KH Saifuddin Zuhri, Ulama Sejarawan

Banyak ulama besar yang berasal dari kalangan rakyat biasa, di antaranya adalah Kiai Siafuddin Zuhri, anak seorang santri kampung, kemudian belajar agama di madrasah dan selanjutnya belajar di masyarakat selama revolusi. Namun demikian kontribusinya kepada NU sangat besar, tidak hanya secara material, bagaimana dia menyumbangkan hektaran tanah pada organisasi ini, juga gigih mengembangkan NU di kalangan pedesaan dan di lingkungan kaum pergerakan.

Dan yang lebih penting lagi adalah kontribusinya dalam penyediaan bahan bagi penulisan sejarah NU pada umunya, sebab dia adalah seorang kader yang sangat sadar terhadap sejarah, sehingga banyak membuat catatan sejarah yang merupakan kesaksiannya terhadap peristiwa yang dilihat dan dialami sendiri. Dari berbagai catatannya terbit menjadi berbagai buku yang banyak sekali jumlahnya. Selain itu masih banyak artikel lepas di berbagai media dan makalah seminar serta pidato yang belum diterbitkan. Semuanya menjadi bahan sumber yang sangat penting sehingga menjadi bahan telaah yang tak habis-habisnya bagi para peminat atau penulis sejarah.

Keunggulan Saifuddin dibanding penulis atau sejarawan NU yang lain adalah, ia melukisan tokoh sebagi sosok yang hidup, karena semuanya disaksikan dialami sendiri. Ia bisa bersentuhan langsung dengan pendiri NU seperti Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Hasbullah, Wahid Hasyim, Jenderal Sudirman dan sebagainya. Lantas mendeskripsikan sikap dan gaya kepimpinannya, kedalaman spiritualnya, sampai ke strategi perjuangannya. Soal kepribadian itu tidak pernah diungkap oleh penulis NU yang lain. Selain itu dia juga mampu menggambarkan gerak batin dunia pesantren serta gelora perjuangannya dalam menggerakkan revolusi kemerdekaan.

Penulisan sejarah yang deskrptif, naratif yang dimaksudkan agar komunikatif dengan pembacanya itu tidak diduga malah memberikan suasana yang otentik dan orisinal, terhadap situasi sosial dan situasi batin para pelaku sejarah. Tak diragukan lagi hal itu sangat membantu para penulis sejarah untuk memperoleh gambaran masa lalu secara lebih utuh dan lebih mendalam. Bukan sejarah analitik di mana opini atau interpretasi penulisnya terasa lebih dominan, sehingga jaringan sejarahnya sendiri menjadi terpangkas oleh pandangan sejarawan. Sementara catatan Sejarah Saifuddin justru menampilkan jaringan sejarah itu dengan tegas.

Asal-Usul Keluarga dan Pendidikan
Sebagaimana disebutkan di depan, bahwa Saifudin Zuhri merupakan seorang ulama yang berasal dari keluarga rakyat biasa. Ia anak tertua di antara sembilan bersaudara dari seorang ayah bernama Haji Muhammad Zuhri. Sebab itu kemudian namanya dikenal sebagai K.H. Saifuddin Zuhri. Ia dilahirkan pada tanggal 1 Oktober 1919 di sebuah kota kawedanaan Sokaraja, 9 km dari Purwokerto, Banyumas. Ayahnya dari keluarga petani yang taat kepada agama. Ibunya bernama Siti Saudatun, cucu seorang penghulu di daerahnya. Selama masa remaja Saifudin Zuhri dididik dalam dunia pesantren di daerah kelahiranya, untuk mempelajari berbagai ilmu agama. Selain itu juga menjadi santri kelana di Solo, dengan masuk Madrasah Mambaul Ulum, beberapa bulan, setelah itu masuk ke pesantren Salafiyah, juga hanya tiga bulan. Lalu keluar masuk berbagai forum, sehingga sering mengikuti ceramah para pastur, mengikuti ceramah kalangan SI maupun Muhammadiyah, termasuk ikut wejangan para tokoh kebatinan di sanggar. Tidak ketinggalan pula mendalami jurnalistik.

Dengan penuh kedisiplinan dan keprihatinan giat mendidik diri sendiri mempelajari berbaga ilmu pengetahuan umum, yang dirasa sangat berguna bagi bangsa yang sedang bergerak menuju gerbang kemerdekaan.

Karirnya diawali dengan mendirikan lembaga pendidikan modern yang diberi nama Islamtisch Westerse School. Kemudian bakat menulisnya disalurkan dengan menjadi koresponden atau penulis beberapa majalah yang antara lain Berita Nahdlatul Ulama, Suluh Nahdlatul Ulama dan Suara Ansor. Dengan keahliannya menulis itulah ia bisa berkenalan dengan redaksinya yang tidak lain adalah Kiai Wahid Hasyim yang sangat dia kagumi itu. Dari situ kemudian ia berkenalan dengan Kiai Hasyim Asy’ari pendiri NU yang sangat ia segani.

Perkenalannya dengan kedua tokoh itu membuat Saifuddin bisa belajar lebih banyak. Maka berkembanglah dari seorang pemuda kampung, menjadi tokoh pergerakan yang memiliki akses ke pusat kekuasaan NU yaitu di Pesantren Tebuireng bersama Hasyim As’ari dan Wahid Hasyim. Karena telah berada di pusat NU maka sangat terbuka berkenalan dengan tokoh NU yang lain, seperti Kiai Wahab Hasbullah, Bisri Sansuri, Kiai Ridwan dan sebagainya. Tempaan moral dan intelektual yang dialaminya selama zaman pergerakan itu sehingga memungkinkan dia terbentuk sebagai seorang tokoh yang berkarakter pejuang yang konsisten, yang tahan terhadap berbagai cobaan.

Berkarir Sebagai Pejuang
Dengan jalinan komunikasi yang luas dan akses politiknya yang besar maka dalam usia muda ia telah menjadi simpul gerakan kemerdekaan di Purworejo, sebab dengan kedekatannya dengan Wahid Hasyim dan Hasyim Asy’ari, yang selalu berkomunikasi, membuatnya sebagai orang yang banyak informasi. Mengingat pengalamannya itu wajar kalau ia menjadi nara sember politik utama di daerahnya, sehingga tidak sedikit kiai dan tokoh politik yang mau tidak mau harus bertanya kepadanya tentang persoalan politik dan agama. Maka tidak heran ketika dalam usia 19 tahun ia dipilih menjadi pemimpin Gerakan Pemuda Ansor NU. Namun demikian profesinya sebagai guru madrasah masih terus dipertahankan. Demikian pula aktivitas jurnalistiknya terus berjalan dengan menjadi koresponden kantor berita Antara dan membantu beberapa harian dan majalah, baik yang dikelola NU maupun majalah umum.

