Mbah Wahab, Merintis Tradisi Jurnalistik di NU

Sebelum generasi KH Saifuddin Zuhri, Asa Bafaqih hingga Mahbub Djunaidi, tradisi jurnalistik di lingkup Nahdlatul Ulama telah dirintis KH Wahab Hasbullah sejak awal berdirinya organisasi ini di tahun 1930-an.

Melalui media bernama Swara Nahdlatoel Oelama, KH Wahab Hasbullah atau biasa dipanggil Mbah Wahab bersama tokoh lain seperti KH Mahfudz Siddiq dan Abdullah Ubaid ikut mengelola majalah yang diterbitkan tiap tengah bulan ini

Kala itu Mbah Wahab bahkan memimpin perjalanan majalah ini selama tujuh tahun, sebelum akhirnya berganti nama menjadi Berita Nahdlatoel Oelama pada tahun 1934.

KH Abdul Aziz Masyhuri, Pengasuh pondok Pesantren Al-Aziziyyah. Desa Denanyar, Kabupaten Jombang dalam bukunya 99 Kiai Pondok Pesantren Nusantara (2006) menceritakan Mbah Wahab pernah membeli sebuah percetakan beserta gedung sebagai pusat aktivitas NU di Jalan Sasak 23 Surabaya. “Dari sini kemudian dia merintis tradisi jurnalistik modern dalam NU,” terangnya.

Kiai Aziz menambahkan hal tersebut dilakukan Mbah Wahab, dilandaskan pada sebuah pemikiran sederhana. “Yaitu bagaimana menyebarkan gagasan NU secara lebih efektif dan efisien yang selama ini dijalankan melalui dakwah panggung dan pengajaran di pesantren,” tuturnya.

Dari rintisan tradisi jurnalistik inilah, NU kemudian melahirkan beberapa generasi yang telah disebutkan di depan, serta memiliki berbagai media yang masih bertahan hingga sekarang, antara lain Duta Masyarakat, Risalah, dan bahkan merambah ke era digital NU Online.

(dilansir NU Online, 6 September 2014)

Belajar Kepemimpinan dari Monkey D. Luffy

Memutuskan menjadi seorang pemimpin memang bukan hal yang sulit. Tapi menjalankan amanat dan memanajemen organisasi dalam konteks kepemimpinan bukan hal semudah membalikkan telapak tangan.

Karakter dan prinsip seseorang akan diuji dalam menerima jabatan ini. Baik sebagai ketua lembaga, organisasi atau bahkan hanya sebagai koordinator kelompok kecil sekalipun. Karna tidak sembarang orang berhasil keluar dan lolos dengan selamat, dari cengkraman posisi ini.

Monkey D. Luffy, adalah sosok pemimpin sejati yang unik. Kapten Bajak laut yang menjadi tokoh utama dalam komik One Piece karya Eiichiro Oda ini, memiliki magnet kepemimpinan yang sangat luar biasa. Metode persahabatan yang dia gunakan saat menjadi seorang pemimpin, sama sekali tidak melunturkan citranya sebagai seorang kapten bajak laut.

Sekilas, si Topi Jerami ini tak terlihat seperti seorang pemimpin. Tapi jangan salah, sosoknya yang cenderung terlihat seperti anak bodoh ini sangat disegani dan dipatuhi oleh para anggotanya. Bahkan tak satupun anggota bajak laut yang dia pimpin, berniat melanggar apapun intruksinya. Lalu apa kunci dari metode kepemimpinan yang diterapkan Luffy?

Memandang Anggota sebagai Teman

Sebagai kapten, Luffy tidak pernah memposisikan anggota bajak laut yang dipimpinnya sebagai bawahan. Dia selalu memposisikan anggotanya sebagai teman yang memiliki posisi, tanggungjawab serta keahlian yang berbeda-beda. Namun semuanya tergabung dalam satu kesatuan sebagai tim.

Meski demikian, Luffy memiliki rasa tanggungjawab yang tinggi sebagai kapten dalam tim. Dia menjadi sosok yang selalu mencoba melindungi setiap anggotanya. Hanya satu alasan yang selalu dia lontarkan saat melindungi anggotanya, “karna dia adalah temanku”.

Rasa saling memiliki serta loyalitasnya yang tinggi kepada setiap anggotanya inilah, yang menumbuhkan rasa cinta serta kekompakkan tim. Setiap anggota terdorong untuk melakukan hal yang sama satu sama lainnya.

Tanggungjawab yang Tinggi

Meski terlihat menyebalkan dan bodoh, Luffy selalu ambil bagian pertempuran yang paling berat dan berbahaya. Tidak sepeti pemimpin pada umumnya yang cenderung hobi memberikan intruksi kepada anggota, dia selalu ambil bagian dalam menyelesaikan pertempuran atau dalam setiap masalah apapun.

Hal inipun mengajarkan kepada setiap anggotanya untuk sensitif terhadap segala situasi. Efeknya, jika tim tersebut dihadapkan oleh sebuah masalah, masing-masing anggota dengan sendirinya, akan mengambil bagian dan saling membantu tanpa harus diperintah.

Bijaksana

Secara kasat mata, Luffy sama sekali bukan sosok yang mencerminkan sikap bijaksana. Meskipun kerap plin plan, namun Luffy selalu mengambil keputusan tegas dalam situasi yang terdesak. Keputusan yang diambil memang kerap gila dan membuat anggotanya kesal bahkan marah, karna terpaksa harus mengikuti keputusannya sebagai kapten. Meski demikian, insting Luffy tak jarang meleset meskipun awalnya dianggap sebagai keputusan yang gila dan mustahil.

Luffy adalah sosok yang menghargai pendapat dan keinginan setiap anggotanya. Dalam berbagai kondisi, dia selalu memberikan kesempatan kepada setiap anggotanya untuk berpendapat dan menyelesaikan suatu hal. Inipun dia lakukan berdasarkan pemahamannya terhadap kemampuan serta keahlian dari masing-masing anggotanya.

Perlakuan yang dia terapkan pada setiap anggota tersebut pun, mampu menularkan sifat keterbukaan dan saling percaya dalam tim. Luffy juga merupakan sosok yang membebaskan setiap anggotanya untuk mengejar mimpinya masing-masing.

Berkarakter, Memiliki Prinsip dan Tulus

Karakter Luffy yang bandel serta prinsipnya yang tidak pernah takut apapun bahkan kematian, memancarkan aura kepemimpinan yang sangat sempurna. Ketulusannya dalam melindungi serta memimpin teman-temannya berlayar, menjadi magnet tersendiri bagi setiap anggotanya. Meskipun kerap bersikap seperti kekanak-kanakan yang menyebalkan, namun Luffy adalah sosok pemimpin yang tegas dan bijak.

