-49 Mahratta pimpinan Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby.
Hasilnya, lebih dari 2000 orang pasukan kebanggaan Inggris tewasnya. Sang Brigadir Jenderal, A.W.S. Mallaby juga tewas akibat dilempar granat. Perang Massa (Tawuran Massal) tanpa komando yang berlangsung selama tiga hari yang mengakibatkan kematian Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby itulah yang memicu kemarahan Inggris yang berujung pada pecahnya pertempuran besar Surabaya 10 November 1945, yang kelak dikenang sebagai tanggal peringatan Hari Pahlawan.
Pahlawan Sejati
Demikianlah, dedikasi Mbah Wahab baik sebagai seorang ulama, pendidik, negarawan, maupun aktivis pergerakan untuk bangsa ini memang sangat besar pengaruhnya. Gelar Pahlawan Nasional yang diberikan kepadanya, tentu istimewa. Namun, jauh sebelum pemberian gelar pahlawan ini, Mbah Wahab sejatinya sudah menjadi sosok yang telah memberikan banyak inspirasi dan jasa.
Kini, meski ia telah wafat, jasa dan ilmunya akan tetap dikenang, sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang penyair Arab yang termaktub dalam kitab Alala: “Akhul ‘ilmi hayyun kholidun ba’da mautihi, wa aushooluhu tahta turobi romiimun” (Para ahli ilmu, hidup abadi (nama dan jasanya) meski telah mati dan jasadnya terkubur di dalam tanah). Lahumu al-fatihah! (Ajie Najmuddin)
(sumber : nu online)

Mbah Sholeh Darat, Sang Ghazali Kecil dari Semarang

ilustrasi
ilustrasi

Oleh Nur Ahmad
Martin van Bruinessen menyebutkan bahwa di kalangan para kiai muda sezamannya, Kiai Soleh Darat Semarang (1830-1903 M) terkenal dengan julukan Al-Ghazālī As-Ṣhagīr (Imam Al-Ghazzali Kecil), (Lihat Bruinessen, “Saleh Darat,” dalam Dictionnaire Biographique Des Savants et Grandes Figures Du Monde Musulman Périphérique, Du XIXe Siècle À Nos Jours, ed. Marc Gaborieau et al., vol. 2 (Paris: CNRS-EHESS 1998: 25-26.) Menurut penulis, yang telah meneliti karya-karyanya untuk studi skripsi dan tesis, hal ini adalah “wajar” baginya. Sebagaimana telah dilakukan Imam Al-Ghazali (w 505 H), Kiai Soleh menekankan aspek ketunggalan yang tak terpisahkan antara syariah dan tarekat di dalam menjalankan Islam.

Selain itu, Imam Al-Ghazali selalu menjadi rujukan utama dalam seluruh karya Pegon Kiai Soleh. Lalu, faktor-faktor apa yang melahirkan ide penyatuan antara dimensi syariah (ritual) dan tarekat (mistik)?

Kiai Soleh mengindikasikan bahwa ia menyadari debat yang terjadi antara kiai ahli syariah dan ahli tarekat di masanya. (Soleh As-Samarani, Sabīl Al-‘Abīd: 210)  Di sana terlihat jelas ia berusaha kuat mencegah orang-orang di zamannya yang secara berlebihan mencerca (condemn) para penganut tarekat. (Soleh As-Samarani, Minhājul Atqiyā’: 210). Meskipun begitu tidak ada catatan bahwa ia dibaiat (initiated) dalam salah satu tarekat. Bahkan walaupun jika secara lahirnya seorang guru tarekat itu bodoh hal-hal fikih, dalam hal mengajarkan praktik tarekat mereka mendapat legitimasi kuat karena telah menerima ajaran tersebut dari guru ke guru bersambung hingga Rasulullah SAW. Posisi ini berbeda dari koleganya di Mekkah, Kiai Nawawi Banten, yang digambarkan oleh salah satu disertasi dengan sikap netralnya terhadap organisasi tarekat. (Sri Mulyati, 1992: 38).