(Dikutip dari: nu.or.id)

Kata-Kata Haji Mahbub

1 Oktober 1995, H Mahbub Djunaidi menghembuskan nafas terakhir. Enam belas tahun Mahbub meninggalkan kita, batang hidungnya tak akan pernah muncul kembali. Tapi kata-katanya masih hidup. Siapa yang hendak belajar bahasa? Mahbub salah satu rujukannya.

BAGI saya H. Mahbub Djunaidi adalah jawaranya esais. Misal ada kategori lima orang esais terbaik dalam sejarah Indonesia, saya ngotot menominasikannya sebagai salah satu. Kalau definisi mutakhir teks mengatakan sia-sia membuat pembedaan antara gaya dengan isi tulisan, Mahbub adalah contoh sempurna.

Gagasan dan kejutan yang diajukan dalam esai-esainya sulit dibayangkan bisa di tulis dalam gaya penulisan lain. Pendek kata, bagi saya Mahbub adalah penyihir kata-kata.

Sebutan penyihir boleh jadi terlalu mistik, tapi biarlah. Lalu bagaimana menjelaskan sesuatu yang mistik? Meski tentu banyak sisi positifnya, gara-gara birokrasi logika modern, sebentar-sebentar orang menuduh hal-hal tak terjelaskan secara rasional sebagai mistik. Toh, sihir punya mantra seperti pesawat terbang punya karcis. Kalau demikian adanya, macam apa mantranya Mahbub itu? Apakah hal-hal yang jadi kekuatan dalam esai-esainya?

Cara pandang terhadap realitas
Orang tentu mafhum Mahbub adalah kolumnis politik. Hampir di tiap kolom dia menulis perkara tersebut beserta aspek-aspeknya. Sekurang-kurangnya membahas dampak kebijakan pemerintah pada orang banyak. Penulis yang model begini amat banyak jumlahnya. Namun yang membedakan dengan penulis lain adalah cara Mahbub memandang persoalan politik, terutama berkaitan posisi rakyat berhadapan dengan negara.

Ia hampir selalu memulai tulisan dengan memosisikan rakyat dan negara di atas kertas, menggunakan kerangka teoretik ideal. Teorinya, negara merupakan organisasi yang dibangun demi kemaslahatan rakyatnya. Namun dalam struktur tata negara yang bagaimanapun macamnya, termasuk demokrasi, mustahil pendapat rakyat yang banyak itu diaplikasikan secara keseluruhan orang per orang. Maksimal, negara hanya bisa meratakan kesejahteraan dan menjamin kebebasan berpendapat. Karenanya, rakyat dalam beberapa hal harus mengerti jika negara yang tugasnya masya Allah banyak itu, kadang belum sanggup memuaskan mereka.

Namun posisi teoretik Mahbub ini boleh dibilang unik. Ia tak pernah mengungkapkannya dengan bahasa yang teknis. Untuk kepentingan ini digunakanlah cerita, anggapan umum, peristiwa populer, humor, atau macam-macam perabot lainnya, yang dalam hal ini perlengkapan Mahbub amat lengkap. Sama sekali tak berpretensi ilmiah.

Silakan cek esai Dinamisasi via Binatang yang ditulisnya menyambut ide Menteri Agama Mukti Ali untuk memodernisasi pesantren lewat pemberian binatang ternak. Pada awalnya Mahbub seperti mengikuti jalan pikiran Mukti Ali, bahkan terkesan menjelaskannya. Namun belakangan, ia justru bertanya, kenapa cuma pesantren yang dituding sekadar konsumen? Bukankah perilaku institusi pendidikan lainnya juga kurang-lebih demikian adanya?

Sekarang silakan teliti juga esai berjudul Demokrasi: Martabat dan Ongkosnya. Dalam esai ini akan terjelaskan bagaimana Mahbub bisa memiliki cara pandang demikian. Sumbernya tak lain keluguan. Dia menceritakan perihal rancangan kenaikan anggaran buat anggota DPR sambil menceritakan betapa logisnya alasan mereka mengusulkan hal tersebut, persis orang awam yang hanya paham perkara teknis tanpa menangkap motif lainnya. Mendadak di paragraf akhir, setelah kita diajak tamasya sambil tertawa-tawa, lewat pergeseran perspektif yang sublime, ia meledek dengan lembut, bahwa tuah hak Budget legislatif tiada gigi.

Dalam esai, aku-esai yang mewakili pengarang bercerita lewat medium bahasa, terwujud dalam cara pandang, cara mengajukan gagasan, cara ajukan pertanyaan, cara menyimpulkan, dan hal-hal lain yang bersifat unik. Sebagaimana dimaklumi dalam filsafat bahasa mutakhir, tak ada realitas di luar bahasa. Secara umum boleh dikatakan bahwa kemampuan seseorang untuk berpikir logis dan jernih, akan terefleksi dalam tulisannya, dalam bahasanya. Hal yang demikian bias kita lihat pada Mahbub.

Mahbub pernah bilang, dirinya lebih senang digantungi merk sebagai sastrawan. Kenyataannya memang demikian. Tapi perkara ini di luar fakta bahwa ia pernah menulis beberapa novel. Perspektif keluguan membuatnya bisa mengeker kenyataan dengan perspektif unik, sebagaimana umumnya dipraktikkan para sastrawan. Bertebaranlah di esai-esainya, pameran hasil pengamatan yang sering bikin kita terlonjak keheranan. Ada dikatakan orang yang selalu membicarakan cuaca tak ubahnya orang Inggris. Dia menyebut perihal berisiknya orang Cina, karena empat orang yang berkumpul sanggup berbicara bersama-sama. Di lain waktu, ia menceritakan anak-anak di bulan puasa yang mulai siang tidur menelungkup menekan perut keras-keras ke ubin langgar hingga hampir maghrib. Satu dua ada juga yang diam-diam menggigit mangga muda di belakang kakus.

Dengan pengamatan sekuat ini, tak heran Mahbub seperti tukang dongeng yang bisa menggubah peristiwa apa saja menjadi cerita yang mengesankan. Saya menduga kemampuan mendongeng ini diwariskan Mahbub dari khazanah tradisi Betawi yang melahirkan beberapa tukang cerite yang legendaris, seperti Zahid bin Muhammad.

Dalam khazanah sastra Indonesia, tradisi menulis dengan gaya kocak dan lugu ini bisa dilacak dalam karya-karya Idrus, sebagaimana terlihat dalam kumpulan cerita terbaiknya, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma. Saat ini kemampuan Mahbub mendongeng barangkali hanya bisa disejajarkan dengan sastrawan Putu Wijaya. Dengan kemampuan mendongeng ini, Pak Haji Mahbub mampu menyajikan persoalan dengan ringan. Pembaca paham duduk persoalan tanpa melewati penjelasan konseptual yang bikin kepala serasa berlipat.

