Kiai Mas Alwi, Pendiri Nahdlatul Ulama yang Terlupa

Sosok pemberi nama Nahdlatul Ulama (NU) adalah Sayid Alwi Abdul Aziz al-Zamadghon. Lazim disebut Kiai Mas Alwi. Ia putra kiai besar, Abdul Aziz al-Zamadghon. Bersepupu dengan KH. Mas Mansyur dan termasuk keluarga besar Sunan Ampel, yang juga pendiri sekolah Nahdlatul Waton dan pernah belajar di pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura. Dari pulau garam, ia melanjutkan sekolah di Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, lalu memungkasi rihlah ‘ilmiyah-nya di Makkah al-Mukarromah.

Setelah pulang dari keliling Eropa, ia membuka warung di Jalan Sasak Ampel, Surabaya. Sebagaimana disebutkan dalam kisah berdirinya NU oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin, bahwa sebelum 1926, Kiai Hasyim Asy’ari telah berencana membuat organisasi Jami’iyah Ulama (Perkumpulan Ulama). Para kiai mengusulkan nama berbeda. Namun Kiai Mas Alwi mengusulkan nama Nahdlatul Ulama. Lantas Kiai Hasyim bertanya, “kenapa mesti pakai Nahdlatul, kok tidak jam’iyah ulama saja? Sayid Alwi pun menjawab, “karena tidak semua kiai memiliki jiwa nahdlah (bangkit). Ada kiai yang sekadar mengurusi pondoknya saja, tidak mau peduli terhadap jam’iyah.”

Akhirnya para kiai menyepakati nama Nahdlatul Ulama yang diusulkan Kiai Mas Alwi. Seorang ulama berdarah Hadramaut, Yaman. Lantas siapakah sosok penting yang namanya jarang disebut dalam kancah pergerakan NU selama ini?

Penyelidik Isu Pembaharuan Islam

Kiai Mas Alwi adalah salah seorang pendiri NU bersama Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Abdul Wahab Chasbullah, Kiai Ridlwan Abdullah, dan beberapa kiai besar lain. Mereka bergerak secara aktif di masyarakat sejak NU belum didirikan. Kiai Mas Alwi lah yang pertama mengusulkan nama Nahdlatul Ulama dalam versi riwayat keluarga Kiai Ridlwan Abdullah.

Namun nama Kiai Mas Alwi hampir jarang disebut dalam literatur sejarah NU. Apa sebabnya? Lantaran ia tidak memiliki keturunan dan dikeluarkan dari silsilah keluarga, sebagaimana yang akan tertulis di bawah ini. Hasil olah data dari karangan Ma’ruf Khozin, Wakil Katib Syuriyah NU Kota Surabaya dan Anggota LBM PWNU Jatim. Riwayat ini berdasarkan kisah langsung dari Gus Sholahuddin Azmi, putra Kiai Mujib Ridlwan dan cucu Pendiri NU, Kiai Ridlwan Abdullah (pencipta lambang NU) .

Memang tidak ada data pasti mengenai kelahiran Kiai Mas Alwi. Hanya ditemukan petunjuk dari kisah Kiai Mujib Ridlwan bahwa ketiga kiai yang bersahabat semasa (Kiai Ridlwan Abdullah, Kiai Wahab Chasbullah dan Kiai Mas Alwi), secara usia tidak terlalu jauh jaraknya. Pada masa awal NU berdiri (1926), usia Kiai Ridlwan 40 tahun, Kiai Wahab 37 tahun, dan Kiai Mas Alwi 35 tahun. Maka, Kiai Mas Alwi diperkirakan lahir pada sekitar 1890-an.

Ketiga Kiai tersebut, bukan sosok yang baru bersahabat ketika mendirikan sekolah Nahdlatul Wathon, namun jauh sebelum itu, ketiganya telah menjalin persaudaraan sejak berada di Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura.

Kiai Wahab dan Kiai Mas Alwi adalah dua kiai yang sudah terlihat hebat sejak masih nyantri di pondok, terutama dari sisi kecerdasan dan kecakapannya sebagai santri. Bersama Kiai Ridlwan Abdullah, Kiai Wahab Chasbullah, dan saudara sepupunya, Kiai Mas Mansur, Kiai Mas Alwi turut membidani pendirian Nahdlatul Wathon. Saat itu, Kiai Mas Mansur menjabat sebagai kepala sekolah, sebelum terpengaruh pemikiran pembaharuan Islam di Mesir yang kemudian menjadi pengikut Muhammadiyah.

Mendalami Renaisans Islam

Saat merebak isu “Pembaharuan Islam” (Renaissance), Kiai Mas Mansur, adik sepupu Kiai Mas Alwi, mempelajarinya langsung pada Muhammad Abduh, rektor Universitas al-Azhar, Mesir. Maklum, Kiai Mas Mansur berasal dari keluarga yang mampu secara material, sehingga dapat mencari ilmu hingga ke Aleksandria (Mesir) sana.

Kiai Mas Alwi yang bukan dari keluarga kaya pun, bertanyatanya tentang apa yang sejatinya dicari Kiai Mas Mansur hingga ke negeri Mesir. Padahal Renaissance (pembaharuan) itu berasal dari Eropa. Maka ia pun berusaha mengetahui apa sebenarnya Renaissance itu ke Eropa, melalui Belanda dan Prancis–dengan menggabungkan diri dalam pelayaran.

Pada masa itu, orang yang bekerja di pelayaran mendapat stigma buruk di masyarakat dan memalukan bagi keluarga. Sebab pada umumnya pekerja pelayaran selalu melakukan perjudian, zina, mabuk, dan tindak asusila lainnya. Sejak saat itulah keluarga Kiai Mas Alwi mengeluarkannya dari silsilah keluarga dan ‘diusir’ dari rumah.

Setelah Kiai Mas Alwi berhasil mendapat jawaban dari kegelisahannya, ia pun kembali ke Hindia Belanda. Setiba di tanah air, ia langsung dikucilkan oleh para sahabat, rekan sejawat, dan para tetangga. Tak patah arang, Kiai Mas Alwi membuka warung kecil di Jalan Sasak, dekat wilayah Ampel, demi memenuhi hajat hidupnya. Mengetahui ia telah pulang dari perantauan, Kiai Ridlwan pun datang menyambang.

“Kenapa sampean datang ke sini, Kang? Nanti sampean dicuci pakai debu sama para kiai lain, sebab warung saya ini sudah dianggap najis mughalladzah?”

Kiai Ridlwan malah balik bertanya.

“Dik Mas Alwi, sebenarnya apa yang sampean lakukan sampai pergi berlayar ke Eropa?”

“Begini, Kang Ridlwan. Saya ingin memahami apa sih sebenarnya Renaissance itu? Lah, Dik Mansur mendatangi Mesir untuk mempelajari Renaissance itu salah, sebab tempatnya ada di Eropa. Coba sampean lihat nanti kalau Dik Mansur datang, dia pasti akan berkata begini, begini dan begini…” (maksudnya adalah kembali ke al-Quran-Hadits, tidak bermadzhab, tuduhan bid’ah dan sebagainya)

“Renaisans di Mesir itu sudah tidak murni lagi, Kang Ridlwan, sudah dibawa makelar. Lha orang-orang itu mau melakukan pembaharuan apa dalam tubuh Islam? Agama Islam sudah sempurna. Tidak ada lagi yang harus diperbaharui. Al-Quran dengan jelas menyatakan”:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

“… Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (QS. al-Maidah [5]: 3)

Inti dari perjalanan Kiai Mas Alwi ke Eropa adalah, Renaisans yang ada dalam dunia Islam adalah upaya pecah belah yang dihembuskan dunia Barat, khususnya Belanda dan Prancis. Kiai Ridlwan kembali bertanya.

“Dari mana sampean tahu?”

“Karena saya berhasil masuk ke banyak perpustakaan di Belanda.”

“Bagaimana caranya sampean bisa masuk?”