Faktor lain yang mendorong lahirnya sikap harmonisasi syariah-tarekat adalah usahanya untuk melindungi masyarakat awam dari kesesatan ajaran dari sebagian komunitas Jawa yang mengabaikan ajaran syariah dan mempelajari tarekat semata. Dalam konteks inilah kita membaca larangan Kiai Soleh terhadap masyarakat awam membaca suluk-suluk yang disusun oleh ahli tarekat-mistik Jawa, terutama yang mengajarkan untuk meninggalkan sembahyang wajib lima waktu. (Soleh As-Samarani, Majmūàt: 27). Ajaran ini juga dikhawatirkan Kiai Soleh mengantarkan seseorang memercayai bahwa jiwa mereka adalah Tuhan itu sendiri, salah satu pemahaman yang dinilai keliru dari waḥdatul wujūd. (Soleh As-Samarani, Majmūàt: 26).

Oleh sebab itu, beliau menilai penting sekali menjauhkan masyarakat awam dari mengkaji kitab-kitab waḥdatul wujūd, misalnya Tuḥfatul Mursālah and Al-Insānul Kamīl.  (Soleh As-Samarani, Majmūàt: 27). Tampaknya hal ini bukan karena isinya, karena ia tidak membicarakan konten, tapi dampaknya terhadap orang-orang awam. Dalam konteks ini ia berfatwa bahwa mencuri dan berzina jauh lebih baik daripada mengkaji yang diperuntukkan bagi para elit (khawwāṣ) (Soleh As-Samarani, Majmūàt: 27) . Jika para awam keliru dalam memahami kitab-kitab itu, maka mereka bisa tersesat jauh di mana mereka yakin menuju yang kebenaran. Kerusakan akal! Sedangkan jika mereka terjerumus ke perzinahan atau pencurian, kekeliruan itu terjadi adalah di ranah kerusakan moral.

Faktor paling penting dari lahirnya tendensi ini adalah sederhana. Hakikat Islam itu mencakup bagian kulit (exterior) dan bagian dalam (interior). Bagian terdalam dari yang terdalam ini adalah haqīqah. Seluruhnya tidak dapat dipisahkan. Bagi Kiai Soleh mereka diibaratkan seperti perahu, lautan, dan mutiara yang menjadi simbol bagi hubungan antara Islām, Īmān and Iḥsān.   (Soleh As-Samarani, Minhājul Atqiyā’: 43-45).

Konsep ini meniscayakan tingkatan makna dalam setiap ritual ibadah. Ambil sebagai contoh ajaran beliau tentang sembahyang. Selagi mendukung pentingnya aturan-aturan praktikal dalam shalat, Kiai Soleh menekankan agar orang yang shalat (mushalli) merefleksikan dirinya dalam setiap gerakan shalat. Soleh as-Samarani, Faṣālatan (Singapore: Matba’ Haji Muhammad Amin, 1897). Lebih lanjut beliau mengajarkan bahwa sangat penting seseorang sebelum shalat berwudhu untuk mensucikan “kotoran” badan dan batin. (Soleh As-Samarani, Laṭā’if al-Ṭahārah wa Asrār al-Ṣalāh dan Faṣālatan: 2).

Simpulannya adalah Kiai Soleh benar-benar sadar akan kondisi masyarakat awam di masa itu yang membutuhkan “ortodoksi” dalam melaksanakan ibadah. Ortodoksi ini bukan seperti yang dikesankan oleh sebagian peneliti muda bahwa ia dipengaruhi oleh Wahhabisme, tetapi ia dimotivasi oleh keterikatan erat dirinya dengan ajaran-ajaran Imam Al-Ghazali.

Ditambah lagi, ia juga didorong oleh kenyataan ajaran-ajaran yang menyimpang dari sebagian komunitas Jawa dalam memahami waḥdatul wujūd, yaitu dengan memutus tali rantai Islām, Īmān and Iḥsān. Kiai Soleh menekankan kembali bahwa ketiganya tidak terpisahkan satu sama lain.