Oleh Novriana Dewi (Penulis adalah tim manajemen pmii.or.id)

Khofifah, Dilahirkan sebagai Pelayan Ummat

Menteri Sosial, Menteri Sosial PMII, IPPNU

Khofifah Indar Parawansa lahir di Surabaya, 19 Mei 1965. Sejak muda aktif di berbagai kegiatan sosial dan organisasi sosial kemasyarakatan. Karena prestasinya, ia telah menerima beberapa penghargaan. Penghargaan yang cukup kuat dalam ingatannya yaitu sebagai tokoh penggerak masyarakat dari Islamic fair of Indonesia tahun 2011/1433 H.

Khofifah memang aktif dalam layanannya lintas area. Misalnya ia pernah menyelenggarakan Training of Trainer bagi tokoh lintas agama dalam membangun perspektif multi kultur dan harmoni kehidupan antar umat beragama di Makassar, Ternate, Ambon dan lain-lain. Semua daerah yang mengalami konflik sosial pernah ia datangi. Berbagai program multi kultur tetap menjadi bagian dari nafas kehidupannya sebagai warga bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Sebagai Ketua Umum PP Muslimat NU, ia juga pernah menyelenggarakan Training Of Trainer bersama Badan nasional Penanggulangan terorisme dalam pembentukan Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme di beberapa propinsi.

Tak hanya itu, alumni Unair ini memang rajin keliling ke berbagai daerah tertinggal, terluar dan terpencil untuk mengajarkan program kecakapan hidup. Secara keseluruhan lebih dari 79 kabupaten yang telah di kelilingi untuk menyemai program pemberdayaan ekonomi melalui program kecakapan hidup.

Bidang lingkungan hidup juga menjadi perhatiannya, ia secara terus menerus menyerukan kepada warga Muslimat NU dan warga masyarakat pada umumnya, di berbagai tempat dan kesempatan agar menjaga lingkungan hidup dan terus menanam. Tugas itu dilakukan dalam rangka menjalankan komitmen pelaksanaan Millenium Development Goals. Gerakan menanam pohon di lingkungan jaringan Muslimat NU se-Indonesia telah mencapai 1.8 juta pohon tahun 2003-2007. Karena itu, tahun 2011, Khofifah mendapat penghargaan dari Menteri Kehutanan atas kontribusinya.

Dalam hal pemberdayaan ekonomi perempuan, sejak tahun 1996 Khofifah memiliki komitmen untuk membangun koperasi. Hasilnya, tahun 2008, Muslimat NU telah berhasil membentuk Induk Koperasi, dan Khofifah sebagai inisiator Koperasi An-Nisa’ mendapatkan penghargaan dari Menteri Koperasi dan UKM. Penghargaan dari Kementerian Koperasi dan UKM juga diterima kembali pada tahun 2013.

Keprihatinannya pada perekonomian masyarakat dimulai saat ia 2 SMP. Dimana setiap sore, saat pulang mengaji ia melihat masyarakat harus membayar bank kredit yang bunganya tinggi. Keprihatinan tersebut akhirnya menginspirasinya membuat koperasi Simpan Pinjam. Persisnya, pada tahun 1984, ia mengajak anggota keluarganya untuk mengumpulkan uang sebagai awal dari embrio pembentukan Koperasi Simpan Pinjam. Kebetulan saat masuk di PP Muslimat NU tahun 1995, ia dipercaya sebagai Ketua Bidang Koperasi. Saat menjadi anggota DPR Periode 2004-2009, ia pun pernah menjadi Ketua Komisi VI (2004-2006) yang membidangi Industri, perdagangan, BUMN dan Koperasi. Selanjutnya mulai tahun 2010 menjadi Wakil Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia yang membidangi Pemuda, Wanita dan Hubungan Daerah, hingga sekarang.

Lima tahun terakhir, perempuan yang pernah menjadi aktivis PMII dan IPPNU ini juga rajin menghadiri berbagai pertemuan koperasi Internasional (ICA, International Cooperative Alliance). Sehingga jaringan dengan gerakan koperasi dunia dan gerakan koperasi nasional menjadi bagian dari upaya mewujudkan pemerataan kesejahteraan secara bertahap diharapkan bisa terwujud.

Dalam bidang kesehatan, melalui Global Alliance for Vaccine Immunization (GAVI) telah terlatih lebih 21 ribu kader kesehatan di tingkat desa. Melalui layanan kesehatan ini, ia telah mendapatkan penghargaan dari Menteri Kesehatan dua kali, yaitu tahun 2006 dan 2014 melalui jaringan layanan di Muslimat NU, serta penghargaan dari BKKBN tahun 2014. Sementara untuk layanan kesehatan, saat ini Muslimat NU telah mengelola 108 Rumah Sakit/Rumah Bersalin dan Klinik. Lima tahun terakhir yang di kembangkan adalah klinik hemodialisa untuk melayani pasien gagal ginjal.

Dibidang dakwah, ia terus menggerakkan jajaran Muslimat NU agar terus meningkatkan layanan  maupun berbagai upaya promotif-preventif, khususnya melalui lembaga Himpunan Daiyah dan Majelis Ta’lim di lingkungan Muslimat NU yang saat ini telah mencapai 59.650 lembaga.

Kerja sosial kemasyarakatan lainnya adalah melayani anak yatim, anak terlantar dan anak fakir miskin lainnya, baik melalui sistem panti maupun non panti. Saat ini, di bawah kepemimpinannya, Muslimat NU telah memiliki 103 Panti Asuhan dengan sekitar 6500 anak asuh dalam panti dan lebih 7500 anak non panti.

Di bidang pendidikan, sejak tahun 2000 Khofifah diamanatkan sebagai Ketua Umum Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial NU Khadijah Surabaya. Lembaga pendidikan tersebut saat ini mengasuh 2692 murid mulai PAUD-TK-SD-SMP –SMA. Khusus SD, SMP dan SMA sejak tahun 2011 telah mendapatkan ID 268 dari Cambridge University. Bahkan SMA Khadijah telah mendapatkan ISO 9001.

Di lingkungan Muslimat NU sendiri saat ini tengah mengelola 14.350 Taman Pendidikan Al-qur’an, 9.986 Taman Kanak-kanak dan Roudlotul Athfal, 4.622 lembaga Pendidikan Anak Usia dini, 1571 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat, dan  10 Balai Latihan Keterampilan. Dari berbagai aktifitas pendidikan ini, tahun 2008, ia mendapat penghargaan dari Kementerian Pendidikan Nasional, terkait dengan pemberantasan buta huruf melalui jaringan Muslimat NU.

Begitu banyaknya layanan di lingkungan Muslimat NU, maka setiap kunjungannya ke daerah layaknya anggota DPR. Selain konsolidasi organisasi, ia juga mengunjungi lembaga pendidikan, lembaga kesehatan, panti asuhan, koperasi, dan sebagainya. Khofifah sering menyebut dirinya bukanlah politisi yang baik. Ia merasa tidak suka dengan suasana yang sering sarat dengan berbagai interest yang berdampak pada konflik.