“Dengan menikahi perempuan Belanda yang sudah saya Islam-kan. Dialah yang mengantar saya ke banyak perpustakaan. Untungnya saya tidak punya anak dengannya.”

Setelah Kiai Mas Alwi membabarkan perjalanannya ke Eropa secara panjang lebar, maka Kiai Ridlwan berkata: “Begini, Dik Alwi, saya ingin menjadi pembeli terakhir di warung ini.”

“Ya jelas terakhir, Kang Ridlwan, karena ini sudah malam.”

“Bukan begitu. Sampean harus kembali lagi ke Nahdlatul Wathon. Sebab sudah tidak ada yang membantu saya sekarang. Kiai Wahab lebih aktif di Taswirul Afkar. Sampean harus membantu saya.”

Keesokan pagi, sebelum Kiai Ridlwan sampai di Nahdlatul Wathon, ternyata Kiai Mas Alwi sudah tiba lebih dulu. Kiai Ridlwan yang masih kaget pun berkata:

“Kok sudah ada di sini?”

“Ya, Kang Ridlwan, tadi malam ternyata warung saya laku dibeli orang. Uangnya bisa kita gunakan untuk sekolah ini.”

Kedua kiai muda tersebut kemudian kembali membesarkan nama sekolah Nahdlatul Wathon.

Makam Kiai Mas Alwi

Sampai saat ini, belum ditemukan pula data tentang kapan Kiai Mas Alwi wafat, yang jelas, makam beliau terletak di pemakaman umum Rangkah, yang sudah lama tak terawat–bahkan pernah berada dalam dapur pemukiman liar yang ada di tanah pekuburan umum.

KH Asep Saefuddin, Ketua PCNU Surabaya, pernah mengerahkan Banser guna menertibkan rumahrumah yang merambah ke makam Kiai Mas Alwi. Maka sejak saat itu, makam beliau mulai dibangun dan diberi pagar. Kini, setiap perhelatan Harlah NU, Pengurus Cabang NU Surabaya kerap mengajak MWC dan Ranting se-Surabaya untuk ziarah ke makam para Muassis, khususnya wilayah Surabaya.

Pertanyaan kita, mengapa beliau dikebumikan di pemakaman umum? Tak ada jawaban pasti. Kemungkinan terbesar, karena beliau telah dikeluarkan dari silsilah keluarganya.

Sebagian kecil Nahdliyin yang mengetahui fakta ini sempat mengusulkan agar makam beliau dipindah ke kawasan Ampel. Berita ini telah diterima oleh PCNU Surabaya dan akan ditindaklanjuti. Tetapi bila prosesnya menemukan jalan buntu, maka PCNU akan berencana memindah makam beliau ke kawasan makam Jl. Tembok, diletakkan di sebelah makam sahabatnya, Kiai Ridlwan Abdullah.

Di area makam tersebut telah dikebumikan pula beberapa tokoh NU, di antaranya adalah; KH Abdullah Ubaid dan KH Thohir Bakri (dua tokoh pendiri Ansor), Kiai Abdurrahim (salah seorang pendiri Jamqur atau Jam’iyah Qurra’ wa l-Huffadz), Kiai Hasan Ali (Kepala logistik Hizbullah), Kiai Amin, Kiai Wahab Turham, Kiai Anas Thohir, Kiai Hamid Rusdi, Kiai Hasanan Nur, dan beberapa kiai lain.

Sosok besar yang nyaris terpendam dalam kuburan sejarah ini, telah menanggung risiko serius dengan dikeluarkan dari daftar keluarga sekaligus hak warisnya. Namun ia tetap melanjutkan tekadnya meneliti akar persoalan umat Islam saat itu hingga sampai ke Benua Biru. Sudah sepantasnya Muslim Indonesia harus menyertakan nama Kiai Mas Alwi saat nama para Muassis NU lain disebut.

Semoga Allah mengganjar perjuangan Kiai Mas Alwi dan para Muassis NU sebagai amal jariyah mereka. Semoga Allah mengangkat derajat mereka dan memberi keberkahan kepada para pejuang NU saat ini, sebagaimana Allah telah melimpahkan keberkahan kepada mereka semua. Semoga juga Pemerintah saat ini tergerak menahbis Kiai Mas Alwi sebagai pahlawan bangsa Indonesia–setelah Kiai As’ad Syamsul Arifin–dari kalangan Nahdlatul Ulama. Amin ya Rabb l-‘Alamin. Al-Fatihah… (Ren Muhammad, sumber : NU Online)

Ini Cerita Keluarga Makmun Syukri, sebagai Pendiri PMII

Beberapa waktu lalu, Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) berkunjung di kediaman keluarga Almarhum Makmun Syukri, salah satu pendiri PMII di Solo. Silaturahim ini pun disambut senyum hangat dan ramah keluarga kecil Mi’ratun Nisa, yang tidak lain adalah anak semata wayang pendiri PMII asal Bandung ini.

‘Bintang Sembilan Maha Cipta Pergerakan’, adalah simbol ucapan terimakasih PB PMII terhadap almarhum Makmun Syukri. Penghargaan ini pun diserahkan kepada keluarga Makmun Syukri di sela kunjungan ini.

55 tahun berlalu, Makmun Syukri bersama 12 pendiri lainnya telah mendedikasikan hayatnya hingga berdirilah PMII. Kini, PMII telah mampu tumbuh dan berkembang menjadi organisasi mahasiswa Islam terbesar di tanah air.

Ungkapan haru dan bangga sama sekali tak terjanggal keluar dari lisan anak semata wayangnya ini. Siapa sangka, Mi’ratun Nisa yang sejak kecil akrab dengan Nahdlatul Ulama, justru tak mengetahui bahwa ayah tercintanya adalah pendiri PMII.

“Saya dan keluarga sama sekali tidak menyangka kalau ternyata ayah saya adalah pendiri PMII. Organisasi besar, yang sudah melahirkan banyak sekali kader berprestasi. Saya benar-benar bangga karena ternyata, keluarga saya bermanfaat untuk Indonesia dan agama. Bahkan sampai beliau meninggal pun, namanya masih begitu dikenang,” ungkapnya.

Nisa bercerita, bahwa selama hayatnya Makmun Syukri tak henti mendedikasikan hidupnya untuk Nahdlatul Ulama (NU). Dari 16 anak Khiyai Syukri, ayahnya adalah sosok yang paling aktif dan dikenal sebagai sosok aktifis berdedikasi dan tulen. Tak jarang, ia menyaksikan Makmun Syukri berkumpul bersama pendiri PMII lain, seperti halnya Munshif Nahrawi, Mahbub Djunaidi, M Sobich Ubaid dan pendiri PMII lainnya.

“Saya kenal betul dengan Munsif nahrawi, Mahbub Djunaidi, Sobich Ubaid, dan yang lain. Karena memang, dulu mereka itu sering sekali berkumpul. Tapi saya tahunya mereka itu membahas NU,” ujarnya.

Tak hanya Nisa, buah hatinya pun terkejut ketika menyadari bahwa kakeknya adalah pendiri PMII. Dalam perbincangan di kediamannya itu pun ia mengaku, kerap membaca artikel yang menyebutkan nama ‘Makmun Syukri’ sebagai pendiri PMII. Namun Putri Nisa ini tak menyangka bahwa Makmun Syukri, alumni IKIP (sekarang UPI) yang dimaksud ini adalah kakeknya.

“Karena yang tertera di artikel namanya itu asal Bandung, karena kakek kan bukan dari Bandung. Tapi kalau memang asal itu ditulis berdasarkan asal kampus, baru saya ngeh,” ungkapnya.(Poy)

Baca juga:

PB PMII Serahkan Penghargaan Bintang Sembilan di Solo

Cholid Narbuko, Pendiri PMII Ini Sangat Demokratis

Konferensi Besar Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) di Kaliurang, 55 tahun yang lalu menjadi tonggak awal sejarah berdirinya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Tercatat 13 nama, yang bertugas merumuskan pendirian organisasi mahasiswa berbasis NU saat itu, sehingga berdirilah PMII. Salah satu dari 13 Tokoh Mahasiswa NU tersebut adalah Mahasiswa NU asal Malang yang dikenal sangat demokratis, Cholid Narbuko.