*) Wakil Sekretaris PCINU Belanda. Kini ia tengah mengejar master di Vrije University Amsterdam dengan tesis Ajaran Tasawuf Kiai Soleh Darat.

KH Tolchah Hasan, Sosok Kiai Organisatoris

Prof Dr KH Muhammad Tolchah Hasan dilahirkan di Tuban Jawa Timur pada 1936, atau 79 tahun silam. Ia merupakan seorang tokoh yang multi dimensi, sebagai ulama, tokoh pendidikan, pegiat organisasi yang tekun dan juga seorang tokoh yang aktif di pemerintahan.

Sebagai seorang ulama, ia adalah sosok dengan keilmuan yang mendalam. Penguasaannya terhadap teks-teks agama ditunjukkan dengan aktivitasnya mengajar di pondok pesantren dan di berbagai perguruan tingi. Sebagai seorang tokoh agama ia juga mampu menciptakan pemikiran-pemikiran segar dalam pemahan terhadap agama. Buku populer yang ia tulis (disamping banyak karya yang lain) adalah “Ahlussunnah wal Jamaah dalam Tradisi dan Persepsi NU.”

Perannya sebagai ulama juga ditunjukkan dengan eksistensi Masjid Sabilillah di Singosari Malang yang dibangun bersama salah seorang founding father NKRI, KH Masykur. KH Masykur menunjuk Kiai Alumni Tebuireng ini sebagai ketua panitia pembangunan masjid itu. Kiai Tolchah mampu mengembangkan Masjid Sabilillah menjadi sebuah masjid yang tidak hanya menonjol sebagai tempat ibadah, melainkan tempat pengembangan masyarakat dengan memberdayakan masjid berperan dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat. Hal ini dutunjukkan dengan adanya sekolah mulai tingkat dasar sampai lanjutan, kegiatan sosial ekonomi dengan adanya Laziz Sabilillah, Poliklinik sebagai pusat kesehatan Masyarakat. Semuanya itu dikelolah dengan baik dibawah Masjid Sabilillah. Hal demikian ini menunjukkan bahwa KH Tolchah mampu mengembangkan masjid sebagai pusat peradaban seperti masa lalu.

Sebagai tokoh pendidikan, kepiawaiannya ditunjukkan dengan berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan yang ia rintis dan ia kembangkan. Tercatat bahwa sejumlah lembaga yang dia rintis dan ia kembangkan mampu berkembang menjadi lembaga pendidikan yang tumbuh maju dan pesat. Lembaga-lembaga pendidikan yang bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Agama Islam (YPAI) yang membawahi lembaga-lemabaga mulai dari SD/MI, SMP/MTs, SMA, MA dan SMK, adalah lembaga-lembaga pendidikan yang ia rintis dan ia kembangkan menjadi salah satu lembaga pendidikan yang maju saat ini di kabupaten Malang. Demikian pula halnya dengan Universitas Islam Malang (Unisma), sebuah universitas dimana ketika Kiai Tolchah menjadi rektornya, menjadi Perguruan Tinggi Percontohan Nahdlatul Ulama.

Demikian pula karakternya sebagai organisator. Kiai Tolchah merupakan Kiai yang juga tekun dalam masalah organisasi. Kegiatannya dalam organisasi yang dimulai semenjak di tebuireng ia kembangkan dalam Organisasi NU. Semenjak muda ia sudah pernah menjadi Ketua Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Pimpinan Cabang Kabupaten Malang pada era tahun 1960-an. Kelihaian dan ketekunannya dalam berorganisasi juga tampak dari lembaga-lembaga pendidikan yang ia bidani terorganisir secara sistematis dan rapi. Kiai Tolchah juga terlihat kemampuan baiknya dalam melakukan kaderisasi. Semua lembaga yang dirintisnya sudah dilepasnya untuk diserahkan kepengurusannya kepada tenaga-tenaga yang lebih muda.