“Meskipun komunikasi dan intensitas aktifitasnya sering bersinggungan dengan politik, tetapi terhitung mulai tahun 2005, saya bukan menjadi bagian dari pengurus partai apapun. Rasanya melayani ummat lebih dekat dengan surga,” katanya.

Politik bagi khofifah seperti pepatah Imam Al Mawardi : Agama dan Kekuasaan itu seperti saudara kembar. Agama akan menjadi pondasi, dan kekuasaan akan menjaganya. Maka Politik menjadi bagian dari upaya menata kehidupan masyarakat, agama, bangsa dan negara.

Terkait dengan intensitas komunikasi politik yang dia lakukan, sebuah fenomena silaturrahim bersejarah terjadi pada 3 Mei. Jokowi datang ke kediaman Khofifah untuk melamarnya sebagai juru bicara. Hingga akhirnya ia dilantik sebagai Menteri Sosial Kabinet Kerja.

Untuk diketahui, Khofifah pernah menjabat sebagai menteri pemberdayaan perempuan dan kepala BKKBN para era presiden KH Abdurrahman Wahid tahun 1999-2001. Bukan hanya karena turut memenangkan pasangan Jokowi-JK, Khofifah memang layak menempati posisi menteri karena kemampuannya. Ia juga sosok yang bersih dan tak pernah berkasus.

Nama Khofifah bukanlah orang baru di kancah politik nasional. Aktivis perempuan ini sudah dikenal khalayak sejak masih muda. Bahkan di DPR, ia tercatat sebagai anggota DPR paling muda kala maju dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Namanya semakin dikenal publik kala membacakan pidato sikap Fraksi Persatuan Pembangunan (F-PP) dalam SU MPR 1998.

Pidato Khofifah itu sangat monumental karena merupakan pidato kritis pertama terhadap Orde Baru di ajang resmi selevel Sidang Umum MPR. Ia mengkritik Pemilu 1997 yang penuh kecurangan dan pertama kali ia memunculkan terminologi refomasi politik. Perempuan cerdas itu melontarkan ide-ide demokratisasi, ia berbicara lantang layaknya mahasiswa yang demo di jalan. Para anggota MPR yang didominasi Fraksi Karya Pembangunan (Golkar), Fraksi ABRI, dan Fraksi Utusan Golongan terperanjat dengan pidato yang menohok jantung Orde Baru itu.

Yang paling terkejut adalah Fraksi ABRI dan  Fraksi Karya Pembangunan. Maklum, yang dibacakan Khofifah sangat berbeda dengan naskah yang diterima oleh Cilangkap (Mabes ABRI) dari FPP. Di era Orba semua pidato di depan institusi resmi atau di depan publik terlebih dahulu diserahkan ke Cilangkap. Mengapa naskah pidato yang dibacakan Khofifah berbeda dengan yang diserahkan ke Cilangkap? Ternyata ada ceritanya. Setelah ditunjuk menjadi juru bicara FPP, perempuan kelahiran Surabaya itu menerima naskah pidato resmi. Salinan pidato itu juga diserahkan ke Cilangkap.

Khofifah mempunyai kebiasaan selalu membaca berulang-ulang sebelum tampil di muka umum. Bahkan, di rumahnya pun dia membuat simulasi. Isi pidatonya memang memuji-muji pemerintah Soeharto. “Bahkan, pembantu saya berkomentar, kok hanya memuji,” cerita Khofifah.

Sebelum dibacakan di depan MPR, naskah itu juga dibaca secara resmi dalam forum internal anggota FPP. Di depan koleganya itu, suara Khofifah tak keluar. Sejumlah anggota FPP langsung mengusulkan agar Khofifah diganti. Namun, beberapa tokoh senior FPP saat itu, seperti Yusuf Syakir, tetap mempertahankan Khofifah. Saat itu ia menjabat ketua FPP MPR RI. Lantas, Khofifah diajak bertemu dengan Ismael Hasan Metareum (Ketua Umum PPP) waktu itu.

Khofifah ditanya apa yang menyebabkan suaranya tak keluar. “Isi naskah tak sesuai dengan hati nurani saya,” jawab Khofifah. Dia tidak sreg dengan pidato yang isinya full memuji Orba itu. Lantas, para pemimpin PPP memutuskan merombak naskah pidato tersebut. Urusan merombaknya pun diserahkan kepada yang membaca. “Saya langsung merombaknya. Saya tulis sesuai dengan hati nurani dan obyektifitas secara empirik. Sekitar 90 persen isi naskah yang saya ganti,” cerita Khofifah.

Saat naik ke podium SU MPR, Khofifah begitu percaya diri. Dia berbicara dengan lantang. Mengkritisi gaya pemerintah yang mengekang demokratisasi. Mengungkit pemilu yang berada dalam kekangan pemerintah.

Para penonton TV di rumah yang saat itu sudah dijangkiti sikap apatis terhadap Orba pun bertepuk tangan. TV diperbolehkan siaran langsung karena salinan pidato Khofifah sudah diserahkan ke Cilangkap. Tapi, kenyataannya, pidato yang dibacakan perempuan lulusan Unair itu berbeda dengan yang berada di tangan para jenderal.

Turun dari panggung pidato, Khofifah disambut senyum kecut oleh para petinggi F-ABRI yang duduk di depan. Bahkan, sejumlah petinggi langsung menegurnya karena mengungkit-ungkit pemilu yang telah berlalu. Khofifah pulang ke Hotel, tempat dimana anggota MPR menginap. Namun, suami tercintanya, Indar Parawansa, meminta Khofifah beristirahat di rumah. Dia khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

Pidato Khofifah itu menjadi catatan sejarah. Itu pidato formal di forum formal yang secara terbuka mengkritik rezim Soeharto yang tengah berkuasa. Pidato yang mengangkat Khofifah menjadi politisi yang disegani di tanah air.

Perubahan peta politik pasca lengsernya orde baru membuat Khofifah keluar dari PPP. Merasa kiprahnya di dunia politik dihantarkan oleh NU, Khofifah dipanggil Gus Dur untuk diajak pindah ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai yang didirikan oleh Gus Dur dan tokoh-tokoh NU pada awal era reformasi.

Selanjutnya, Pada 1999 ia kembali duduk di DPR sebagai wakil PKB. Sinar karirnya terlihat semakin terang saat ditunjuk sebagai Wakil Ketua DPR RI, berjalan 22 hari ditunjuk sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan kepala BKKBN.