Pemberontakan literer
Menurut para ahli, kaum sastrawan, terutama penyair, punya kedudukan istimewa terhadap bahasa, yang dipresentasikan dalam licentia poetica. Singkatnya, dengan istilah yang konon pertama kali diajukan oleh Aristoteles ini, dimaksudkan bahwa demi mencapai tingkat estetika tertentu sastrawan boleh mengutak-atik bahasa sedemikian rupa layaknya montir mesin. Dalam hemat saya ini merupakan mantra Mahbub selanjutnya.

Mahbub sepertinya tak pernah ambil pusing apakah istilah dan kata-kata yang digunakannya masuk hitungan kebakuan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Makanya kita bisa capek sendiri menghitung pelanggaran EYD yang dilakukan dalam esai-esainya. Biasanya ia memakai istilah dan struktur bahasa Betawi yang di Indonesia sering dipakai dalam bahasa percakapan. Beberapa kali ia juga memakai istilah dari bahasa Jawa. Alih-alih ditegur karena kebandelannya, Goenawan Mohamad yang dikenal apik berbahasa malah memujinya sebagai penerobos bahasa. Ya, boleh jadi dalam hal ini Mahbub memang keblinger, tapi justru dari sinilah esai-esainya mencerminkan karakter yang khas. Dia menemukan sendiri capaian estetikanya.

Kebandelan Mahbub dalam berbahasa bukanlah sembarang pelanggaran. Jika ukurannya adalah pencapaian estetik, ia sanggup memenuhi tagihan sertifikat licentia poetica dengan impas, barangkali berikut bunganya. Barangkali sifat sastrawi dalam karya-karya Mahbub bukanlah yang melankolis, sensitif, mendayu-dayu sifatnya. Tapi, toh, John Steinbeck yang menulis cerita-cerita yang menyanyikan humor dan kesintingan pun akhirnya harus datang ke Stockholm, Swedia, buat menerima Nobel Sastra sambil ditepuktangani banyak orang.

Humor
Barangkali tak ada segi paling digandrungi dari esai Mahbub ketimbang humornya. Konon ada orang yang sampai kebelet kencing lantaran membaca tulisan-tulisannya. Saya sih tak ekstrem begitu. Paling-paling hanya menyebabkan durasi membaca jadi lebih lama lantaran sering diselingi cekikikan dan cekakakan. Celakanya, humor-humor Mahbub sering terbawa ingatan saat saya melakukan aktivitas lain. Boleh jadi orang yang kurang paham duduk persoalannya menganggap saya sinting atau semacamnya.

Mahbub sering menyajikan humor satir. Hal ini bisa kita simak antara lain pada Sepatu, di mana ia mengejek banyaknya koleksi sepatu Imelda Marcos. Kadang ia bercerita yang baik-baik saja perihal lembaga negara atau individu dengan demikian sempurnanya, sampai-sampai pembaca akhirnya sadar bahwa Mahbub nyata-nyata tengah mengejek dengan menyebut nilai-nilai yang justru tak dimiliki pihak bersangkutan. Hal yang demikian, misalnya muncul pada Kota.
Teknik humor Mahbub yang paling umum adalah metafora dan celetukan yang bukan alang-kepalang mengejutkannya. Silakan disimak sendiri sebagian kecil contoh berikut:

–    Futurolog itu…semacam dukun juga, tapi keluaran sekolahan
–    Anak-anak saya…patuh sepatuh-patuhnya bagaikan anak anjing ras
–    Sedangkan masuk kamar mandi saja ada risiko terpelanting, apalagi jadi bendaharawan
–    Tidak sedikit orang beli koran dan langsung membaca iklan-iklan kematian, mencari tahu umur berapakah orang yang meninggal itu, sekadar membanding-bandingkan dengan umurnya sendiri
–    Maka dari itu, nyonya sehat bagaikan ikan bandeng
–    Yoga, melipat badan berlama-lama seperti kelelawar
–    Pemerintah mana saja tidak suka penduduknya cerewet seperti sekandang burung parkit
–    Abdurrahman Wahid…bertubuh gempal, ibarat jambu kelutuk yang ranum…punya kebolehan humor yang mengejutkan, seakan-akan dia jambret begitu saja dari laci

Penemuan metafora-metafora yang begitu orisinal dan sublim semacam inilah yang menurut hemat saya menjadi kekuatan utama dari esai-esai Mahbub. Teknik metafor ini dipadukan dengan mantra-mantra sihir yang disebut sebelumnya, membuat esai-esainya lincah. Sering kita temukan beberapa asosiasi ditumpuk sekaligus dalam satu pernyataan.

Tak jarang demi memberi tempat buat dorongan humornya, Mahbub harus melenceng barang sebentar dari persoalan utama. Sering juga berlama-lama. Tapi memang kerapkali pada karya-karya bermutu tinggi, irisan-irisan “ketidaksempurnaan” semacam inilah yang justru membumbui estetika. Coba Saudara simak musikus-musikus hebat yang secara teoretik bakal lebih bagus lagunya didengarkan di hasil rekaman, karena celah-celahnya telah disempurnakan lewat bantuan teknologi. Tapi pendengar musik yang paham duduk persoalan bakal lebih memilih mendengarkan suara live-nya di panggung, meski lewat medium perantara.

MAHBUB, seperti yang diakui sendiri dalam sebuah esainya, adalah seorang generalis. Ia mencomot sembarang persoalan yang menarik perhatiannya buat dibahas, tanpa peduli batas-batas spesialisasi keilmuan. Bagaimana Mahbub mau bicara spesialisasi, wong sarjana saja bukan?

Ia memang unggul dalam hal menyajikan persoalan dengan sederhana melalui generalisasi yang cerdas. Tapi untuk itu kadang ia tak sempat menengok ke celah-celah persoalan, menakar barang sebentar, barangkali ada satu hal atau dua yang tak masuk dalam kategori generalisasinya. Ia juga sering membahas masalah hanya dari aspek spesifik tertentu. Dengan begini, ia tak pernah membahasnya untuk menyajikan solusi dengan tuntas, mulai ujung kepala sampai jempol kaki.

Tapi kelihatannya memang bukan pembahasan lengkap model demikian yang diinginkan Mahbub. Ia ikut berbaur dengan berbagai macam manusia, lengkap bersama pluralitas persoalannya, tanpa bermaksud menarik sebuah rumus deduktif buat setiap masalah. Tapi jangan sekali-kali menganggap Mahbub tak bisa menulis dengan gaya konvensional, artinya nirbumbu-bumbu humor di sembarang tempat, tanpa hilang kejernihan. Kalau tak percaya, sila dibaca, “Soal Pilihan”.

Konon, beberapa orang berpendapat, Mahbub memilih teknik menulis demikian lantaran kondisi sosial-politik Orde Baru yang tidak memungkinkan orang mengkritik dengan keras. Maka humor jadi siasatnya untuk menyelubungi perbedaan-perbedaan pandangannya dengan pihak otoritas. Barangkali anggapan ini ada benarnya.