Perannya dalam pemerintahan ia tunjukkan dengan pengalamannya sebagai Menteri Agama di era Gus Dur, dan ia juga pernah menjabat sebagai Badan Wakaf Indonesia (BWI). Di PBNU, KH Tholhah Hasan pernah mengemban amanah sebagai Wakil Rais Aam PBNU mendampingi KH Sahal Mahfudh. (Achmad Nur Kholis/Anam)

KH Maimoen Zubeir, Samudera Ilmu yang Rendah Hati

Di kalangan para ulama Nahdlatul Ulama, bahtsul masail diniyyah (pembahasan masalah-masalah keagamaan) merupakan forum untuk berdiskusi, bermusyawarah dan memutuskan berbagai masalah keagamaan mutakhir dengan merujuk berbagai dalil yang tercantum dalam kitab-kitab klasik.

Dalam forum seperti itu, diantara pondok pesantren yang amat disegani adalah Pondok Pesantren al-Anwar Desa Karangmangu, Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Bukan saja karena ketangguhan para santrinya dalam penguasaan hukum Islam, tapi juga karena sosok kiai pengasuhnya yang termasyhur sebagai faqih jempolan. Kiai yang dimaksud adalah KH. Maimoen Zubair.

Meski sudah sangat sepuh, alumnus Lirboyo dan Ma’had Syaikh Yasin al-Fadani di Makkah itu masih aktif menebar ilmu dan nasihat kepada umat. Di sela-sela kegiatan mengajarkan kitab Ihya Ulumiddin dan kitab-kitab tasawuf lainnya kepada pada santri senior setiap ba’da Shubuh dan Ashar, Mbah Moen, demikian ia biasa dipanggil, masih menyempatkan diri menghadiri undangan ceramah dari kampung ke kampung, dari masjid ke masjid, dari pesantren ke pesantren.

Dalam berbagai ceramahnya, kearifan Mbah Maimoen selalu tampak. Di sela-sela tausiyahnya tentang ibadah dan muamalah, ia tidak pernah lupa menyuntikkan optimisme kepada umat yang tengah dihantam musibah bertubi-tubi.

Beliau memang ulama yang sangat disegani di kalangan NU, kalangan pesantren dan terutama sekali kalangan kaum muslimin di pesisir utara Jawa. Ceramahnya sarat dengan tinjauan sejarah dan kaya dengan nuansa fiqih, sehingga membuat betah jamaah pengajian untuk berlama-lama menyimaknya.

Kiai sepuh beranak 15 (tujuh putra, delapan putri) ini memang unik. Tidak seperti kebanyakan kiai, ia juga sering diminta memberi ceramah dan fatwa untuk urusan nonpesantren. Rumahnya di tepi jalur Pantura tak pernah sepi dari tokoh-tokoh nasional, terutama dari kalangan NU, yang sowan minta fatwa politik, nasihat atau sekadar silaturahim.

Belum lagi ribuan mantan santrinya yang secara rutin sowan untuk berbagi cerita mengenai kiprah dakwah masing-masing di kampung halaman. Beberapa diantara mereka berhasil menjadi tokoh di daerah masing-masing, seperti al-Habib Abdullah Zaki bin Syaikh al-Kaff (Bandung), KH. Abdul Adzim (Sidogiri, Pasuruan), KH. Hafidz (Mojokerto), KH. Hamzah Ibrahim, KH. Khayatul Makki (Mantrianom, Banjarnegara), KH. Dr. Zuhrul Anam (Leler, Banyumas), KH. M. Hasani Said (Giren, Tegal), al-Habib Shaleh bin Ali Alattas (Pangkah, Tegal) dan masih banyak lagi.