Bagi Khofifah partai adalah kendaraan. Sementara NU adalah rumah. Karena itu, meski aktif di partai, Khofifah tetap mendedikasikan hidupnya untuk NU, organisasi yang selama ini berperan besar membesarkan namanya. Hingga kini, Khofifah masih dipercaya menjadi Ketua Umum Muslimat NU, organisasi perempuan terbesar di Indonesia dengan anggota sekitar 22 juta dan Muslimat NU tercatat sebagai organisasi paling solid di NU.

Muslimat NU saat ini memiliki 144 koperasi primer, 19 puskop dan induk koperasi;108 rumah sakit, rumah bersalin dan klinik; 104 panti asuhan, 9.986 TK/RA, 4.622 Pendidikan Anak Usia Dini. 14.350 Taman Pendidikan Al-qur’an. 59.650 kelompok Majelis Ta’lim.

Zamroni Tokoh Gerakan Yang Inspiratif

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dalam perjalanannya sudah banyak melahirkan tokoh-tokoh nasional dan cukup mewarnai dalam dinamika perpolitikan yang terjadi di Indonesia dengan visi perubahan bangsa, Mahbub Junaidi, Muhammad Zamroni, Surya Dharma Ali, Muhaimin Iskandar, Nusron Wahid, Malik Haramain dll. nama-nama tersbut adalah sebagian tokoh yang pernah merasakan dinamika organisasi yang bernama PMII, tapi dari sekian banyak tokoh yang dilahirkan oleh PMII masih ada yang dilupakan oleh kader-kader PMII sendiri yang semestinya harus dijadikan spirit dalam membangun PMII yang lebih bermartabat bagi kader PMII maupun bagi organisasi.

 

Sahabat Muhammad Zamroni adalah tokoh yang tidak banyak masyarakat tau, bahkan nama yang lebih akrab di panggil Sahabat Zamroni ini tidak terlalu populer dimata kaum pergarakan, padahal jasa-jasa yang dilakukan oleh Zamroni tidak kalah penting untuk dijadikan sebuah motivasi dan spirit gerakan PMII kedepannya, mantan ketua umum PB. PMII pada tahun 1967-1970 ini hanya lebih dikenal sbagai ketua umum PB. PMII setelah Sahabat Mahbub Junaidi tapi banyak kalangan tidak mengenal sebagai sosok atau tokoh gerakan nasional, bahkan nama Muhammad Zamroni menghilang begitu saja.

 

Disadari atau tidak, terjadinya aksi besar-besaran pada tahun 1966 yang mengatasnamakan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) adalah buah keringatnya Sahabat Zamroni bersama mahasiswa-mahasiswa yang tersebar di Indonesia dan sahabat Zamroni dipilih sebagai Ketua Presidium KAMI Pusat (Mulai pertama dibentuk sampai bubar), KAMI adalah motor gerakan mahasiswa angkatan 66 yang bertujuan untuk merobohkan rezim orde lama (orla), yang pada saat itu Ir. Soekarno sebagai presiden yang memakai sintem terpimpin. Zamroni juga ditengarai sebagai tokoh yang menginspirasi setelah Ir. Soekarno. keberhasilan dalam menumbangkan rezim orde lama tidak terlepas dari tokoh-tokoh pada masanya dan Zamroni adalah seorang pemberani untuk mmerangi segala ketidakadilan di bangsa ini.

 

Tokoh muda pada masanya memberikan inspirasi tersendiri bagi kalangan kaum pergerakan (PMII) karena dia satu-satunya Ketua Umum PB. PMII yang dipilih tanpa kehadirannya di lokasi kongres, karena pada waktu Zamroni lagi di Tokyo – Jepang, dalam rangka operasi jari tangan kanan akibat kecalakaan mobil sewaktu konsolidasi KAMI ke daerah Serang. Tokoh yang fenomenal dalam perkembangan PMII ini sangat memberikan nuansa yang “Berani dan Kritis”

 

Perjalanan Zamroni tidak hanya berhenti pada kepuasan dalan meruntuhkan Rezim Orde Lama, tapi Zamroni adalah sosok yang sangat memperhatikan keberlangsungan organisasi (PMII) dalam menapaki masa depan organisasi. Pada masa kepemimpinan sahabat Zamroni yang ke dua inilah PMII menyatakan diri “Independen”, (dicetuskan di MUBES II di Murnajati Lawang Malang 1972). Dialah penggagas Independensi PMII. Pada masa kepemimpinan sahabat Zamroni inilah PMII berkembang sangat pesat terutama jika dilihat dari segi banyaknya Cabang-cabang yang ada, tidak kurang dari 120 cabang yang hidup diseluruh Indonesia. Suatu prestasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sangat sulit terulang kembali hingga sekarang ini.

 

Dari berbagai jasa-jasanya yang telah jadi inspirasi bagi kader PMII maupun bagi tokoh gerakan masa kini, sangat tidak pantas kalau perjuangannya hanya dimaknai dengan memperingati semacam open ceremony, tapi gambaran gerakan yang dilakukan oleh Muhammad Zamroni harus dijadikan spirit gerakan dalam menapaki perubahan bangsa. Tokoh Gerakan pemeberani seperti Zamroni tidak banyak orang yang menuliskan tentang Gerakan dirinya, semangat gerakannya hanya terdengar dari sebuah cerita-cerita kecil dari sebuah forum-forum dan seminar-seminar tentang gerakan nasional. baru disadari bahwa Zamroni adalah tokoh yang mulai menghilang.

 

Drs. HM. Zamroni bin Sarkowi, Berpulang ke Rahmatullah pada dini hari pukul 03.00 WIB, Hari Senen Tanggal 5 Februari 1996, di RS Fatmawati Jakarta Selatan karena sakit sesak pernafasan dan stroke yang diderita sejak lama. Meninggalkan seorang Isteri, 3 (tiga) orang putra-putri dan 4 (empat) orang cucu. Dimakamkan di Pemakaman Khusus Tanah Kusir Jakarta.

 

(Sumber: http://anthokmerdeka.blogspot.com)

Sekelumit Tentang KH Wahab Chasbullah

Bernama lengkap KH Abdul Wahab Chasbullah, lahir di Jombang, 31 Maret 1888. Ia wafat tanggal 29 Desember 1971 pada umur 83 tahun. Mbah Wahab (panggilan oleh warga nahdliyin) merupakan ulama besar dan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama. Ia sosok ulama yang yang berpandangan modern serta menggunakan metode modern dalam dakwahnya. Hal tersebut dibuktikan dengan mendirikan harian umum “Soeara Nahdlatul Oelama” atau Soeara NO dan Berita Nahdlatul Ulama.

Ia belajar di Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Mojosari Nganjuk, Pesantren Tawangsari Sepanjang, belajar pada Syaikhona R. Muhammad Kholil Bangkalan Madura, dan Pesantren Tebuireng Jombang di bawah asuhan Hadratusy Syaikh KH. M. Hasyim Asy‘ari. Disamping itu, Kyai Wahab juga merantau ke Makkah untuk berguru kepada Syaikh Mahfudz at-Tirmasi dan Syaikh Al-Yamani dengan hasil nilai istimewa.