Bernama lengkap H Cholid Narbuko bin Zubair, pria ini lahir di Salatiga tepat 21 April 1937. Cholid Narbuko wafat di Semarang, pada Tanggal 13 Juni 1999 yang lalu. Ia pun dimakamkan di pemakaman tanah kelahirannya, Pemakaman Kauman Salatiga.

Cholid Narbuko adalah akademisi ulung, yang pernah menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Tarbiyah Wa Ta’lim yang saat ini dikenal dengan UNISMA (1969-1965). Selanjutnya, ia juga telah memperoleh gelar Sarjana di FISIP UNEJ Jember (1968).

Salah satu pendiri SMP NU Malang (1965) ini telah mengabdikan hidupnya untuk dunia pendidikan. Tak lama setelah mengabdikan diri di Departemen Agama Provinsi di Semarang, ia memilih untuk mengajar di PGA Jember (1967 – 1969).

Tangan dinginnya dalam dunia pendidikan juga telah membawanya menjadi Dekan Fakultas Tarbiyah di beberapa perguruan tinggi. Berawal menjadi pembantu dekan Fakultas Tarbiyah Sunan Kalijaga di Kudus (1969), ia terpilih menjadi Dekan di Fakultas tersebut (1970 -1975). Setelah itu, ia dipercayakan menjadi dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo di Semarang (1975 – 1977). Kemudian menjadi Dekan Fakultas Tarbiyah di Salatiga (1978 – 1980). Dua tahun menjadi Dekan di Salatiga, ia pun kembali menjadi Dekan Fakultas Tarbiyah Walisongo Semarang (1982 – 1989).

Setelah empat tahun berdirinya PMII, ia memutuskan untuk menikahi wanita asal Cepu, Hj. Siti Rosyidah Binti KH. Samsul Hadi. Pernikahan tersebut digelar tepat pada Tanggal 26 April 1964. Buah pernikahan tersebut dikaruniai 5 orang anak yakni, Dra Tina Wasithoh F.N, Ririn Siti Hajar Amd, Mohammad Umar Fatah Wijaya S.SSO MA, Noor Syamsiah Alina Amd, dan Jazimah Thoifatul Muthmainah Amd.

Perjalanan hidupnya begitu memberikan arti dan makna bagi keluarga dan masyarakat. Bagaimana tidak, akademisi tulen yang juga merupakan salah satu pendiri PMII ini adalah sosok yang sangat penyabar. Bahkan ia dikenal sebagai sosok pria, yang sama sekali tak pernah memperlihatkan kemarahannya. Maka tak heran, jika siapapun akan merasa tenang dan nyaman ketika bersanding, bersenda gurau dan saling berbagi cerita dengannya.

Jiwa pengabdian dan rasa sosialis yang tinggi, tak urung membuatnya lelah untuk berbagi. Ketika aktif menjadi Dekan Tarbiyah di beberapa Perguruan Tinggi, ia aktif mengadakan kegiatan bertajuk sosial. Salah satu yang rutin diadakannya adalah mengadakan sunatan masal. Tak ingin berjuang sendiri, ia terus memotivasi keluarga, agar tak kenal lelah mengabdikan diri pada lingkungan dan masyarakat.(Poy)

Syekh Nawawi Al-Bantani, Gurunya Para Ulama

Kemasyhuran dan nama besar Syeikh Nawawi al-Bantani kiranya sudah tidak perlu diragukan lagi. Melalui karya-karyanya, kira-kira mencapai 200-an kitab, ulama kelahiran Kampung Tanara, Serang, Banten, 1815 M ini telah membuktikan kepada dunia Islam akan ketangguhan ilmu ulama-ulama Indonesia.

Para ulama di lingkungan Masjidil Haram sangat hormat kepada kealimannya. Bahkan ketika Syeikh Nawawi berhasil menyelesaikan karyanya Tafsir Marah Labid, para ulama Mekkah serta merta memberikan penghormatan tertinggi kepadanya. Pada hari yang telah ditentukan para ulama Mekah dari berbagai penjuru dunia mengarak Syeikh Nawawi mengelilingi Ka`bah sebanyak tujuh kali sebagai bukti penghormatan mereka atas karya monumentalnya itu.

Nama Imam Nawawi begitu dominan, terutama dalam lingkungan ulama-ulama Syafi’iyah. Beliau sangat terkenal kerana banyak karangannya yang dikaji pada setiap zaman dari dahulu sampai sekarang. Nama ini adalah milik Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syirfu an-Nawawi yang dilahirkan di Nawa sebuah distrik di Damaskus Syiria pada bulan Muharram tahun 631 H.

Pada penghujung abad ke-18 lahir pula seseorang yang bernama Nawawi di Tanara, Banten. Nama lengkapnya adalah Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar ibnu Arabi bin Ali al-Jawi al-Bantani. Anak sulung seorang ulama Banten, lahir pada tahun 1230 H/1814 M di Banten dan wafat di Mekah tahun 1314 Hijrah/1897 Masehi.

Ketika kecil, sempat belajar kepada ayahnya sendiri, kemudian memiliki kesempatan belajar ke tanah suci. Datang ke Mekah dalam usia 15 tahun dan meneruskan pelajarannya ke Syam (Syiria) dan Mesir. Tidak diketahui secara pasti, berapa lama Imam Nawawi mengembara keluar dari Mekah kerana menuntut ilmu hingga kembali lagi ke Mekah. Keseluruhan masa tinggal di Mekah dari mulai belajar, mengajar dan mengarang hingga sampai kemuncak kemasyhurannya lebih dari setengah abad lamanya.

Karena Syeikh Nawawi yang lahir di Banten ini juga memiliki kelebihan yang sangat hebat dalam dunia keulamaan melalui karya-karya tulisnya, maka kemudian ia diberi gelar Imam Nawawi kedua (Nawawi ats-Tsani). Orang pertama memberi gelar ini adalah Syeikh Wan Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani. Gelar ini akhirnya diikuti oleh semua orang yang menulis riwayat ulama asal dari Banten ini. Sekian banyak ulama dunia Islam sejak sesudah Imam Nawawi pertama, Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syirfu (wafat 676 Hijrah/1277 Masehi) hingga saat ini, belum pernah ada orang lain yang mendapat gelaran Imam Nawawi kedua, kecuali Syeikh Nawawi yang kelahiran Banten (Imam Nawawi al-Bantani).

Meskipun demikian masyhurnya nama Nawawi al-Bantani, namun Beiau adalah sosok pribadi yang sangat tawadhu’. Terbukti kemudian, meskipun Syeikh Nawawi al-Bantani diakui alim dalam semua bidang ilmu keislaman, namun dalam dunia tarekat para sufi, tidak pernah diketahui Beliau pernah membaiat seorang murid pun untuk menjadi pengikut thariqah. Hal ini dikarenakan, Syeikh Ahmad Khathib Sambas (Kalimantan), guru Thariqah Syeikh Nawawi al-Bantani, tidak melantiknya sebagai seorang mursyid Thariqat Qadiriyah-Naqsyabandiyah. Sedangkan yang dilantik ialah Syeikh Abdul Karim al-Bantani, sepupu Syeikh Nawawi al-Bantani, yang sama-sama menerima thariqat itu dari Syeikh Ahmad Khathib Sambas. Tidak diketahui secara pasti penyebab Nawawi al-Bantani tidak dibaiat sebagai Mursyid. Syeikh Nawawi al-Bantani sangat mematuhi peraturan, sehingga Beliau tidak pernah mentawajuh/membai’ah (melantik) seorang pun di antara para muridnya, walaupun sangat banyak di antara mereka yang menginginkan untuk menjalankan amalan-amalan thariqah.