Tapi bagi saya sih, peduli setan! Dengan atau tanpa Orde Baru, Mahbub tetaplah Mahbub yang menyihir kita lewat kata-kata. Dan kata-kata Mahbub, masih hidup. (Ahmad Makki, Kontributor Majalah Historia Online]

dikutip dari: nu.or.id

Syekh Nawawi Al-Bantani, Gurunya Para Ulama

Kemasyhuran dan nama besar Syeikh Nawawi al-Bantani kiranya sudah tidak perlu diragukan lagi. Melalui karya-karyanya, kira-kira mencapai 200-an kitab, ulama kelahiran Kampung Tanara, Serang, Banten, 1815 M ini telah membuktikan kepada dunia Islam akan ketangguhan ilmu ulama-ulama Indonesia.

Para ulama di lingkungan Masjidil Haram sangat hormat kepada kealimannya. Bahkan ketika Syeikh Nawawi berhasil menyelesaikan karyanya Tafsir Marah Labid, para ulama Mekkah serta merta memberikan penghormatan tertinggi kepadanya. Pada hari yang telah ditentukan para ulama Mekah dari berbagai penjuru dunia mengarak Syeikh Nawawi mengelilingi Ka`bah sebanyak tujuh kali sebagai bukti penghormatan mereka atas karya monumentalnya itu.

Nama Imam Nawawi begitu dominan, terutama dalam lingkungan ulama-ulama Syafi’iyah. Beliau sangat terkenal kerana banyak karangannya yang dikaji pada setiap zaman dari dahulu sampai sekarang. Nama ini adalah milik Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syirfu an-Nawawi yang dilahirkan di Nawa sebuah distrik di Damaskus Syiria pada bulan Muharram tahun 631 H.

Pada penghujung abad ke-18 lahir pula seseorang yang bernama Nawawi di Tanara, Banten. Nama lengkapnya adalah Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar ibnu Arabi bin Ali al-Jawi al-Bantani. Anak sulung seorang ulama Banten, lahir pada tahun 1230 H/1814 M di Banten dan wafat di Mekah tahun 1314 Hijrah/1897 Masehi.

Ketika kecil, sempat belajar kepada ayahnya sendiri, kemudian memiliki kesempatan belajar ke tanah suci. Datang ke Mekah dalam usia 15 tahun dan meneruskan pelajarannya ke Syam (Syiria) dan Mesir. Tidak diketahui secara pasti, berapa lama Imam Nawawi mengembara keluar dari Mekah kerana menuntut ilmu hingga kembali lagi ke Mekah. Keseluruhan masa tinggal di Mekah dari mulai belajar, mengajar dan mengarang hingga sampai kemuncak kemasyhurannya lebih dari setengah abad lamanya.

Karena Syeikh Nawawi yang lahir di Banten ini juga memiliki kelebihan yang sangat hebat dalam dunia keulamaan melalui karya-karya tulisnya, maka kemudian ia diberi gelar Imam Nawawi kedua (Nawawi ats-Tsani). Orang pertama memberi gelar ini adalah Syeikh Wan Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani. Gelar ini akhirnya diikuti oleh semua orang yang menulis riwayat ulama asal dari Banten ini. Sekian banyak ulama dunia Islam sejak sesudah Imam Nawawi pertama, Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syirfu (wafat 676 Hijrah/1277 Masehi) hingga saat ini, belum pernah ada orang lain yang mendapat gelaran Imam Nawawi kedua, kecuali Syeikh Nawawi yang kelahiran Banten (Imam Nawawi al-Bantani).

Meskipun demikian masyhurnya nama Nawawi al-Bantani, namun Beiau adalah sosok pribadi yang sangat tawadhu’. Terbukti kemudian, meskipun Syeikh Nawawi al-Bantani diakui alim dalam semua bidang ilmu keislaman, namun dalam dunia tarekat para sufi, tidak pernah diketahui Beliau pernah membaiat seorang murid pun untuk menjadi pengikut thariqah. Hal ini dikarenakan, Syeikh Ahmad Khathib Sambas (Kalimantan), guru Thariqah Syeikh Nawawi al-Bantani, tidak melantiknya sebagai seorang mursyid Thariqat Qadiriyah-Naqsyabandiyah. Sedangkan yang dilantik ialah Syeikh Abdul Karim al-Bantani, sepupu Syeikh Nawawi al-Bantani, yang sama-sama menerima thariqat itu dari Syeikh Ahmad Khathib Sambas. Tidak diketahui secara pasti penyebab Nawawi al-Bantani tidak dibaiat sebagai Mursyid. Syeikh Nawawi al-Bantani sangat mematuhi peraturan, sehingga Beliau tidak pernah mentawajuh/membai’ah (melantik) seorang pun di antara para muridnya, walaupun sangat banyak di antara mereka yang menginginkan untuk menjalankan amalan-amalan thariqah.

Guru-gurunya

Di Mekah Syeikh Nawawi al-Bantani belajar kepada beberapa ulama terkenal pada zaman itu, di antara mereka yang dapat dicatat adalah sebagai berikut: Syeikh Ahmad an-Nahrawi, Syeikh Ahmad ad-Dimyati, Syeikh Muhammad Khathib Duma al-Hanbali, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Maliki, Syeikh Zainuddin Aceh, Syeikh Ahmad Khathib Sambas, Syeikh Syihabuddin, Syeikh Abdul Ghani Bima, Syeikh Abdul Hamid Daghastani, Syeikh Yusuf Sunbulawani, Syeikhah Fatimah binti Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani, Syeikh Yusuf bin Arsyad al-Banjari, Syeikh Abdus Shamad bin Abdur Rahman al-Falimbani, Syeikh Mahmud Kinan al-Falimbani, Syeikh Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani dan lain-lain.

Murid-muridnya

Syeikh Nawawi al-Bantani mengajar di Masjidil Haram menggunakan bahasa Jawa dan Sunda ketika memberi keterangan terjemahan kitab-kitab bahasa Arab.

Murid-muridnya yang berasal-dari Nusantara banyak sekali yang kemudian menjadi ulama terkenal. Di antara mereka ialah, Kiai Haji Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jawa Timur; Kiai Haji Raden Asnawi Kudus, Jawa Tengah; Kiai Haji Tubagus Muhammad Asnawi Caringin, Banten; Syeikh Muhammad Zainuddin bin Badawi as-Sumbawi (Sumba, Nusa Tenggara); Syeikh Abdus Satar bin Abdul Wahhab as-Shidqi al-Makki, Sayid Ali bin Ali al-Habsyi al-Madani dan lain-lain. Tok Kelaba al-Fathani juga mengaku menerima satu amalan wirid dari Syeikh Abdul Qadir bin Mustafa al-Fathani yang diterima dari Syeikh Nawawi al-Bantani.