Selain memiliki pemikiran dan metode dakwah modern, Mbah Wahab juga merupakan pelopor kebebasan berfikir. Ia merupakan seorang ulama yang menekankan pentingnya kebebasan dalam keberagamaan terutama kebebasan berpikir dan berpendapat. Untuk itu kyai Abdul Wahab Hasbullah membentuk kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) di Surabaya pada 1914.

Tahun 1916 mendirikan Organisasi Pemuda Islam bernama Nahdlatul Wathan, kemudian pada 1926 menjadi Ketua Tim Komite Hijaz. Mbah Wahab juga seorang pencetus dasar-dasar kepemimpinan dalam organisasi NU dengan adanya dua badan, Syuriyah dan Tanfidziyah sebagai usaha pemersatu kalangan Tua dengan Muda.

Ia pernah menjadi Panglima Laskar Mujahidin (Hizbullah) ketika melawan penjajah Jepang. Pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Kiai Wahab bersama Hasyim Asy’ari dari Jombang dan Kiai Abbas dari Cirebon merumuskan Resolusi Jihad sebagai dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan. (baca: 22 Oktober, Hari Perjuangan Nasional yang Terlupakan / http://www.pmii.or.id/22-oktober-hari-perjuangan-nasional-yang-terlupakan/ ). selain itu Mbah wahab juga tercatat sebagai anggota DPA bersama Ki Hajar Dewantoro.

Mbah Wahab juga merupaka pelopor berdirinya Gerakan Pemuda Ansor. Dimulai beridirinya Syubanul wathan (Pemuda tanah Air) pada tahun 1924. Inilah yang kemudian menjadi embrio Gerakan Pemuda Ansor setelah sebelumnya mengalami perubahan nama seperti Persatuan Pemuda NU (PPNU), Pemuda NU (PNU), dan Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO).

Nama Ansor merupakan saran KH Abdul Wahab Hasbullah, yang diambil dari penghormatan yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan agama Allah.

 

*Dikumpulkan dari berbagai sumber oleh Ahmad Miftahul karomah (Ketua PB PMII Bidang Media dan Komunikasi Publik)

Kisah Menaker Hanif Sebagai Anak TKI

Hanif DakhiriSebagai Menteri Ketanagakerjaan, Hanif Dhakiri ternyata sempat ditinggalkan ibunya untuk mencari nafkah di Arab Saudi sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

 

“Saya juga anak TKI, Ibu saya enam tahun di Saudi Arabia,” ujar Hanif dikutip dari detikcom, Selasa (4/11).

 

Politisi PKB ini mengkisahkan masa kehidupan masa kecilnya yang jarang didampingi oleh ibundanya. Pria kelahiran Salatiga 42 tahun lalu itu, menuturkan ibundanya dua kali berangkat ke Arab Saudi sebagai TKI. Periode pertama ibunya berkerja selama dua tahun. Sempat kembali ke Indonesia, lalu sang ibunda kembali mencari nafkah di Arab selama empat tahun.

“Berangkat kedua ketika saya SMP. Jadi masa kecil saya tidak didampingi ibu,” ujar Hanif.

 

Saat dirinya terpilih sebagai Menteri Ketenagakerjaan, ibunya sangat terharu. Menurut Hanif, tangisan sang ibu di satu sisi merupakan kebanggaan, dan disisi lain bentuk kekhawatiran, karena tugas menjadi menteri ketenagakerjaan bukanlah tugas yang mudah.

 

“Ibu saya nangis, nangisnya itu satu sisi ada kebanggaan, karena betapapun kami ini orang desa, kemudian secara ekonomi pas-pasan, dia juga pernah terlunta-lunta di Arab Saudi. Sisi lain ada juga kekhawatiran karena itu bukan tugas yang mudah,” tuturnya.

Dengan latar belakang itu, Hanif yang semasa kuliah juga aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) punya komitmen kuat untuk memperbaiki dunia ketenagakerjaan Indonesia, khususnya soal TKI. Ia berkomitmen untuk mengimplementasikan visi Presiden Jokowi di dunia ketenagakerjaan Indonesia.

“Indonesia perlu revolusi mental ketenagakerjaan,” pungkasnya.

Sosok Shaimoery, Pencipta Mars PMII

20141104_170308

Memiliki nama lengkap Shaimoery Wignjo Soebroto, lahir pada tanggal 1 Agustus 1930 di Tuban Jawa Timur. Shaimorey adalah anak pasangan Boediharjo dan Ibu Siti Romlah asal Tuban, Jawa Timur. Ia mendapatkan gelar Sutan Indra Kesuma (diberikan ninik mamak Tanah Datar yang berdomilisi di Sungai Penuh, Kerinci). Shaimoery menikah dengan Rosma anak dari Bapak M. Arif dan Ibu Siti Roliyah.

Shaimoery WS merupakan pencipta Mars Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia bersama Mahbub Djunaidi. Kiprahnya di PMII sebagai generasi pertama dan perintis PMII di kampus kerakyatan, UGM Yogyakarta. Ia aktif menjadi Pengurus Komisariat Fakultas Sosial Politik UGM Yogyakarta antara tahun 1962 hingga 1964.

Di Tuban, ia bersekolah di HIS (Hidayat Islamiyah School). Sekolah ini akhirnya bubar setelah Belanda jatuh ke tangan Jepang pada tahun 1942. Selanjutnya Shaimoery masuk kelompok Pemuda Seinandan yang dilatih militer dan ia berhasil menjadi juara istimewa nomor 1 dan langsung dintunjuk sebagai Seinin Gakko.

Memasuki zaman kemerdekaan, mulai 17 Agustus 1945 ia dikenal sebagai komandan seksi dengan pangkat Letnan II pada Barisan Hizbullah III, Regimen VI dan Divisi Sunan Ampel Jawa Timur. Kemudian pindah menjadi staf Batalyon sampai dengan 1948. Kemudian melanjutkan sekolah SMA Nasional Jurusan A, tamat tahun 1953.

Semasa Agresi Belanda Pertama, ia bertugas sebagai tentara (hizbullah) dan front terdepan di Surabaya. Selanjutnya pada masa Agresi II, dia bergabung dengan Pemerintahan Militer Manisrenggo dan Prambanan Kabupaten Klaten sampai DI Yogyakarta dikembalikan kepada RI tepatnya tanggal 19 Desember 1949.

Sebelum menjadi mahasiswa Shaimoery menjadi guru di SMA Negeri Sungai Penuh (Kerinci) dari tahun 1956-1960 dan mendirikan SMA Harapan di Sungai Penuh. Kemduian melanjutkan pendidikan di Universitas Gajah Mada Yogyakarta tahun 1960-1964 pada Fakultas Sosial dan Politik Jurusan Admministrasi Negara.