Guru-gurunya

Di Mekah Syeikh Nawawi al-Bantani belajar kepada beberapa ulama terkenal pada zaman itu, di antara mereka yang dapat dicatat adalah sebagai berikut: Syeikh Ahmad an-Nahrawi, Syeikh Ahmad ad-Dimyati, Syeikh Muhammad Khathib Duma al-Hanbali, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Maliki, Syeikh Zainuddin Aceh, Syeikh Ahmad Khathib Sambas, Syeikh Syihabuddin, Syeikh Abdul Ghani Bima, Syeikh Abdul Hamid Daghastani, Syeikh Yusuf Sunbulawani, Syeikhah Fatimah binti Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani, Syeikh Yusuf bin Arsyad al-Banjari, Syeikh Abdus Shamad bin Abdur Rahman al-Falimbani, Syeikh Mahmud Kinan al-Falimbani, Syeikh Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani dan lain-lain.

Murid-muridnya

Syeikh Nawawi al-Bantani mengajar di Masjidil Haram menggunakan bahasa Jawa dan Sunda ketika memberi keterangan terjemahan kitab-kitab bahasa Arab.

Murid-muridnya yang berasal-dari Nusantara banyak sekali yang kemudian menjadi ulama terkenal. Di antara mereka ialah, Kiai Haji Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jawa Timur; Kiai Haji Raden Asnawi Kudus, Jawa Tengah; Kiai Haji Tubagus Muhammad Asnawi Caringin, Banten; Syeikh Muhammad Zainuddin bin Badawi as-Sumbawi (Sumba, Nusa Tenggara); Syeikh Abdus Satar bin Abdul Wahhab as-Shidqi al-Makki, Sayid Ali bin Ali al-Habsyi al-Madani dan lain-lain. Tok Kelaba al-Fathani juga mengaku menerima satu amalan wirid dari Syeikh Abdul Qadir bin Mustafa al-Fathani yang diterima dari Syeikh Nawawi al-Bantani.

Salah seorang cucunya, yang mendapat pendidikan sepenuhnya dari nawawi al-Bantani adalah Syeikh Abdul Haq bin Abdul Hannan al-Jawi al-Bantani (1285 H./1868 M.- 1324 H./1906 M.). Banyak pula murid Syeikh Nawawi al-Bantani yang memimpin secara langsung barisan jihad di Cilegon melawan penjajahan Belanda pada tahun 1888 Masehi. Di antara mereka yang dianggap sebagai pemimpin perlawanan Perjuangan di Cilegon ialah Haji Wasit, Haji Abdur Rahman, Haji Haris, Haji Arsyad Thawil, Haji Arsyad Qasir, Haji Aqib dan Tubagus Haji Ismail. Para ulama pejuang bangsa ini adalah murid Syeikh Nawawi al-Bantani yang dikader di Mekkah. (Syaifullah Amin)

Subchan ZE, Pemimpin Besar yang Dilupakan

Krisis yang datang selalu menguji kualitas masyarakat dan individu. Ketika krisis terjadi, keadaan nyaris tak terkendali, semua mengalami disorganisasi dan disorientasi. Hanya individu dan masyarakat yang benar-benar dewasa dan matang yang tidak terseret dalam krisis, sebab mereka relatif bisa mengendalikan diri, tidak terjerumus dalam sikap anarki atau melakukan amuk massa yang beringas.

Orang yang teruji dalam krisis akan muncul sebagai tokoh, ia akan dijadikan panutan, karena memiliki orientasi yang jelas, pemikiran yang cerdas, serta integritas moral yang kuat. Dari pimpinan seperti itu diharapkan akan bisa menerobos dari kungkungan krisis yang dialami selama ini. Dengan adanya pengujian berat semacam itu tidak mungkin pemimpin karbitan bisa bertahan dan tidak mungkin kader cangkokan bisa menjadi panutan. Tipe semacam itu telah menjadi korban utama krisis, sehingga kehadirannya hanya menjadi sampah, untuk mengatasi krisis butuh pemimpin yang matang dan memiliki integritas yang jelas.

Dalam situasi krisis menjelang runtuhnya Orde Lama 1964-1965 muncul tokoh muda NU Subchan ZE. Seorang tokoh kharismatik, dalam arti dihormati karena memiliki kecerdasan, kemampuan memimpin dan memiliki integritas serta keberanian menanggung risiko. Saat itu Subchan menjadi pimpinan kaum pergerakan demokrasi menghadapi Demokrasi Terpimpinnnya Soekarno, sehingga pikirannya menjadi rujukan kalangan aktivis mahasiswa dan pemuda saat itu. Persis dengan posisi Abdurrahman Wahid pada masa akhir Orde Baru yang menjadi simpul perlawanan terhadap rezim otoriter itu.

Hal itu menunujukkan bahwa NU selalu tampil memberikan jalan bagi bangsa ini ketika menghadapi krisis nasional, baik diminta atau tidak. Ini menunjukkan bahwa peran NU sangat dominan dalam membangun dan mempertahankan republik ini baik melalui massanya maupun tokoh elitenya yang muncul saat krisis, ketika pemimpin yang lain kehilangan legitimasinya.

Sebagai Simpul Perjuangan

Subchan adalah pemimpin yang merangkak dari bawah, sejak dari pimpinan Cabang NU di Kudus, tetapi karena kepemimpinannya brilian, maka kemudian dipromosikan menjadi salah seorang pengurus besar NU. Sebagai seorang yang berangkat dari bawah, maka mekanisme demokrasi sangat diharapkan, sebab hanya dengan mekanisme itu kelompok yang tidak punya prelese memiliki akses politik dan kepemimpinan. Dengan latar belakang semacam itu maka wajar kalau sejak awal sangat concern pada demokrasi, karena itu keputusan Soekarno untuk melibas sidang konstituante serta mengeluarkan Dekrit Presiden 1959 benar-benar merisaukan Subhan, apalagi Dekrit tersebut kemudian mengarah pada pembentukan Demokrasi Terpimpin, yang bagi Subhan adalah pengkhianatan terhadap gagasan Demokrasi itu sendiri. Karena itu ia menggabungkan diri ke dalam kelompok oposisi yang terhimpun dalam Liga Demokrasi. Demokrasi menurut Subchan adalah sebuah proses tukar-menukar gagasan dan kekuatan, dari pergumulan ide dan kekuasaan itulah kemudian bisa dirumuskan pendapat bangsa.

Dalam suasana Demokrasi terpimpin yang otoriter, Subchan walaupun kapasitasnya sebagai pemimpin NU, namun jangkauan kepemimpinannya melampaui organisasinya itu. Dengan kejernihan pikirannya dan keberaniannya menyampaikan pikiran, maka pikiran dan tindakannya dijadikan rujukan kalangan pemuda dan mahasiswa pada umumnya. Dari situ Subchan menyelenggarakan forum dialog baik formal maupun informal untuk tukar menukar gagasan, sebagai elemen dari demokrasi, sebelum kemudian di tingkat politik ia berusaha melakukan pergumulan kekuatan untuk membentuk kekuatan nasional. Tetapi hal itu sulit dicapai, sebab pemerintahannya tidak demokratis, anggota parlemen tidak dipilih tetapi diangkat, karena itu ia disamping berjuang melalui jalur partai politik NU, namun memiliki pijakan di dunia intelektual dan mahasiswa pada umumnya.

Kepedulian Terhadap Masalah Politik dan Ekonomi

Ketika Demokrasi Terpimpin menjadikan politik sebagai panglima, tetapi Subchan tidak terlalu terpengaruh pada iklim itu, karena itu ia tetap tekun dalam melakukan kajian ekonomi. Ia mengikuti beberapa kursus ekonomi di luar negeri dan menjadi mahasiswa tamu di sana antara lain di Standford University, Washington University dan Blumington University dan juga di California University. Dengan minatnya yang kuat ia memiliki pengetahuan ilmu ekonomi sangat mendalam. Dengan kemampuan itu ia menjadi anggota beberapa lembaga ekonomi seperti Ketua Dewan Ekonomi Indonesia Pusat, Wakil Presiden Perhimpunan Ekonomi Asia Afrika, menjadi Dekan Fak Ekomoni Universitas Nahdlatul ‘Ulama dan dosen tamu bidamg ekonomi dan politik di berbagai universitas.