Jika matahari terbit dari timur, maka mataharinya para santri ini terbit dari Sarang. Pribadi yang santun, jumawa serta rendah hati ini lahir pada hari Kamis, 28 Oktober 1928 (dalam hal ini masih terdapat perselisihan). Beliau adalah putra pertama dari Kyai Zubair. Seorang Kyai yang tersohor karena kesederhanaan dan sifatnya yang merakyat. Ibundanya adalah putri dari Kyai Ahmad bin Syu’aib, ulama yang kharismatis yang teguh memegang pendirian.

Mbah Moen adalah insan yang lahir dari gesekan permata dan intan. Dari ayahnya, beliau meneladani ketegasan dan keteguhan, sementara dari kakeknya beliau meneladani rasa kasih sayang dan kedermawanan. Kasih sayang terkadang merontokkan ketegasan, rendah hati seringkali berseberangan dengan ketegasan. Namun dalam pribadi Mbah Moen, semua itu tersinergi secara padan dan seimbang.

Kerasnya kehidupan pesisir tidak membuat sikapnya ikut mengeras. Beliau adalah gambaran sempurna dari pribadi yang santun dan matang. Semua itu bukanlah kebetulan, sebab sejak dini beliau yang hidup dalam tradisi pesantren diasuh langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri. Beliau membuktikan bahwa ilmu tidak harus menyulap pemiliknya menjadi tinggi hati ataupun ekslusif dibanding yang lainnya.

Kesehariannya adalah aktualisasi dari semua itu. Walau banyak dikenal dan mengenal erat tokoh-tokoh nasional, tapi itu tidak menjadikannya tercerabut dari basis tradisinya semula. Sementara walau sering kali menjadi

peraduan bagi keluh kesah masyarakat, tapi semua itu tetap tidak menghalanginya untuk menyelami dunia luar, tepatnya yang tidak berhubungan dengan kebiasaan di pesantren sekalipun.

Kematangan ilmunya tidak ada satupun yang meragukan. Sebab sedari balita beliau sudah dibesarkan dengan ilmu-ilmu agama. Sebelum menginjak remaja, beliau diasuh langsung oleh ayahnya untuk menghafal dan memahami ilmu sharaf, nahwu, fiqih, manthiq, balaghah dan bermacam ilmu syara’ yang lain. Dan siapapun zaman itu tidaklah menyangsikan, bahwa ayahnda Kyai Maimoen, Kyai Zubair, adalah murid pilihan dari Syaikh Sa’id al-Yamani serta Syaikh Hasan al-Yamani al- Makky. Dua ulama yang kesohor pada saat itu.

Kecemerlangan demi kecermelangan tidak heran menghiasi langkahnya menuju dewasa. Pada usia yang masih muda, kira-kira 17 tahun, beliau sudah hafal di luar kepala kiab-kitab nadzam, diantaranya al-Jurumiyyah, al-‘Imrithi, Alfiyyah Ibnu Malik, Matan Jauharatu at-Tauhid, Sullam al-Munauraq serta Rahabiyyah fi al-Faraidh. Seiring pula dengan kepiawaiannya melahap kitab-kitab fiqh madzhab Syafi’i, semisal Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Fath al-Wahhab dan lain sebagainya.

Pada tahun kemerdekaan, beliau memulai pengembaraannya guna ngangsu kaweruh ke Pondok Pesaantren Lirboyo Kediri (MHM), di bawah bimbingan KH. Abdul Karim yang terkenal dengan Mbah Manaf. Selain kepada Mbah Manaf, beliau juga menimba ilmu agama dari KH. Mahrus Ali dan KH. Marzuqi Dahlan.

Di Pondok Lirboyo, pribadi yang sudah cemerlang ini masih diasah pula selama kurang lebih lima tahun. Waktu yang melelahkan bagi orang kebanyakan, tapi tentu masih belum cukup untuk menegak habis ilmu pengetahuan.

Tanpa kenal batas, beliau tetap menceburkan dirinya dalam samudra ilmu-ilmu agama. Sampai pada akhirnya, saat menginjak usia 21 tahun, beliau menuruti panggilan jiwanya untuk mengembara ke Makkah al-Mukarramah. Perjalanan ini diiringi oleh kakeknya sendiri, yakni KH. Ahmad bin Syu’aib.