Setelah selesai pendidikan di UGM,  ia bertugas di Kantor Gubernur Sumatera Barat. Setelah beberapa jabatan di Lembaga Daerah dan Biro-Biro serta terakhir sebagai Walikota Sawahlunto dan pensiun. Memasuki masa pensiun ia tetap aktif sebagai penatar BP-7 Provinsi Sumatera Barat dan dosen luar biasa pada STIA, AKOP, Fisipol, dll. Selain itu juga sebagai Ketua Koperasi Wredatama Kota Padangdan kegiatan sosial lainnya sampai akhir hayatnya.

Shaimoery adalah seorang aktivis sejati. Ia berkecipung di berbagai organisasi dan lembaga, baik yang notabene organisasi ke-NU-an ataupun lembaga-lembaga lainnya. Berikut adalah aktivitas keorganisasian yang pernah ia geluti:

Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia Cabang Tuban, 1946 – 1948

Ketua Pelajar Islam Indonesia Cabang Tuban 1945 – 1948

Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Fakultas Sosial Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 1962 – 1964

Pembina PMII Cabang Sumatera Barat di Padang 1964 – 1970

Ketua III Pimpinan Wilayah NU Sumbar 1968 – 1969

Ketua Dewan Pembina Golongan Karya Sawahlunto 1971 – 1983

Ketua Dewan Pembinan Legiun Veteran Sawahlunto 1972 – 1983

Ketua Dewan Masjid Indonesia Propinsi Sumatera Barat 1985 – 1999

Wakil Ketua Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) Propinsi Sumatera Barat 1988 – 1993

Pembina PMII Propinsi Sumatera Barat 1984 – 1994

Ketua Yayasan Al Islam Padang 1984 – 1999

Anggota Dewan Pertimbangan Kosgoro Sumbar 1985 – 1999

Anggota Dewan Pertimbangan MUI Sumbar 1985 – 1987

Ketua Pimpinan Wilayah Nadhlatul Ulama Sumbar 1994 – 1999

Dewan Komisaris Yayasan Al Islam 1999 – 2004

Komandan Seksi Hisbullah Bat. III Reg. IV Divisi Sunan Ampel Tuban Jawa Timur 1945 – 1947 (Semasa agresi Belanda)

Staf Bat III di Tuban waktu Agresi I 1947-1948

Staf Pemerintahan Militer Kecamatan Di Manisrenggo dan Klaten Jawa Tengah Angresi Militer II 1948-1950

Staf Mobilisasi Pelajar Tuban Jawa Timur 1950

Direktur SMA Negeri Sungai Penuh Kerinci 1958-1960

Staf Sekretariat Komando Pelaksana Daerah Perbatasan (Kopedasan) 1964-1965

Wakil Sekretaris Badan Koordinasi Pemangunan Daearh (Bakopda) Sumatera Barat di Padang 1965-1966

Kepala Biro Pembangunan Daerah Sumbar di Padang 1966-1968

Kepala Biro Pemerintahan Umum Kantor Gubernur Sumbar 1968-1969

Kepala Biro Desentralisasi dan Tata Hukum Kantor Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Barat 1969-1970

Menjabat Walikotamadya Daerah Tingkat II Sawahlunto Sumatera Barat, tiga periode 1970-1983

Kepala Biro Pemerintahan Umum 1983-1986

Ketua Koperasi Wredatama Kota Padang 1988 – 2004

Shaimoery wafat pada hari Jum’at, 18 Februari 2005 pukul 03.00 WIB di RS M. Jamil Padang, dimakamkan di Pemakaman Umum Tunggul Hitam, Padang, Sumatera Barat. Meninggalkan seorang istri dan 7 orang anak sebagai berikut:

Sri Widati

Haryantina

M. Hidayat

Susi Muhardini

Eva Yulia

Ahmad Drajat Bara Putra

M. Hendy Sucitra

Shaimoery merupakan sosok yang sederhana. Berikut beberapa pesannya sebelum wafat kepada keluarga:

“……dalam mencari rezeki yang wajar-wajar sajalah, jangan sampai termakan barang yang tidak halal. Yakinlah dengan jalan ini, hidup kita akan tenang, walaupun ditinjau dari segi materil kita hidup sederhana, namun ada ketengangan, sehingga kita bias makan lamak dan tidurpun nyenyak…”

“….warisan harta mungkin tidak seberapa yang bias diharapkan dan itupun akan habis binasa di dunia fana ini….tetapi amal ibadah dan amal shaleh akan kekal sampai di akhirat kelak….”

“….bagi yang telah mampu, ayo segera tunaikan ibadah haji/umroh. Gunakn kesempatan baik tersebut untuk mendapatkan keridhaan dari Allah SWT dan mohon ampun atas segala dosa kita…”

Semoga Almarhum Sahabat Shaimoery WS bangga dan bahagia melihat PMII tetap eksist dan terus berkembang hingga saat ini. Dan semoga ia mendapatkan tempat terbaik disisi Allah. Amin.

*Dikumpulkan dari berbagai sumber oleh Ahmad Miftahul Karomah

Susi Pudjiastuti, Kini Seorang Menteri

Susi Pudjiastuti

Diangkatnya Susi Pudjiastuti sebagai menteri kelautan dan perikanan sontak mengundang pro dan kontra di masyarakat. Hal yang diperdebatkan ialah terkait jenjang pendidikan formalnya yang hanya sampai pada tingkat SMP. Ia pernah mengenyam pendidikan menengah atas namun hanya sampai kelas II. Agaknya, Jokowi-JK punya pertimbangan sendiri sehingga mendelegasikan Ibu Susi sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Jika ukuran kinerja menteri adalah profesionalitas, lantas anggapan sekarang semakin tinggi tingkat pendidikan sesorang maka semakin professional apa masih berlaku?

Penulis tidak mencoba mendikotomi antara orang tidak sekolah dan yang sekolah, toh kecerdasan itu relati. Mari kita merenungkan kembali, apakah Ibu Pudjiastuti diangkat sebagai Menteri sudah tepat?, Biar waktu yang akan menjawabnya.

Kini, kita harus bisa bertanggungjawab untuk menjelaskan ke anak cucu bahwa sekolah itu tetap “penting”. Memang ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua, pendidik, dan seluruh stake holder kedepannya. Dengan diangkatnya Ibu Susi Pudjiastuti sebagai Menteri, semoga tidak semakin banyak orang tua yang memilih menikahkan dan menyuruh anaknya bekerja di usia dini dibanding menyekolahkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Di masyarakat masih sering kita temukan orang tua yang pikirannya konservatif yang beranggapan bahwa “sekolah untuk dapat kerjaan, daripada menghabiskan waktu bertahun-tahun ujungnya kerjaan, bukankah lebih baik langsung kerja dan tidak menghabiskan waktu lama?”. Mereka lebih mementingkan kerjaan dibanding sekolah, kekhawatiran penulius, dengan diangkatnya Ibu Susi sebagai Menteri maka akan dijadikan contoh dan pembenaran di masyarakat. Pembenaran untuk menjustifikasi bahwa yang mereka lakukan selama ini memang tepat.