Ekonomi bagi Subchan buka hanya teori, tetapi juga praktik, sejak kecil ia memang telah bergumul dengan dunia bisnis, di kota industri Kudus, dari situ justru minatnya dalam bidang teori ekonomi tumbuh. Karena itu pengetahuannya tentang ekonomi tidak textbook thinking, melainkan penguasaan empiris, sehingga lebih relevan dan lebih berdaya guna dalam menyelesaikan masa.

Sumber: nu.or.id

Jejak Gusdur di Pulau Flores

Oleh Didik Fitrianto

Mantan presiden Indonesia yang mendapatkan tempat di hati masyarakat Flores selain Bung Karno adalah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sikap Gus Dur yang selalu menyerukan perdamaian dan toleransi mempunyai kesamaan dengan nafas orang Flores yang sangat mencintai perdamaian dan menjunjung tinggi toleransi. Bagi masyarakat Flores Gus Dur bukanlah sekadar mantan presiden tetapi juga tokoh yang menjadi panutan dan referensi soal kehidupan beragama yang belum tergantikan sampai saat ini, terutama pembelaan beliau terhadap kaum minoritas dan tertindas

Tidak banyak catatan mengenai perjalanan Gus Dur di Flores, Nusa Tenggara Timur. Tetapi ‘jejak’ Gus Dur tentang konsistensinya akan perdamaian, toleransi, dan pembelaannya terhadap kaum minoritas begitu ‘membekas’ di hati saudara-saudara kita di Pulau Flores. Dalam kunjungan penulis di berbagai pelosok Flores saat mendiskusikan tentang perdamaian dan toleransi antar umat beragama dengan berbagai lapisan masyarakat, nama Gus Dur selalu disebut-sebut. Perbendaraan kata yang selalu muncul saat nama Gus Dur disebut adalah tokoh sederhana, tulus dan pemberani. Ketika penulis bertanya mengapa Gus Dur? Jawab mereka karena Gus Dur adalah tokoh muslim yang selalu membawa kedamaian, sepanjang hidupnya baik melalui perkataan, tindakan, maupun  kebijakannya saat menjadi presiden beliau tidak pernah menyakiti kami.

Pada tahun 2005 Gus Dur pernah mengunjungi kota Maumere, salah satu kota di Flores, di kota yang mempunyai julukan nyiur melambai ini Gus Dur melakukan kunjungan ke Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero, sekolah calon Pastor terkemuka dan disegani di Indonesia. Dalam kunjungan tersebut Gus Dur bertemu untuk berdialog dengan para calon Pastor yang kelak akan ikut andil merawat kebhinekaan di republik ini, Gus Dur percaya membangun toleransi di Indonesia yang penuh keberagaman salah satunya dengan jalan dialog yang tulus. Gus Dur meyakini toleransi tidak akan terwujud apabila kecurigaan selalu ada diantara umat beragama, untuk itu membangun kepercayaan dan dialog tanpa henti selalu disuarakan Gus Dur dimanapun beliau berada.

Mencari jejak Gus Dur berupa prasasti maupun monumen tidak akan kita temukan di Pulau Flores. Tetapi akan banyak kita temukan “jejak” Gus Dur di hati dan ingatan masyarakat Flores untuk mengenang sosok yang sangat mencintai perdamaian ini. Pribadi  Gus Dur yang sederhana, terbuka dan tanpa basa-basi membuat ketokohan Gus Dur selalu dikenang, dicintai dan dihormati. Toleransi di Pulau Flores harus kita akui sudah ada sejak ratusan tahun silam, jauh sebelum Gus Dur lahir, tetapi apa yang dilakukan beliau untuk mewujudkan kehidupan beragama yang saling menyanyangi dan melindungi memperkuat keyakinan masyarakat di Pulau Flores bahwa toleransi adalah budaya agung yang mereka miliki yang harus dipertahankan sampai kapan pun.

Tegaknya kebangsaan dan kemanusiaan di Indonesia menurut Gus Dur bisa terwujud apabila fondasi dalam kehidupan bermasyarakat kokoh. Salah satu fondasi yang menjadi perhatian Gus Dur adalah Pluralisme dan kebhinekaan. Gus Dur menyadari Indonesia dibangun diatas keanekaragaman agama, suku dan bahasa. Untuk itu sepanjang hidupnya beliau mendedikasikan waktunya untuk merawat dan menjaganya demi keutuhan bangsa. Walaupun terkadang apa yang dilakukan Gus Dur tersebut menuai kecaman dan penolakan dari sebagian umat Islam sendiri yang menganggap apa yang dilakukan beliau bertentangan dengan ajaran Islam. “Gitu aja kok repot” kata Gus Dur untuk menanggapi serangan dari orang-orang yang dangkal dalam berpikir. Bagi Gus Dur ada dua acuan untuk mengawal pluralisme dan kebhinekaan, yaitu konstitusi dan subtansi nilai-nilai keislaman luhur. Yaitu Islam yang berorientasi pada kebangsaan harus mampu mewarnai kehidupan bernegara.

Di Pulau Flores Gus Dur mendapatkan realitas kehidupan masyarakatnya yang menunjukkan nilai-nilai Islami walaupun mayoritas adalah non muslim. “Ra’aitul Islama dunal muslimin, wa ra’aitul muslimin dunal islam” yang artinya, “Nilai-nilai Islami terlihat di tengah masyarakat nonmuslim, sementara umat Islam hidup tanpa nilai-nilai Islam” pernyataan cendikiawan  muslim Muhammad Abduh tersebut menjadi relevan dengan apa yang dirasakan Gus Dur di Pulau Flores.

Mungkin agak berlebihan tetapi pengalaman penulis selama lima tahun berinteraksi dengan masyarakat Flores merasakan hal sama di mana toleransi dan penghormatan akan kebhinekaan menjadi urat nadi masyarakatnya. Gus Dur dan Pulau Flores memiliki ikatan batin yang sangat kuat, di pulau ini Gus Dur menemukan sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi persaudaraan dan penghormatan dari berbagai keyakinan dan kepercayaan. “Jejak” Gus Dur tentunya akan terus dikenang tidak hanya di tanah Flores tetapi di semua tanah yang selalu menyerukan perdamaian.

* Penulis adalah Gusdurian, bekerja di Wetlands International Indonesia, tinggal di Maumere-Flores, NTT

Iqbal Assegaf, Ketum PB PMII dari Labuha

index

Kematian, siapakah yang dapat menebak kapan datangnya ? Tidak seorangpun, tidak siapapun. Ia, seperti kata Jean Paul Sartre, pemikir Prancis, itu adalah sebuah piringan hitam yang pecah sekaligus sebuah kehidupan yang lengkap . Demikian , ketika suatu sore, disenja Jakarta yang basah, kematian itu tiba- tiba datang membawa kabar berpulangnya sahabat Muhammad Iqbal Assegaf. Kami terhenyak. Kabar itu sulit sekali dipercaya karena tidak  seorang dari kami, sahabat- sahabatnya, pernah menduga dihadapkan pada kenyataan yang menyesakkan dada itu.

Sore itu, Sabtu, 13 Februari 1999, ketika sahabat-sahabat Ansor sedang melaksanakan Program Pelatihan Pekerja Terampil ( P3T) di Graha Wisata Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, kabar duka itu datang mengusung awan hitam diatas kepala kami. Seseorang datang dari rumah sakit Islam Jakarta memberi tahu bahwa ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, Drh. Muhammad Iqbal assegaf, anggota FKP DPR RI, mengalami kecelakaan dipintu tol Plumpang, Jakarta Utara dan meninggal dunia beberapa saat kemudian.