Tidak hanya satu, semua mata air ilmu agama dihampirinya. Beliau menerima ilmu dari sekian banyak orang ternama dibidangnya, antara lain as-Sayyid al-Habib Alwi bin Abbas al-Maliki, Syaikh Hasan al-Masysyath, Sayyid Amin al-Kutbi, Syaikh Yasin bin Isa al- Fadani dan masih banyak lagi.

Dua tahun lebih beliau menetap di Makkah al-Mukarramah. Sekembalinya dari Tanah Suci, beliau masih melanjutkan semangatnya untuk “ngangsu kaweruh” yang tak pernah surut. Walau sudah dari Arab, beliau masih meluangkan waktu untuk memperkaya pengetahuannya dengan belajar kepada ulama-ulama besar tanah Jawa saat itu. Diantara yang bisa disebut namanya adalah KH. Baidhawi (mertua beliau), serta KH. Ma’shum, keduanya tinggal di Lasem. Selanjutnya KH. Ali Ma’shum Krapyak Jogjakarta, KH. Bisri Musthofa, Rembang, KH. Abdul Wahhab Hasbullah, KH. Mushlih Mranggen, KH. Abbas, Buntet Cirebon, Syaikh Ihsan, Jampes Kediri dan juga KH. Abal Fadhal, Senori.

Pada tahun 1965 beliau mengabdikan diri untuk berkhidmat pada ilmu-ilmu agama. Hal itu diiringi dengan berdirinya pondok pesantren yang berada di sisi kediaman beliau. Pesantren yang sekarang dikenal dengan nama al-Anwar. Satu dari sekian pesantren yang ada di Sarang.

Selain mengajar dan berdakwah, ia masih sempat menulis kitab taqrirat (penetapan hukum suatu masalah) dan syarah (komentar atas kitab salaf). Kitab yang dibuatkan taqrirat olehnya, antara lain, Jauharat at-Tauhid, Ba’dh al-‘Amali dan Alfiyah. Sedangkan kitab yang dibuatkan syarah adalah Syarh al-‘Imrithi. Semuanya dicetak dalam jumlah terbatas untuk kalangan Pesantren al-Anwar dan beberapa pesantren lainnya.

Keharuman nama dan kebesaran beliau sudah tidak bisa dibatasi lagi dengan peta geografis. Banyak sudah ulama-ulama dan santri yang berhasil “jadi orang” karena ikut di-gulo wentah dalam pesantren beliau. Sudah terbukti bahwa ilmu-ilmu yang belaiu miliki tidak cuma membesarkan jiwa beliau secara pribadi, tapi juga membesarkan setiap santri yang bersungguh-sungguh mengecap tetesan ilmu dari beliau.

Tiada harapan lain, semoga Allah melindungi beliau demi kemaslahatan kita bersama di dunia dan akherat. Aamiin.

(Diambil dari www.islammoderat.com)

KH Muchith Muzadi, Tak Pernah Lelah Berjuang Bersama NU

Bagi warga NU masa kini, nama KH Muchith Muzadi menjadi legenda serta saksi hidup perjalanan perkembangan jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) dari masa ke masa.  Bagaimana tidak, kiai kelahiran Bangilan Tuban 90 tahun silam tersebut, memulai karir perjuangannya “secara resmi” di NU sejak tahun 1941.

Pada tahun itu, ia resmi menjadi anggota NU ditandai dengan kepemilikan kartu tanda anggota (Rasyidul ‘Adlawiyah). Kartu tersebut diperolehnya, saat ia menjadi santri Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari di Pondok Tebuireng Jombang. Sejak saat itu ia kemudian ikut termasuk dalam sebelas orang yang mendirikan Partai NU di Tuban (1952), lalu di tahun yang sama ia juga mengemban amanah sebagai Ketua GP Ansor Tuban.