Salah seorang cucunya, yang mendapat pendidikan sepenuhnya dari nawawi al-Bantani adalah Syeikh Abdul Haq bin Abdul Hannan al-Jawi al-Bantani (1285 H./1868 M.- 1324 H./1906 M.). Banyak pula murid Syeikh Nawawi al-Bantani yang memimpin secara langsung barisan jihad di Cilegon melawan penjajahan Belanda pada tahun 1888 Masehi. Di antara mereka yang dianggap sebagai pemimpin perlawanan Perjuangan di Cilegon ialah Haji Wasit, Haji Abdur Rahman, Haji Haris, Haji Arsyad Thawil, Haji Arsyad Qasir, Haji Aqib dan Tubagus Haji Ismail. Para ulama pejuang bangsa ini adalah murid Syeikh Nawawi al-Bantani yang dikader di Mekkah. (Syaifullah Amin)

Kiai Romly Tamim, Penyusun Doa Istighatsah

Kata “Istighotsah” (إستغاثة) adalah bentuk masdar dari Fi’il Madli Istaghotsa (إستغاث) yang berarti mohon pertolongan. Secara terminologis, istigotsah berarti beberapa bacaan wirid (awrad) tertentu yang dilakukan untuk mohon pertolongan kepada Allah SWT atas beberapa masalah hidup yang dihadapi.

Istighotsah ini mulai banyak dikenal oleh masyarakat khususnya kaum Nahdliyyin baru pada tahun 1990 an. Di Jawa Timur, ulama yang ikut mempopulerkan istighotsah adalah Almarhum KH Imron Hamzah (Rais Syuriyah PWNU Jatim waktu itu). Namun di kalangan murid Thariqah, khususnya Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, Isighotsah ini sudah lama dikenal dan diamalkan.

Bacaan istighotsah yang banyak diamalkan oleh warga Nahdliyyin ini, bahkan sekarang meluas ke seluruh penjuru negeri sebenarnya disusun oleh KH Muhammad Romly Tamim, seorang Mursyid Thariqah Qadiriyah wan Naqsyabandiyah, dari Pondok Pesantren Rejoso, Peterongan, Jombang. Hal ini dibuktikan dengan kitab karangan beliau yang bernama Al-Istighatsah bi Hadrati Rabb al-Bariyyah” (tahun 1951) kemudian pada tahun 1961 diterjemah ke dalam bahasa Jawa oleh putranya KH Musta’in Romli.

KH Muhammad Romly Tamim adalah salah satu putra dari empat putra Kiai Tamim Irsyad (seorang Kiai asal Bangkalan Madura). Keempat putra Kiai Tamim itu ialah Muhammad Fadlil, Siti Fatimah, Muhammad Romly Tamim, dan Umar Tamim.

KH Muhammad Romly Tamim lahir pada tahun 1888 H. di Bangkalan Madura. Sejak masih kecil, beliau diboyong oleh orang tuanya KH. Tamim Irsyad ke Jombang. Di masa kecilnya, selain belajar ilmu dasar-dasar agama dan Al-Qur’an kepada ayahnya sendiri juga belajar kepada kakak iparnya yaitu KH Kholil (pembawa Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Rejoso).

Setelah masuk usia dewasa, beliau dikirim orang tuanya belajar ke KH. Kholil di Bangkalan, sebagaimana orang tuanya dahulu dan juga kakak iparnya belajar ke beliau. Kemudian setelah dirasa cukup belajar ke Kiai Kholil Bangkalan, beliau mendapat tugas untuk membantu KH Hasyim Asy’ari mengajarkan ilmu agama di Pesantren Tebuireng, sehingga akhirnya beliau diambil sebagai menantu oleh Kiai Hasyim yaitu dinikahkan dengan putrinya yang bernama Izzah binti Hasyim pada tahun 1923 M. Namun pernikahan ini tidak berlangsung lama karena terjadi perceraian.

Setelah perceraian tersebut, Mbah Yai Romly, begitu biasa dipanggil, pulang ke rumah orang tuanya, Kiai Tamim di Rejoso Peterongan. Tak lama kemudian beliau menikahi seorang gadis dari desa Besuk, kecamatan Mojosongo. Gadis yang dinikahi tersebut bernama Maisaroh. Dari pernikahannya dengan Nyai Maisaroh ini, lahir dua orang putra yaitu Ishomuddin Romly (wafat tertembak oleh tentara Belanda, saat masih muda), dan Musta’in Romly.

Putra kedua Kiai Romly yang tersebut  terakhir ini kemudian menjadi seorang Kiai besar yang berwawasan luas. Hal ini terbukti saat beliau menjadi pengasuh di Pondok Pesantren Darul’Ulum Rejoso, beliau mendirikan sekolah-sekolah umum di dalam pesantren disamping madrasah-madrasah diniyah yang sudah ada. Sekolah-sekolah umum itu di antaranya SMP, SMA, PGA, SPG, SMEA, bahkan juga memasukkan sekolah negeri di dalam pesantren yaitu MTs Negeri dan MA Negeri. Sekolah-sekolah tersebut masih berjalan hingga sekarang.

Di samping menjadi Ketua Umum Jam’iyyah Ahli Thariqoh Mu’tabaroh dan Mursyid Thariqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah pada saat itu, Dr. KH. Musta’in Romly yang kemudian menjadi menantu KH. Abdul Wahab Chasbullah Tambakberas ini juga merupakan satu-satunya Kiai pertama di Indonesia yang mendirikan sebuah Universitas Islam yang cukup ternama pada saat itu (tahun 1965), yaitu Universitas Darul’Ulum Jombang.

Kemudian setelah Nyai Maisaroh wafat, Mbah Yai Romly menikah lagi dengan seorang gadis putri KH. Luqman dari Swaru Mojowarno. Gadis itu bernama Khodijah. Dari pernikahannya dengan istri ketiga ini lahir putra-putra beliau yaitu: KH Ahmad Rifa’iy Romli (wafat tahun 1994), beliau adalah menantu Kiai Mahrus Ali Lirboyo, KH A. Shonhaji Romli (wafat tahun 1992), beliau adalah menantu Kiai Ahmad Zaini Sampang, KH. Muhammad Damanhuri Romly (wafat tahun 2001), beliau adalah menantu Kiai Zainul Hasan Genggong, KH. Ahmad Dimyati Romly (menantu Kiai Marzuki Langitan), dan KH. A. Tamim Romly, M.Si. (menantu Kiai Shohib Bisri Denanyar).

KH. Muhammad Romly Tamim, adalah seorang Kiai yang sangat alim, sabar, sakhiy, wara’, faqih, seorang sufi murni, seorang Mursyid Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, dan pengasuh Pondok Pesantren Darul’Ulum Rejoso, Peterongan, Jombang.