Kabar yang mengejutkan itu serta merta membuat pelatihan langsung ditutup. Seluruh peserta pelatihan bersama-sama langsung menjenguk kerumah sakit. Tapi itulah rupanya kesempatan terakhir sahabat-sahabat Ansor untuk bertemu dengan Iqbal. Kecelakaan dipintu keluar tol Cawang – Tanjung Priuk itu bukan saja menyebabkan mobil BMW biru tua B 63 RI yang dikemudikan Iqbal ringsek, tapi juga mencedrai nyonya Rahma Muhammad, SH Isterinya bahkan menyebabkan menyebabakan Iqbal sendiri harus menghadap kepada Al khaliq, Allah subhanahu Wata’ala , sang maha pencipta.

Hari itu, masih dalam suasana  lebaran Iedul Fitri 1419 H, Iqbal bersama Istrinya berniat untuk menghadiri halal bil halal warga Maluku Utara di galanggang remaja Jakarta Utara. Dengan mengemudikan sendiri mobilnya, keduanya meluncur dijalan  Ir. Wiyoto Wiyono Wiyono. Namun sesaat setelah keluar pintu Plumpang, mobilnya slip karena menghindari genangan air dan menabrak tembok pembatas jalan hingga menerobos masuk jalur jalan yang berlawanan arah. Saat itulah sebuah mobil colt L 300 yang melaju kencang menabrak BMW yang dikemudikan Iqbal hingga bagian kanan BMW tersebut penyok dan Iqbal yang duduk dibelakang stir, terjepit.

Menurut iryanto, saksi mata yang mengemudikan mobil sekitar 50 meter dibelakang mobil yang dikemudikan Iqbal, begitu melihat kecelakaan tersebut kemudian ia memberhentikan mobilnya dan segera memberikan pertolongan . Iryanto menuturkan , setelah kecelakaan hebat  itu, Iqbal tampak masih bernapas dan sempat mengucapkan kalimat Syahadad.  “Tetapi Kondisinya sudah sangat payah dan bebebrapa saat kemudian  Iqbal menghebuskan nafasnya yang  terakhir,” katanya.

Sedangkan Rahma Muhammad Iqbal SH, Istrinya, menurut Iryanto, waktu itu masih sadarkan diri dan sempat berteriak meminta pertolongan . Beberapa orang kemudian membawa Iqbal kerumah sakit Islam Cempaka Putih, Jakarta. Selanjutnya Iqbal dibaawa kerumah sakit Cipto Mangunkusumo untuk di otopsi. Dari rumah sakit Cipto Jenazah Iqbal lalu dibawa kerumah duka untuk dimandikan dan dishalatkan. Jenazah iqbal lalu dimakamkan dipemakaman keluarga Al Hadad, kalibata Jakarta Selatan dalam sebuah upacara sederhana yang dihadiri keluarga, kerabat , teman teman dan sahabat Pemuda Ansor dan Banser DKI Jakarta. Inna Lillahi Wainna Ilaihi Raji’uun.

Kematian itu, sungguh, meskipun setiap kita pernah menyaksikan musibah serupa, tapi saat ia datang menjemput sahabat  Iqbal dalam usianya yang masih 42 tahun, sangat tak mudah untuk diterima begitu saja sebagai “suratan takdir” yang sudah digariskan oleh Allah SWT. Walaupun kita tahu Allah punya rencana sendiri terhadap semua hambaNya, namun taks erdikit sahabat-sahabat Ansor yang bertanya mengapa Allah begitu tega memanggil Iqbal pulang ke haribaanNya justru disaat ia sedang berada dipuncak penitian karirnya.Tak sedikit orang yang bahkan mencoba untuk meraba-raba rahasia Allah, sang maha pencipta itu. Mengapa Allah terlalu cepat memanggilnya justru ketika ia sedang berupaya membangun cita-cita luhurnya untuk keluarga, organisasi, bangsa dan negaranya ?

Sampai hari ini tak seorangpun yang tahu apa jawabannya. Tak seorangpun yang bisa menebak rahasia semesta Allah sang Maha. Sebab hanya dialah yang tahu rahasia apa yang ada dibalik kehendakNya itu. Sedang kiata hanya dapat mengambil hikmahnya. Memetik pelajaran dari garis takdir yang sudah ditentukanNya. Tak terkecuali garis takdir yang ditetapkanNya terhadap sahabat M. Iqbal Assegaf, betapapu kita semua menyesali kepergianNya.

LAHIR DARI DARAH PEJUANG

Lahir dikampung Bajo, sebuah desa terpencil dipulau Bacan kab Maluku Utara pada pada tanggal 12 oktober 1957, Iqbal adalah anak keempat dari duabelas orang bersaudara yang semuanya laki-laki. Kedua orang tuanya, Bapak Husein Ahmad Assegaf dan Ibu Rawang Abdullah Kamarullah, adalah orang desa yang hidup sangat sederhana namun sangat dihormatioleh pendududk desa . Ayahnya selain berpengetahuan agama yang cukup luas, adalah keturunan langsusng dari Habib Umar Assegaf, adalah seorang pejuang kemerdekaan keturunan arab yang berasal dari Palembang dan menikah dengan Raden Ayu Azimah, Putri sultan Badaruddin II. Kira kira pada awal abad ke20. Habib Umar Assegaf yang berjuang bersama Sultan Badaruddin II melawan kolonialis Belanda, tertangkap dan keduanya kemudian dibuang ke Tondano.

Dari perkawinan Habib Umar dengan Raden Ayu Azimah ini lahirlah Abdullah Assegaf yang kemudian menikah dengan seorang wanita keturunan Belanda bernama Meyers dan dikaruniai empat orang anak. Ketika Ny. Meyers meninggal dunia, Abdullah Assegaf menikah lagi dengan seorang wanita setempat yang masih memiliki hubungan darah dengan kyai Mojo, salah seorang Panglima perang Pangeran diponegoro yang tertangkap oleh Belanda dan dibuang ke Tondano. Keturunan kyai Mojo di Tondano inilah yang kemudian dikenal sebagai keturunan bangsawan Suratinoyo. Dan Abdullah Assegaf menikahi salah seorang perepuan dari bangsawan Suratinoyo. Lalu dari perkawinannya dengan putri bangsawan Suratinoyo inilah lahir kakek Iqbal, yaitu Habib Ahmad Assegaf.

Di Ternate dipagi hari Iqbal masuk sekolah umum di SD Islamiyah dan siang harinya ia sekolah agama dimadrasah Diniyah Awwaliyah Al- Khairat.Ada cerita menarikdari masuknya Iqbal ke madrasah Al Khairat ini. Karena di SD Islamiyah itu masuk pagi, siang harinya ia suka main ke madrasah dan suka mengintip anak- anak yang belajar lewat jendela kelas. Iqbal sangat ingin belajar dimadrash itu tapi dia tidak punmya uang. Hampir setiap hari Iqbal main kemadrasah tersebut. Tapi dia dapat mengintip murid- murid yang sedang belajar dari balik jendela kelas.

Suatu hari seorang guru memberikan pelajaran “nahwu” dan mengajukan pertanyaan pada murid-murid yag sedang belajar dikelas itu. Tak ada seorang murid yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Tapi Iqbal dari balik jendela kelas, tanpa malu-malu menjawab pertanyaan guru tersebut. Jawaban Iqbal rupanya membuat guru madrasah tersebut tertarik. Ia lalu mengajak Iqbal Masuk kedalam kelas. Sejak itu Iqbal bahkandibolehkan menjadi murid di madrasah tersebut. Bukan main senang hati Iqbal. Ia langsung masuk kemadrasah itu dan langsung duduk dikelas dua. Setelah catur wulan pertama, tanpa mengikuti ujian akhir, Iqbal malah lompat kelas lagi kekelas tiga. Dimadrasah Al khairat ini pulalah bakat berpidato Iqbal mulai terlihat. Setiap kali ada lomba berpidato antar siswa, Iqbal selalu mengikutinyadan selalu tampil jadi juara.