Jika demikian, dalam kurun waktu 5 tahun ke depan, jangan salahkan jika masyarakat beranggapan bahwa sekolah formal tidak lagi penting atau dengan kata lain dihilangkan. Cukup melihat profesionalitas tiap individu untuk mengelola semuanya. Atau yang lebih ekstrim lagi “dunia pendidikan” yang selama ini mewajibkan kualifikasi pendidikan formal minimal setingkat di atasnya juga dihapuskan. Cukup melihat apakah seseorang mampu dibidangnya atau tidak. Ini merupakan cambuk untuk para pendidik agar mampu menjawab tantangan kedepannya. Juga sebagai “pembanding dan penyeimbang”, bagaimana mental akademisi, pengusaha, dan orang-orang yang masuk jajaran Kabinet Kerja Jokowi-JK. Apakah mampu bertahan hingga akhir dalam mengawal Indonesia, atau malah menjadi penghangat kursi pesakitan di pengadilan TIPIKOR. Semoga mereka tetap bersinergi dalam membangun Indonesia, bukan bersinergi untuk korupsi.

Begitu terdapat nama Susi dalam jajaran Kabinet Kerja. Sontak membuka lebar mata masyarakat. Di media sosial dengan cepat muncul foto Susi Pudjiastuti yang didampingkan dengan Atut Chosiyah. Pada gambar Ibu Susi ditulis “perokok, bertato, 2 kali kawin cerai, begajulan, tidaak berjilbab, tidak lulusSMA”. Sedangkan pada gambar Ibu Atut ditulis “tidak perokok, tidak bertato, tak kawin cerai, santun, berjilbab, pendidikan tinggi”. Dapat disimpulkan bahwa meski banyak kelebihan yang dimiliki Atut dan dianggap pantas sebagai pejabat, namun berakhir di kursi pesakitan. Semoga Ibu Susi tidak menyusul Ibu Atut untuk hal yang terakhir. Meski Jokowi-JK memiliki pertimbangan sendiri, namun masyarakat juga memiliki pertimbngan sendiri dalam berkomentar.

Munawwir Arafat

Penulis: Munawwir Arafat

Penulis adalah Ketua PB PMII Bidang Pendidikan, Riset dan Teknologi

Malala : The Real Youth Activist Leader

Malala

Malala Yousafzai is 17 years old girl who was born on July 12th 1997 in Mingora, Pakistan. She comes from a Sunny Moslem family. She lived with her father and her two brothers. Her father was a school owner and also an educational activist in her region. When she was a child, she wanted to be a doctor. But, her father taught her as a politician. Her father saw her as a special child. She liked to stay up at night to talk about politics with her father and also about the educational condition in her region. Her first speaking about educational right was in a local press club when her father took her in Peshawar.

Malala grew in a region which banned girls attending the school. The local Taliban was the community which has the authority to do this in Swat Valley. When most of the people were afraid to against Taliban, even wrote some articles about the condition in it. Malala agreed to write the diary writing which talked about the educational condition in her region and also how Taliban tried to take control of it. In addition, she also offered her point of view in promoting education for the girls in Swat Valley. She wrote her writing on her blog helped by BBC editor.

Her writing got harsh responses from the Taliban. The school girls were closed and some of them were destroyed. Surely, it gave bad effects for the girls to get their education and also broke their education rights. The Taliban harsh responses never stopped her spirit to continue her writing. Furthermore, her father as an educational activist supported her fully in doing it. Unfortunately, his courage must be paid by his death by the Taliban commander.

His father’s death made her spirit arose and arose. Then, she decided not to be a doctor. As she deeply inspired her father as an educational activist, she changed her dream to be a politician. Sooner, she said that she wanted to be a politician because there are so many crises and she wanted to remove the crises that happen in her country.

In her early carrier as a politician, she appeared in some social media to talk about the girls educational rights. Her identity on her blog diary writing was arisen in a magazine. She became popular and popular. Some media invited her to be a speaker to talk about the education rights for the girls and also how to advocate it. The Taliban knew about her identity in her writing on blog. They thought about revenging what Malala did before in Swat Valley. It happened when Malala came home by bus. They shot Malala. She got medical treatment because of her bad injured. She was coma for a few days. Then, she came out for her coma, but still had a five-hour operation to reconstruct her skull and restore her hearing.

She never stopped to fight the girl educational rights. She did it continuously. She did her advocacy called Yousafzai. She spoke to United Nations, Harvard University, and also met some of the important people who can help her to solve the problems. Some of them were The Queen Elizabeth II and President Barrack Obama. As her efforts to fight the women rights equality in her region which inspired the other regions that have the same issues, Malala got some awards. The most impressive awards were the Nobel Peace Prize on October 2014. Because of this, She was dedicated to be the youngest girl who ever got this Nobel. Secondly, she included in 100 most influential people in the world based on Times in 2013.

Malala is the real leader for youth activists in the world. Her spirit and achievements have big influenced to the youth. She also inspires the people to think and act socially to the people around them and their countries. As the women youth organization, KOPRI really appreciates her efforts in doing these. Her presence as an educational women activist has become a big spirit for KOPRI to be more focus to participate in solving the women social problems. Hopefully, KOPRI will be able to give birth more to cadres who have life activists like Malala in Indonesia.

Written By:

Karsinah

Karsinah

The Secretary of International Relationship

KOPRI PB PMII

2014 – 2016

Mahbub Djunaidi, Sang Pendekar Pena

Meskipun bukan kelahiran Solo, namun di Kota Bengawan inilah awal bakatnya di dunia tulis menulis mulai tampak. Ia memulai karier menulisnya ketika Ia duduk di bangku Sekolah, sebagai Redaktur majalah Sekolah Dasar di Solo.

Mahbub Junaidi, Sosok kelahiran Jakarta 27 juli 1933 ini memang begitu gemar menulis, bahkan ia pernah berstatemen, “Saya akan menulis dan terus menulis hingga saya tak mampu lagi menulis.”

Ia adalah anak pertama dari 13 Saudara kandungnya. Ayahandanya  H. Djunaidi  adalah tokoh NU dan pernah jadi anggota DPR hasil Pemilu 1955. Keluarganya harus mengungsi ke Solo karena kondisi yang belum aman pada saat awal kemerdekaan. Di Solo, ia menempuh pendidikan di Madrasah Mambaul Ulum. Di tempat itu Mahbub diperkenalkan tulisan-tulisan Mark Twain, Karl May, Sutan Takdir Alisjahbana, dan lain-lain. “Masa-masa itulah yang sangat mempengaruhi perkembangan hidup saya,” cerita Mahbub.