Di antara murid-murid beliau yang terkenal dan menjadi Kiai besar ialah KH. Muhammad Abbas (Buntet Cirebon), KH. Muhammad Utsman Ishaq (Sawahpuluh Surabaya), KH. Shonhaji (Kebumen), KH. Imron Hamzah (Sidoarjo).

KH. Muhammad Romly Tamim, disamping seorang mursyid, beliau juga kreatif dalam menulis kitab. Di antara kitab-kitab karangannya ialah: al-Istighotsah bi Hadrati Rabbil-Bariyyah, Tsamratul Fikriyah, Risalatul Waqi’ah, Risalatush Shalawat an-Nariyah. Beliau wafat di Rejoso Peterongan Jombang pada tanggal 16 Ramadlan 1377 H atau tanggal 6 April 1958 M.

Tata Cara Istighotsah

Melaksanakan istighotsah, boleh dilakukan secara bersama-sama (jamaah) dan boleh juga dilakukan secara sendiri-sendiri. Demikian juga waktunya, bebas dilakukan, boleh siang,  malam, pagi, atau sore. Seseorang yang akan melaksanakan  istighotsah, sayogianya ia sudah dalam keadaan suci, baik badannya, pakaian dan tempatnya,  dan suci dari hadats kecil dan besar.

Juga tidak kalah pentingnya, seseorang yang mengamalkan istighotsah menyesuaikan dengan bacaan dan urutan sebagaimana yang telah ditentukan oleh pemiliknya (Kiai Romly). Hal ini penting disampaikan, sebab tidak sedikit orang yang merubah bacaan dan urutan istighotsah  bahkan menambah bacaan sehingga tidak sama dengan aslinya. Padahal urutan bacaan istighotsah ini, menurut riwayat santri-santri senior Kiai Romli adalah atas petunjuk dari guru-guru beliau, baik secara langsung maupun lewat mimpi.

Diceritakan, sebelum membuat wirid istighotsah ini, beliau Kiai Romli melaksanakan riyaddloh dengan puasa selama 3 tahun. Dalam masa-masa riyadlohnya itulah beliau memperoleh ijazah wirid-wirid istighotsah dari para waliyulloh. Wirid pertama yang beliau terima adalah wirid berupa istighfar, dan karena itulah istighfar beliau letakkan di urutan pertama dalam istighosah. Demikian juga urutan berikutnya adalah sesuai dengan urutan beliau menerima ijazah dari para waliyyulloh lainnya. Oleh karena itu   sebaiknya dalam mengamalkan istighotsah seseorang menyesuaikan urutan wirid-wirid istighotsah sesuai dengan aslinya.

Setelah siap semuanya, barulah seseorang menghadap qiblat untuk memulai istighotsah dengan terlebih dahulu menghaturan hadiah pahala membaca surat al-Fatihah untuk Nabi, keluarga dan shahabatnya, tabi’in, para wali dan ulama khususnya Shahibul Istighatsah Hadratusy Syaikh KH. Muhammad Romly Tamim.

(Ditulis oleh Ishomuddin Ma’shum, dosen Universitas Darul Ulum Jombang / nu.or.id, 16/06/2014)

Ketua KOPRI Serang Dinobatkan Sebagai ‘Nong Persahabatan’ Banten

Kecintaannya akan budaya dan pengetahuannya tentang kedaerahan membawa perempuan berkulit putih, Maya Mauizatil Lutfillah, dinobatkan sebagai Duta Persahabatan dan Kebudayaan atau yang biasa disebut Nong Persahabatan Provinsi Banten tahun 2014. Maya yang juga menjabat sebagai Ketua Korp PMII Puteri Cabang Kota Serang tersebut, awalnya tidak mengira dirinya bisa mengalahkan peserta audisi yang memiliki wajah cantik, bakat yang luar biasa dan pengetahuan yang luas.

“Sejuta pesimis dalam diri saya, karena ketika audisi banyak peserta yang terlihat oke,” ujar Maya saat diwawancarai tim peliput pmii.or.id beberapa waktu lalu.

Selama enam hari dikarantina, Maya mengaku mendapatkan banyak ilmu tentang budaya Indonesia khususnya tentang Banten yang dikenal sebagai tanah jawara. Selama masa karantina dari tanggal 18 sampai 24 November, di Pisita Anyer, Kabupaten Serang para dewan juri mengadakan penilaian untuk menunjuk siapa yang layak untuk menjadi finalis. “Apa yang saya lakukan dari hal yang terkecil itu juga masuk penilaian. selain menerima materi selama karantina saya juga berlatih menari untuk di tampilkan di malam grand final yang diselenggarakan pada 23 November 2014 di Graha Pancasila Pandeglang,” tandasnya.

Setelah terpilih sebagai Nong Banten 2014, perempuan yang dilahirkan di Pandeglang pada tanggal 8 Februari 1993 ini akan menjalankankan tugasnya sebagai duta wisata dan kebudayaan Banten. Ia mengaku sangat tertarik terhadap kebudayaan dan pariwisata yang menurutnya perlu dilestarikan. “Yang ada dalam pikiran saya, kebudayaan ini adalah produk mahal yang harus dilestarikan kepada generasi selanjutnya. Melihat acuh tak acuh remaja saat ini terhadap kebudayaan adalah alasana saya kenapa saya tertarik terhadap kebudayaan ini,” ujarnya.

Sebagai aktivis PMII, Maya sudah aktif di organisasi sejak duduk dibangku Sekolah Dasar (SD). Ia aktif di organisasi pramuka, bahkan sempat menjadi pasukan isitimewa dalam anggota pramuka. Ketika menginjak Sekolah Menengah Pertama (SMP) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA), Maya memilih untuk melanjutkan sekolah yang berbasis salafi modern, yaitu di pondok pesantren Alfalahiyah, Kemuning, Tangerang.

Selain aktif di organisasi, Maya belajar dan selalu berlatih berdakwah sehingga ia aktif dalam acara-acara peringatan hari besar Islam, seperti acara maulid Nabi dan sebagainya. Bahkan, ia pernah meraih juara 3 dalam lomba dakwah. Karir organisasi Maya, tak berhenti di SMA. Ketika masuk bangku kuliah, Maya memilih aktif di PMII dan masih aktif hingga saat ini. Ia mengaku ilmu yang didapatkan di PMII lah yang bisa membawanya terpilih sebagai duta persahabatan Provinsi Banten.

Belajar Kepemimpinan dari Monkey D. Luffy

Memutuskan menjadi seorang pemimpin memang bukan hal yang sulit. Tapi menjalankan amanat dan memanajemen organisasi dalam konteks kepemimpinan bukan hal semudah membalikkan telapak tangan.

Karakter dan prinsip seseorang akan diuji dalam menerima jabatan ini. Baik sebagai ketua lembaga, organisasi atau bahkan hanya sebagai koordinator kelompok kecil sekalipun. Karna tidak sembarang orang berhasil keluar dan lolos dengan selamat, dari cengkraman posisi ini.