Aba Ye mengisahkan, pada waktu-waktu luang, selain sekolah iapun mengajari Iqbal berdagang. “Kami punya usaha membuat roti, dan Iqbal aku suruh untuk menjual roti-roti itu,” katanya. Setiap hari, dengan membawa keranjang rotan berisi roti yang ditaruh belakang sepedanya, Iqbal mengayuh sepedanya keliling kota Ternate. “Saya senang karena dia tidak malu melakukan pekerjaan itu,”ujar Aba Ye. Dengan cara itu, ujar Aba Ye, Ia berharap agar Iqbal dapat memperoleh pelajaran berharga untuk masa depannya. “Supaya dia tahu mencari uang tidak mudah. Sebab tanpa bekerja seseorang tidak akan dapat berbuat banyak untuk hidupnya,”kata Aba Ye. Iqbal sendiri melakukan pekerjaan menjadi penjual roti itu sampai ia duduk dikelas tiga SMA.

Selain mejual roti, dirumah pamannya itu Iqbal juga diberi tugas mengisi bak air. Di Ternate, sumur keluarga Aba Ye sangat dalam karena rumah mereka ada diatas bukit. Mungkin karena tugas itulah tubuh Iqbal ketika kecil terlihat kekar dan berotot. Tapi ujar Aba Ye, karena anak-anaknya juga banyak tugas mengisi bak air tak sepenuh oleh Iqbal. “Saya membuat jadwal dan membagi tugas mengisi bak air itu dalam kelompok. Iqbal satu ke;lompok dengan anak saya Najib,” ujar Aba Ye.Tapi waktu itu kata Aba Ye, Iqbal justru meminta agar ia sendiri saja yang mengisi bak ait tanpa harus menyertakan Najib. “Saya haru terharu mendengar permintaanya itu. Padahal saya akan menunjukkan padanya bahwa saya tidak pilih kasih. Saya katakan padanya bahwa semua anak saya harus bekerja,” kenang Aba Ye.

Aba Ye menyebutkan, sejak kecil Iqbal adalah anak yang penurut, sopan dan hormat pada yang lebih tua. “Dia tidakpernah melawan pada saya.Apayang saya katakan tidak pernah dibantahnya,” tutur Aba Ye. Tapi di sisi lain, kata Aba Ye, dia selalu ingin tahu kesulitan orang lain. Jika ada persoalan, dia selalu ingin ikut membantu. Saya sering ingatkan dia jangan suka mencampuri masalah orang. “Tapi itu rupanya sudah menjadi pembawaannya,” ujar Aba Ye lagi. Menurut Aba Ye, Iqbal adalah seorang yang tidak bisa melupakan begitu saja jasa orang kepadanya. Bahkan, kata Aba Ye, dia selalu ingin membantu siapa saja yang kesusahan. “Dia tidak bisa melihat penderitaan orang lain. Bahkan setelah ia di Jakarta, saya sendiri sering sekali  menerima kiriman uang darinya,” tutur Aba Ye.

HIDUP ITU TIDAK SENDIRI

Diluar pelajaran tentang kerasnya perjuangan hidup yang dialami Iqbal dimasa-masa kanak-kanaknya itu, orang yang justru berpengaruh pada pem,bentukan watak dan kepribadian Iqbal di kemudian hari adalah ayahnya sendiri. Ayahnyalah, Habib Husein Ahmad Assegaf, yang menanamkan pemahaman tentang nilai-nilai filosofis kehidupan kepadanya.. Hal ini bisa dimaklumi karena, menurut Rahma, sekalipun Iqbal sejak SD kecil tinggal di Ternate, namun setiap kali liburan sekolah tiba, dia tetap menyempatkan diri pulang keBajo bertemu ayahnya. Selama pertemuan di masa liburan itulah ayahnya selalu bercerita sejarah kebesaran Islamdan keduanya kemudian menghabiskan waktu dengan berdiskusi tentang persoalan tersebut. Terkadang ayahnya menceritakan sejarah itusambil mengajaknya memancing ikan dilaut.Bahkan ketika kemudian Iqbal sudah sudah duduk dibangku SMA dan ia menyadari potensi yang dimiliki anaknya itu, dia pun mulai menceritakan tentang kandungan-kandungan filsafat karya beberapa filosof terkemuka, diantaranya pemikir Muhammad Iqbal. Bahkan, selain hal-hal bersifaty rasional tadi, ayahnya juga mengajarkan masalah-masalah yang menyangkut tarekat. Iqbal sendiri, dikemudian hari, mengaku msangat bangga pada ayahnya tersebut.

Bagaimana besarnya pengaruh pendidikan watak yang ditanamkan ayahnya itu mepengaruhi kehidupan Iqbal dikemudian hari, bisa dilihat dalam berbagai aktivitas Iqbal bahkan sampai akhir-akhir masa hayatnya. Sebagai anak lelaki, sejak kecil Iqbal sudah diajari mengenai bahwa dia tidak hidup sendiri didunia ini. Sejak kecil dia sudah diajari dirinya adalah bagian kecil dari komunitas besar lingkungan masyarakatnya. Dan ajaran seperti itulah, ujar Iqbal suatu kali, yang selalu mendorongnya untuk tetap berdiri pada kerangka berfikir dan keinginan bertindak secara komunal. Bahkan ajaran seperti itu pula yang selalu mendorongnya untuk tampil sebagai “pioneer” bagi penyelesaian problem yang dihadapi teman-temannya.

Karenanya, bukan hal aneh ketika Iqbal menjadi ketua Umum PMII atau saat ia menjadi ketua Umum GP Ansor sampai menjelang akhir hayatnya, didatangi teman-teman dan adik-adik organisasssinya yang minta uang untuk biaya kuliah atau untuk mebayar uang kost. Bahkan tidak aneh pula kalau sebagai ketua umum Organisasi pemuda dilingkungan NU, Iqbal rela meminjami sekedar kopiah dan ikut mengantarkan adik kelasnya diorganisasi yang ingin menikah sekalipun ia harus rela keluar masuk pelosok-pelosok desa. Iqbal tak pernah sayang mengeluarkan uang maupun tenaganya untuk menolong sahabat-sahabat yang mebutuhkan pertolongan itu. Tidak sedikit Adik kelas atau rekan organisasi yang pernah “dibantunya  itu kini malah tampil sebagai politisi atau usahwan muda yang sukses. Dan keikhlasan seperti itu, tidak bisa tidak, adalah cerminan sebuah sikap solider yang sangat dimotivasi oleh pendidikan yang ditanamkan ayahnya dan pengalaman hidup Iqbal sendiri pada masa kecilnya.

Solidaritas Iqbal terhadap lingkungannya itu bisa dilihat ketika tahun 1997 misalnya, saat Jakarta dilanda banjir besar dan rumah-rumah penduduk yang tinggal di bantaran kali Ciliwung terendam air, Iqbal, pada suatu malam mengajak isterinya membawa makanan. dan mendatangi penduduk yang terkena musibah itu di kawasan Kalibata. Rahma menuturkan, mulanya dia menolak dan meminta Iqbal untuk datang besok siang saja. Tapi Iqbal justru bersikeras untuk datang malam itu juga. “Saya akhirnya mengalah. Malam itu juga kami datang ke Kalibata dengan membawa makanan. Tapi karena gelap, sampai-sampai bemper mobil yang kami tumpangi penyok karena menabrak trotoar,” cerita Rahma. Tapi Iqbal, kata Rahma, justru tenang saja. Ketika Rahma akhirnya bertanya mengapa untuk memberi bantuan saja harus malam-malam, Iqbal menjawab bahwa itulah yang dilakukan Imam Ali r.a. Menurut Rahma, ketika itu Iqbal mengatakan bahwa Imam Ali La justru memilih malam hari untuk membantu orang agar ketika tangan kanannya memberi bantuan tangan kirinya tidak mengetahui.