Kepindahan tempat tinggalnya ke daerah lain, tak menyurutkan kakak KH Hasyim Muzadi ini untuk terus berjuang bersama NU. Sekretaris GP Ansor Yogyakarta (1961-1962), Sekrearis GP Ansor Kabupaten Malang dan Sekretaris PCNU Jember (1968-1975), wakil ketua PCNU Jember (1976-1980), Pengurus LP Ma’arif PWNU Jatim (1980-1985), Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim (1992-1995), Rais Syuriyah PBNU (1994-2004) dan Mustasyar PBNU sejak Muktamar NU ke-31 Boyolali (2004).

Bahkan ketika NU masih bersama Masyumi, Kiai Muchith tak ketinggalan untuk ikut mengabdi, antara lain sebagai Komandan Kompi Hizbullah merangkap anggota Badan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Tuban (1947-1951). Karirnya di dalam pemerintahan pun tak kalah mentereng, dirinya pernah menjadi Wakil Ketua Dewan Pemerintah Daerah (DPD), kemudian menjadi Sekretaris Daerah Kabupaten Tuban (1959-1961).

Meski demikian, Mbah Muchith tetap dikenal sebagai pribadi yang bersahaja. Segala jabatan yang diembannya, tak membuatnya tertarik untuk menumpuk banyak harta. Satu nasihat dari salah satu sesepuh NU,KH Munasir Ali. “Chith, dulu orang-orang tua masuk NU, niat ndandakno awak (memperbaiki diri),” kata Kiai Muchith menirukan ucapan Kiai Munasir.

Namun, sayangnya pesan tersebut kini banyak tak dijalankan para warga NU. “Orang (sekarang,-red) masuk NU itu bukan ndandakno awak tapi rebutan iwak (berebut kedudukan),” begitu gurauan Kiai Muchith.

Khittah NU

Keterlibatannya begitu besar, dalam perumusan konsep menjelang muktamar di Situbondo tahun 1984 yang kemudian memutuskan khittah jam’iyyah NU, kembalinya NU ke kancah perjuangan, meninggalkan dunia politik praktis. Bersama KH Achmad Shiddiq, Rais Aam Syuriyah PBNU (1984-1989), Kiai Muchith sering disebut sebagai sosok yang mewarnai pemikiran dan gagasan Kiai Achmad Shiddiq. Hampir semua ide-ide cemerlang Kiai Achmad disampaikan terlebih dahulu kepada Kiai Muchith untuk dikonsep dan diketik dengan baik, sebelum disebarkan ke khalayak. Termasuk konsep “Khittah NU, Islam dan Asas Tunggal” yang fenomenal.

Tak Kenal Lelah

Di usianya yang tak lagi muda, semangat tokoh satu ini untuk terus berjuang bersama NU, memang patut untuk kita tiru. Sebagai sesepuh dan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Mbah Muchith, tak pernah lelah untuk memberikan semangat kepada generasi penerus.

Seperti yang dikatakannya, saat menerima kunjungan dari para Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, beberapa waktu lalu, di rumahnya, Malang. “Cintailah kiai dan rawatlah NU,” pesan Mbah Muchit singkat.

Tak ada kata menyerah bagi Mbah Muchith. Dalam kondisi yang seperti itu, dia masih selalu aktif dalam berbagai kegiatan NU. Meski tempat acara itu, berada di Jakarta atau Surabaya, dia datang sambil duduk di kursi roda. “Mumpung aku isih urip (selagi saya masih hidup),” tuturnya. (Ajie Najmuddin)

Dikutip dari: nu.or.id

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Ulama Pelayan Umat

Suasana langit pada pagi di hari kedua Lebaran, Sabtu (18/7) lalu, cukup cerah bahkan menjelang siang tergolong terik. Namun, keadaan tersebut tak membuat luntur semangat orang-orang untuk hadir ke Majelis Kanzus Sholawat yang terletak di Jalan Dr. Wahidin No. 70 Pekalongan. Mereka hadir untuk mengikuti pengajian dan acara halal bi halal yang diselenggarakan rutin setiap tahunnya.