Monkey D. Luffy, adalah sosok pemimpin sejati yang unik. Kapten Bajak laut yang menjadi tokoh utama dalam komik One Piece karya Eiichiro Oda ini, memiliki magnet kepemimpinan yang sangat luar biasa. Metode persahabatan yang dia gunakan saat menjadi seorang pemimpin, sama sekali tidak melunturkan citranya sebagai seorang kapten bajak laut.

Sekilas, si Topi Jerami ini tak terlihat seperti seorang pemimpin. Tapi jangan salah, sosoknya yang cenderung terlihat seperti anak bodoh ini sangat disegani dan dipatuhi oleh para anggotanya. Bahkan tak satupun anggota bajak laut yang dia pimpin, berniat melanggar apapun intruksinya. Lalu apa kunci dari metode kepemimpinan yang diterapkan Luffy?

Memandang Anggota sebagai Teman

Sebagai kapten, Luffy tidak pernah memposisikan anggota bajak laut yang dipimpinnya sebagai bawahan. Dia selalu memposisikan anggotanya sebagai teman yang memiliki posisi, tanggungjawab serta keahlian yang berbeda-beda. Namun semuanya tergabung dalam satu kesatuan sebagai tim.

Meski demikian, Luffy memiliki rasa tanggungjawab yang tinggi sebagai kapten dalam tim. Dia menjadi sosok yang selalu mencoba melindungi setiap anggotanya. Hanya satu alasan yang selalu dia lontarkan saat melindungi anggotanya, “karna dia adalah temanku”.

Rasa saling memiliki serta loyalitasnya yang tinggi kepada setiap anggotanya inilah, yang menumbuhkan rasa cinta serta kekompakkan tim. Setiap anggota terdorong untuk melakukan hal yang sama satu sama lainnya.

Tanggungjawab yang Tinggi

Meski terlihat menyebalkan dan bodoh, Luffy selalu ambil bagian pertempuran yang paling berat dan berbahaya. Tidak sepeti pemimpin pada umumnya yang cenderung hobi memberikan intruksi kepada anggota, dia selalu ambil bagian dalam menyelesaikan pertempuran atau dalam setiap masalah apapun.

Hal inipun mengajarkan kepada setiap anggotanya untuk sensitif terhadap segala situasi. Efeknya, jika tim tersebut dihadapkan oleh sebuah masalah, masing-masing anggota dengan sendirinya, akan mengambil bagian dan saling membantu tanpa harus diperintah.

Bijaksana

Secara kasat mata, Luffy sama sekali bukan sosok yang mencerminkan sikap bijaksana. Meskipun kerap plin plan, namun Luffy selalu mengambil keputusan tegas dalam situasi yang terdesak. Keputusan yang diambil memang kerap gila dan membuat anggotanya kesal bahkan marah, karna terpaksa harus mengikuti keputusannya sebagai kapten. Meski demikian, insting Luffy tak jarang meleset meskipun awalnya dianggap sebagai keputusan yang gila dan mustahil.

Luffy adalah sosok yang menghargai pendapat dan keinginan setiap anggotanya. Dalam berbagai kondisi, dia selalu memberikan kesempatan kepada setiap anggotanya untuk berpendapat dan menyelesaikan suatu hal. Inipun dia lakukan berdasarkan pemahamannya terhadap kemampuan serta keahlian dari masing-masing anggotanya.

Perlakuan yang dia terapkan pada setiap anggota tersebut pun, mampu menularkan sifat keterbukaan dan saling percaya dalam tim. Luffy juga merupakan sosok yang membebaskan setiap anggotanya untuk mengejar mimpinya masing-masing.

Berkarakter, Memiliki Prinsip dan Tulus

Karakter Luffy yang bandel serta prinsipnya yang tidak pernah takut apapun bahkan kematian, memancarkan aura kepemimpinan yang sangat sempurna. Ketulusannya dalam melindungi serta memimpin teman-temannya berlayar, menjadi magnet tersendiri bagi setiap anggotanya. Meskipun kerap bersikap seperti kekanak-kanakan yang menyebalkan, namun Luffy adalah sosok pemimpin yang tegas dan bijak.

Oleh Novriana Dewi (Penulis adalah tim manajemen pmii.or.id)

Zamroni Tokoh Gerakan Yang Inspiratif

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dalam perjalanannya sudah banyak melahirkan tokoh-tokoh nasional dan cukup mewarnai dalam dinamika perpolitikan yang terjadi di Indonesia dengan visi perubahan bangsa, Mahbub Junaidi, Muhammad Zamroni, Surya Dharma Ali, Muhaimin Iskandar, Nusron Wahid, Malik Haramain dll. nama-nama tersbut adalah sebagian tokoh yang pernah merasakan dinamika organisasi yang bernama PMII, tapi dari sekian banyak tokoh yang dilahirkan oleh PMII masih ada yang dilupakan oleh kader-kader PMII sendiri yang semestinya harus dijadikan spirit dalam membangun PMII yang lebih bermartabat bagi kader PMII maupun bagi organisasi.

 

Sahabat Muhammad Zamroni adalah tokoh yang tidak banyak masyarakat tau, bahkan nama yang lebih akrab di panggil Sahabat Zamroni ini tidak terlalu populer dimata kaum pergarakan, padahal jasa-jasa yang dilakukan oleh Zamroni tidak kalah penting untuk dijadikan sebuah motivasi dan spirit gerakan PMII kedepannya, mantan ketua umum PB. PMII pada tahun 1967-1970 ini hanya lebih dikenal sbagai ketua umum PB. PMII setelah Sahabat Mahbub Junaidi tapi banyak kalangan tidak mengenal sebagai sosok atau tokoh gerakan nasional, bahkan nama Muhammad Zamroni menghilang begitu saja.

 

Disadari atau tidak, terjadinya aksi besar-besaran pada tahun 1966 yang mengatasnamakan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) adalah buah keringatnya Sahabat Zamroni bersama mahasiswa-mahasiswa yang tersebar di Indonesia dan sahabat Zamroni dipilih sebagai Ketua Presidium KAMI Pusat (Mulai pertama dibentuk sampai bubar), KAMI adalah motor gerakan mahasiswa angkatan 66 yang bertujuan untuk merobohkan rezim orde lama (orla), yang pada saat itu Ir. Soekarno sebagai presiden yang memakai sintem terpimpin. Zamroni juga ditengarai sebagai tokoh yang menginspirasi setelah Ir. Soekarno. keberhasilan dalam menumbangkan rezim orde lama tidak terlepas dari tokoh-tokoh pada masanya dan Zamroni adalah seorang pemberani untuk mmerangi segala ketidakadilan di bangsa ini.