Saat Belanda menduduki Solo tahun 1948, Mahbub Junaidi dan keluarganya kembali ke Jakarta.  Di Jakarta ia kemudian melanjutkan pendidikannya, masuk ke SMA Budi Utomo. Di sekolah barunya bakat menulis yang dimilikinya semakin terasah. Ia sering menulis sajak, cerpen, dan esei. Tulisan-tulisannya banyak dimuat majalah Siasat, Mimbar Indonesia, Kisah, Roman dan Star Weekly. Bakatnya ini terus berlanjut hingga ia menjadi mahasiswa, organisatoris, kolumnis, sastrawan, jurnalis, agawaman, poltisi dan sebagainya. Ya, selain sebagai seorang penulis, sosok yang satu ini juga dikenal sebagai tokoh yang multitalenta.

Dalam hal tulis-menulis Mahbub temasuk sangat piawai pada masanya, misalnya beliau yang menerjemahkan buku 100 tokoh yang berpengaruh di dunia karangan Michael H. Hart. Pun, dalam menulis kolom, Mahbub sangat terkenal dengan bahasa satire dan bahasanya yang humoris. Bahkan, Bung Karno samapai terkesan dengan tulisan beliau, karena Mahbub mengatakan Pancasila lebih agung dari Declaration of Independence, sehingga Bung Karno sempat mengundang Mahbub ke Istana Bogor, dari situlah Mahbub Junaidi menjadi sangat dekat dengan Bung Karno, dan Mahbub sangat kagum dengan “sang penyambung lidah rakyat tersebut.”

Ajaran Bung Karno, memang cukup mempengaruhi nasionalisme Mahbub. Pada sebuah pertemuan wartawan di Vietnam, Mahbub menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi kendati ia cukup fasih berbahasa Inggris atau Prancis. Inilah sikap nasionalismenya. “Bahasa Prancis bukan bahasa elu, dan bahasa Inggris juga bukan bukan bahasa gua.

Salah satu ciri dari tulisan Mahbub adalah kepandaiannya dalam memasukkan unsur humor. Humor adalah cara dari Mahbub untuk mengajak seseorang masuk kedalam suatu masalah, karena salah satu kebiasaan dari orang Indonesia adalah suka tertawa, maka untuk mengkritik dengan cara yang enak adalah lewat humor. Sebagaimana yang pernah dikatakan Gus Dur, “dengan humor kita dapat sejenak melupakan kesulitan hidup.”

Sebagai kolumnis, tulisan Ketua Umum PB PMII Tiga Periode Ini kerap dimuat harian Kompas, Sinar Harapan, Pikiran Rakyat, Pelita, dan TEMPO. Kritik sosial yang tajam tanpa kehilangan humor adalah ciri khas tulisan Sang Pendekar Pena ini. Akibat tulisannya yang tajam, Ia pernah ditahan selama satu tahun di tahun 1978. Jeruji besi dan gelapnya penjara tak menghambat nalar menulisnya di dalam penjara ia menerjemahkan Road to Ramadhan, karya Heikal, dan menulis sebuah novel Maka Lakulah Sebuah Hotel. Jaya pada tahun 1975.

Ketua Umum PMII Tiga Periode

Dalam kariernya sebagai aktivis mahasiswa, Mahbub Junaidi bersama sahabat-sahabatnya membentuk Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada 17 April 1960, dan pada saat itu juga Mahbub Junaidi terilih sebagai ketua umum. Jabatannya sebagai Ketua Umum PP.PMII diembannya selama tiga periode, yaitu periode 1960–1961, hasil Musyawarah Mahasiswa Nahdliyin pada saat PMII pertama kali didirikan di Surabaya Jawa Timur. Periode 1961-1963, Hasil Kongres I PMII di Tawangmangu Jawa Barat. Dan Periode 1963-1967, hasil Kongres PMII II di Kaliurang Yogjakarta.

Pada masa kepemimpinan sahabat Mahbub Junaidi inilah PMII secara politis menjadi sangat populer di dunia kemahasiswaan dan kepemudaan, sampai pada periode pertama sahabat Zamroni. Pernah ketika itu, sebagai ketua umum PMII dirinya menunjukkan tajinya, saat HMI hendak dibubarkan oleh Bung Karno, dikarenakan tokoh-tokoh Masyumi terlibat dalam pemberontakan PRRI PERMESTA di Sumatera Barat, Mahbub yang menjabat sebagai ketua PMII langsung berangkat ke Istana Bogor untuk berdialog langsung dengan Bung Karno, dan pemintaan Mahbub sangat tegas, yaitu “HMI jangan dibubarkan.” Dan akhirnya tuntutannya itu terkabul.

Saat menjadi aktivis mahasiswa, Mahbub juga ahli dalam membuat lagu, mars PMII dan mars Gerakan Pemuda Ansor juga ciptaan dari Mahbub Junaidi. Dari kariernya sebagai ketua umum PB PMII, membuat kaiernya melesat ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Sebagai jurnalis, penulis dan sastrawan, Mahbub telah meraih prestasi yang sangat baik. Tulisannya sebagai Pemred Duta Masyarakat telah menunjukkan benang merah dari gagasan dan pikirannya mengenai berbagai masalah yang dihadapi bangsa kita. Perjalanan panjang dalm organisasi di lingkungan NU dapat menjadi bukti dari pengabdiannya kepada masyarakat.

Kiprahnya sebagai Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dapat dari petunjuk dari pengabdiannya dalam mengembangkan kehidupan pers nasional. Tulisannya sebagai sastrawan telah menununjukkan keragaman kemampuan yang dimilikinya dengan meraih penghargaan sastra tingkat nasional. Kolom “Asal Usul” yang dimuat secara tetap di tiap hari minggu harian Kompas selama jangka waktu yang cukup lama menunjukkan kemampuan Mahbub dalam menulis dan daya pikat tulisannya terhadap masyarakat. Gaya tulisannya sekarang banyak ditiru oleh penulis Indonesia.

Mahbub Djunaidi adalah tokoh nasional yang bersahaja, seorang jenius yang berkarakter mengamati perkembangan hidup melalui tulisan-tulisannya, penggerak organisasi dan seniman politik yang dimiliki oleh NU dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Sementara Mahbub Djunaidi meninggal dunia pada tahun 1995 di usia 62 tahun, usia yang masih cukup untuk beraktivitas dan berjuang. (Ajie Najmuddin/disarikan dari berbagai sumber) (dilansir nu.or.id Kamis, 18/4/2013)