Usai membaca dzikir bersama dan mendengarkan mauidhoh hasanah, satu-persatu jamaah berbaris dengan tertib, menunggu giliran mereka untuk bersalaman dengan seorang tokoh yang mereka anggap sebagai seorang mursyid, guru dunia dan akhirat. Dialah Habib Luthfi, salah satu tokoh ulama yang kini menjadi Rais ‘Aam Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (JATMAN).

Ulama yang bernama lengkap Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya tersebut, dengan penuh kesabaran menerima tangan-tangan yang seakan tiada kunjung berhenti untuk bersalaman dengannya. Sesekali, seorang dari jamaah atau disebut para murid tersebut mengutarakan sesuatu kepada abah, panggilan akrab para murid kepada Habib Luthfi, entah mengemukakan sebuah pertanyaan atau meminta untuk didoakan.

Ketokohan Habib Luthfi di kalangan jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) ini tergolong begitu lengkap baik dari sanad keilmuan maupun nasab keturunan. Selain karena keilmuannya, ia mewarisi berbagai sanad thariqah mu’tabarah dari berbagai gurunya, secara nasab Habib Luthfi juga merupakan seorang keturunan tokoh pendiri NU, yang konon namanya tak mau disebut dalam sejarah pendirian NU.

Disampaikan Habib Luthfi beberapa tahun lalu dalam sebuah pengajian Harlah NU di Pekalongan, kakeknya yang bernama Habib Hasyim bin Yahya merupakan ulama, selain Mbah Kiai Kholil Bangkalan, yang dimintai restunya oleh KH Hasyim Asy’ari ketika hendak mendirikan NU.

Pelayan Umat

Habib Luthfi adalah sosok pelayan umat sejati. Dalam kesibukannya sebagai Ketua MUI Jawa Tengah dan pendakwah, setiap hari, rumahnya di kawasan Noyontaan Gang 7, Pekalongan, Jawa Tengah, selalu marak oleh tamu yang datang dari berbagai daerah di tanah air. Hampir 24 jam, pintu rumah ayah lima anak itu selalu terbuka untuk ratusan orang yang datang dengan berbagai keperluan. Mulai dari minta restu, mohon doa dan ijazah, sampai konsultasi berbagai problematika kehidupan. Biasanya mereka akan merasa tenang setelah mendapat nasihat.

“Mereka kan tamu saya, sudah menjadi kewajiban saya untuk menghormati tamu. Karena itu, saya selalu terbuka,” demikian jawab Habib Luthfi ketika ditanya tentang para tamunya.

Habib Luthfi juga menularkan ilmunya melalui majelis taklim yang digelar seminggu dua kali. Selain kajian mingguan, setiap ba’da Subuh hari Jumat Kliwon, Habib Luthfi juga membacakan kitab Jami’ul Ushul fil Auliya’.

Di antara tiga majelisnya, pengajian malam Rabu dan Jum’at pagi itulah yang selalu dihadiri ribuan umat hingga menutup Jalan Dr. Wahidin. Meski banyak mengkaji tasawuf, majelis taklim tersebut terbuka untuk siapa saja.

Satu hal yang khas, biasa disampaikan Habib Luthfi dalam setiap kesempatan ia mengisi ceramah pengajian di berbagai daerah, ia mendorong masyarakat untuk mencintai bangsa ini dengan setulus hati, serta menumbuhkan kebangaan akan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ditegaskan olehnya dalam sebuah acara pengajian, bagaimanapun keadaan bangsa ini, sejelek apapun kita mesti bangga dan mengakuinya sebagai tanah air. “Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku, ini lagu atau seremonial? Ini semestinya menjadi iqror, sejauh mana pengakuan kita terhadap Indonesia sebagai tanah airku. Tunjukkan Indonesia tanah airku, tidak hanya dalam lagu, tapi juga dalam perilaku,” tegasnya. (Ajie Najmuddin)

Dikutip dari : nu.or.id