 

Tokoh muda pada masanya memberikan inspirasi tersendiri bagi kalangan kaum pergerakan (PMII) karena dia satu-satunya Ketua Umum PB. PMII yang dipilih tanpa kehadirannya di lokasi kongres, karena pada waktu Zamroni lagi di Tokyo – Jepang, dalam rangka operasi jari tangan kanan akibat kecalakaan mobil sewaktu konsolidasi KAMI ke daerah Serang. Tokoh yang fenomenal dalam perkembangan PMII ini sangat memberikan nuansa yang “Berani dan Kritis”

 

Perjalanan Zamroni tidak hanya berhenti pada kepuasan dalan meruntuhkan Rezim Orde Lama, tapi Zamroni adalah sosok yang sangat memperhatikan keberlangsungan organisasi (PMII) dalam menapaki masa depan organisasi. Pada masa kepemimpinan sahabat Zamroni yang ke dua inilah PMII menyatakan diri “Independen”, (dicetuskan di MUBES II di Murnajati Lawang Malang 1972). Dialah penggagas Independensi PMII. Pada masa kepemimpinan sahabat Zamroni inilah PMII berkembang sangat pesat terutama jika dilihat dari segi banyaknya Cabang-cabang yang ada, tidak kurang dari 120 cabang yang hidup diseluruh Indonesia. Suatu prestasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sangat sulit terulang kembali hingga sekarang ini.

 

Dari berbagai jasa-jasanya yang telah jadi inspirasi bagi kader PMII maupun bagi tokoh gerakan masa kini, sangat tidak pantas kalau perjuangannya hanya dimaknai dengan memperingati semacam open ceremony, tapi gambaran gerakan yang dilakukan oleh Muhammad Zamroni harus dijadikan spirit gerakan dalam menapaki perubahan bangsa. Tokoh Gerakan pemeberani seperti Zamroni tidak banyak orang yang menuliskan tentang Gerakan dirinya, semangat gerakannya hanya terdengar dari sebuah cerita-cerita kecil dari sebuah forum-forum dan seminar-seminar tentang gerakan nasional. baru disadari bahwa Zamroni adalah tokoh yang mulai menghilang.

 

Drs. HM. Zamroni bin Sarkowi, Berpulang ke Rahmatullah pada dini hari pukul 03.00 WIB, Hari Senen Tanggal 5 Februari 1996, di RS Fatmawati Jakarta Selatan karena sakit sesak pernafasan dan stroke yang diderita sejak lama. Meninggalkan seorang Isteri, 3 (tiga) orang putra-putri dan 4 (empat) orang cucu. Dimakamkan di Pemakaman Khusus Tanah Kusir Jakarta.

 

(Sumber: http://anthokmerdeka.blogspot.com)

Susi Pudjiastuti, Kini Seorang Menteri

Susi Pudjiastuti

Diangkatnya Susi Pudjiastuti sebagai menteri kelautan dan perikanan sontak mengundang pro dan kontra di masyarakat. Hal yang diperdebatkan ialah terkait jenjang pendidikan formalnya yang hanya sampai pada tingkat SMP. Ia pernah mengenyam pendidikan menengah atas namun hanya sampai kelas II. Agaknya, Jokowi-JK punya pertimbangan sendiri sehingga mendelegasikan Ibu Susi sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Jika ukuran kinerja menteri adalah profesionalitas, lantas anggapan sekarang semakin tinggi tingkat pendidikan sesorang maka semakin professional apa masih berlaku?

Penulis tidak mencoba mendikotomi antara orang tidak sekolah dan yang sekolah, toh kecerdasan itu relati. Mari kita merenungkan kembali, apakah Ibu Pudjiastuti diangkat sebagai Menteri sudah tepat?, Biar waktu yang akan menjawabnya.

Kini, kita harus bisa bertanggungjawab untuk menjelaskan ke anak cucu bahwa sekolah itu tetap “penting”. Memang ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua, pendidik, dan seluruh stake holder kedepannya. Dengan diangkatnya Ibu Susi Pudjiastuti sebagai Menteri, semoga tidak semakin banyak orang tua yang memilih menikahkan dan menyuruh anaknya bekerja di usia dini dibanding menyekolahkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Di masyarakat masih sering kita temukan orang tua yang pikirannya konservatif yang beranggapan bahwa “sekolah untuk dapat kerjaan, daripada menghabiskan waktu bertahun-tahun ujungnya kerjaan, bukankah lebih baik langsung kerja dan tidak menghabiskan waktu lama?”. Mereka lebih mementingkan kerjaan dibanding sekolah, kekhawatiran penulius, dengan diangkatnya Ibu Susi sebagai Menteri maka akan dijadikan contoh dan pembenaran di masyarakat. Pembenaran untuk menjustifikasi bahwa yang mereka lakukan selama ini memang tepat.

Jika demikian, dalam kurun waktu 5 tahun ke depan, jangan salahkan jika masyarakat beranggapan bahwa sekolah formal tidak lagi penting atau dengan kata lain dihilangkan. Cukup melihat profesionalitas tiap individu untuk mengelola semuanya. Atau yang lebih ekstrim lagi “dunia pendidikan” yang selama ini mewajibkan kualifikasi pendidikan formal minimal setingkat di atasnya juga dihapuskan. Cukup melihat apakah seseorang mampu dibidangnya atau tidak. Ini merupakan cambuk untuk para pendidik agar mampu menjawab tantangan kedepannya. Juga sebagai “pembanding dan penyeimbang”, bagaimana mental akademisi, pengusaha, dan orang-orang yang masuk jajaran Kabinet Kerja Jokowi-JK. Apakah mampu bertahan hingga akhir dalam mengawal Indonesia, atau malah menjadi penghangat kursi pesakitan di pengadilan TIPIKOR. Semoga mereka tetap bersinergi dalam membangun Indonesia, bukan bersinergi untuk korupsi.

Begitu terdapat nama Susi dalam jajaran Kabinet Kerja. Sontak membuka lebar mata masyarakat. Di media sosial dengan cepat muncul foto Susi Pudjiastuti yang didampingkan dengan Atut Chosiyah. Pada gambar Ibu Susi ditulis “perokok, bertato, 2 kali kawin cerai, begajulan, tidaak berjilbab, tidak lulusSMA”. Sedangkan pada gambar Ibu Atut ditulis “tidak perokok, tidak bertato, tak kawin cerai, santun, berjilbab, pendidikan tinggi”. Dapat disimpulkan bahwa meski banyak kelebihan yang dimiliki Atut dan dianggap pantas sebagai pejabat, namun berakhir di kursi pesakitan. Semoga Ibu Susi tidak menyusul Ibu Atut untuk hal yang terakhir. Meski Jokowi-JK memiliki pertimbangan sendiri, namun masyarakat juga memiliki pertimbngan sendiri dalam berkomentar.

Munawwir Arafat

Penulis: Munawwir Arafat

Penulis adalah Ketua PB PMII Bidang Pendidikan, Riset dan Teknologi