Kesadaran berpikir dan bertindak atas nama kepentingan  “orang banyak” itulah yang agaknya turut membentuk kemampuan Iqbal sebagai organisatoris. Dan itulahlah yang membuat ternan-ternan di masa kanak-kanaknya di SMP Negeri Ternate mendaulatnya untuk menjadi Ketua OSIS hingga ia tamat pada tahun 1974. Pendaulatan itu terulang kembali ketika ia menanjak remaja dan meneruskan sekolahnya ke SMA Negeri Ternate. “Waktu itu, secara aklamasi, ternan-ternan di SMA Negeri Temate meminta saya menjadi Ketua OSIS,” kenang Iqbal yang lulus dari sekolah menengah tersebut pada tahun 1977.

Sebelum terlibat dalam semua aktivitas kemahasiswaan/kepemudaan, Iqbal sesungguhnya sudah menyimpan catatan sejarah yang sangat panjang tentang keterkaitannya di organisasi. Masuk SMP Negeri Ternate tahun1972, ia sudah menjadi Ketua OSIS di SMP tersebut hingga akhimya lulus pada tahun 1974. Bahkan .SMP itu bakat kepemimpinan dan keberanian Iqbal sudah nampak menonjol. Menurut Ismunandar, teman semasa kecilnya, ketika menjadi ketua OSIS itu Iqbal bahkan sempat dipukul pak Lestaluhu, kepala sekolah SMP Negeri Ternate. Pasalnya karena Iqbal, tanpa sepengetahuan para guru, menyuruh seluruh siswa lelaki di sekolah itu memakai celana panjang pada setiap hari Sabtu. “Anehnya teman-teman mau saja,” kata Ismunandar. Keberanian serupa juga terlihat ketika, masih di SMP dulu, Iqbal berani ikut lomba pop singers dan bersaing dengan penyanyi-penyanyi yang sudah terlatih. “Sekalipun dia tak pemah jadi juara, tapi keberaniannya untuk tampil di atas panggung cukup luar biasa,” ujar Ismunandar.

Soal keberanian Iqbal bertindak dan mengambil keputusan itu dibenarkan juga oleh.Ismet Al-Hadar. “Begitu ,beraninya Iqbal sampai-sampai dia pernah dipecat sebagai Ketua OSIS SMA Negeri Temate. Soal itu, kata Ismet, diceritakan Iqbal padanya lewat surat. “Dan itulah satu-satunya surat yang pemah ditulis Iqbal untuk saya,” kat a Ismet lagi. Dalam surat itu, kata Ismet, Iqbal menceritakan perlakuan tidak adil Ibu Siti Hawa, Kepala Sekolah SMA Negeri Ternate yang memecatnya sebagai ketua OSIS di SMA tersebut. “Waktu itu saya sudah menetap di Jawa. Dan Iqbal, dalam suratnya mengeluhkan pemecatan itu,” kisah Ismet. Ismet menceritakan, menurut Iqbal pemecatan itu dilakukan karena dia dianggap tidak disiplin dan absen saat sekolah mengadakan acara ‘penting. Padahal, menurut Iqbal, dia tidak bisa mengikuti acara sekolah karena ayahnya, orang yang sangat dihormatinya, meninggal dunia dan dia harus pulang ke Bajo untuk menghadiri pemakamannya. “Pemecatan itu merupakan tindakan sepihak dari kepala sekolahnya,” tulis Iqbal dalam suratnya.

Namun Ibu Siti Hawa membantah alasan pemecatan yang dikemukakan Iqbal itu. Menurutnya, sebagai murid yang pintar dan unggul dalam beberapa mata pelajaran, Iqbal pada dasamya memang anak yang baik dan taat pada guru serta orangtua. “Sholatnya juga tidak pemah tinggal,” kata Ibu Siti Hawa. Namun, tambahnya, karena kepintarannya itu Iqbal suka over acting. “Dia selalu merasa paling pintar di antara teman-temannya. Dan karena sifatnya itulah saya memecatnya sebagai Ketua OSIS,” ujar Ibu Siti Hawa. Ia menambahkan, tidak. ada maksud apapun dari pemecatan Iqbal waktu itu. “Sayabermaksud baik. Saya ingin memberikan pembinaan kepadanya agarsifat merasa paling pintar itu tidak terulang lagi di kemudian hari,” kata ibu Siti Hawa. Sebab, tambahnya, pada saatnya nanti Iqbal pastilah akan hidup dan b’ergaul dengan masyarakat lain. “Jadi pemecatan itu saya lakukan untuk memberi pelajaran kepadanya bahwa sifat merasa paling pintar itu tidak baik,” ujar Ibu Siti Hawa.

Pria berpenampilan trendy dan selalu tampil tenang ini sepertinya memang ditakdirkan untuk menjadi aktivis. Sejarah panjang keterlibatannya di berbagai organisasi kepemudaan, di kampus maupun di luar kampus, membuktikan hal itu. Komitmennya terhadap dunia kepemudaan di Indonesia dan intensitas pergulatannya dalam berorganisasi, pada akhirnya ikut memperkokoh anggapan itu. Meski terkadang suka meledak-ledak, kiprah Iqbal tetap menjadi fenomena menarik dalam rangka membangun kepercayaan masyarakat terhadap organisasi kepemudaan di Indonesia. Setidaknya hal itu mulai terlihat ketika dia menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) masa bakti 1988-1991.

Semasa memimpin PB. PMII itulah “ghirah” politik Iqbal mulai mengkristal. Pada periode ini, sebagai Ketua Umum PMII Iqbal sempat membuat merah telinga beberapa pejabat pemerintah Orde Baru. Padahal saat itu mayoritas organisasi kepemudaan tampil lebih sebagai “pak turut” dan semata-mata tunduk pada kemauan pemerintah ketimbang sebagai anak muda yang kritis. Namun Iqbal mendobrak kebekuan itu.
Ketika terjadi musibah terowongan Mina pada musim haji tahun 1990 yang menewaskan sekitar 1600 jamaah haji asal Indonesia, Iqbal, dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dengan lantang mengeritik kinerja Departemen Agama dalam urusan penyelenggaraan haji tersebut dan meminta menteri agama Munawir Sadzali (alm) mundur dari jabatannya.

Pernyataan keras PMII itu sebenarnya dilontarkan Endin Soefihara, salah seorang Ketua PB. PMII. Namun Iqbal yang ketika itu berada di Amerika, menyetujuinya dan kemudian mengambil over permasalahannya. Menteri Agama Munawir Sadzali marah besar dan menganggap Iqbal tidak mengerti duduk persoalannya. Tapi tuntutan PMII itu justru disambut positif banyak ormas lain. Bahkan Ikadin, ketika itu, ikut menuntut agar menteri agama Munawir Sjadzali diadili di mahkamah Internasional karena keteledorannya.

Ghirah sebagai aktivis itu semakin menyala ketika Iqbal maju sebagai calon Ketua Umum GP Ansor dalam kongres Ormas pemuda itu di Palembang pada bulan September 1995. Dalam kongres itu, Iqbal yang berasal dari luar Ansor, justru terpilih menjadi Ketua Umum Ansor untuk masa bhakti 1995 – 2000. Terpilihnya Iqbal itu semakin memperkokoh sosoknya sebagai seorang aktivis yang memiliki visi dan konsepsi organisasi yang jelas. Pendaulatan itu sekaligus mempertegas eksistensinya bahwa PMII bukanlah anti klimaks dari (fitrah) kepemimpinannya sebagai aktivis tersebut.

Sumber: forluni.com

M. Zamroni, Pejuang yang Konsisten

Zamroni Tokoh Gerakan Yang Inspiratif

Di awal kebangkitan orde baru, siapa yang tidak mengenal nama� Mohammad Zamroni. Nama mencuat sejak tahun 1965 hingga 15-20 tahun kemudian dalam kancah perpolitikan Indonesia. Namun,kemudian tiba-tiba dia tenggelam ditelan zaman karena memegang teguh idealisme, ia enggan larut dalam tuntutan pragmatisme politik. Sementara teman seangkatannya pada menduduki posisi penting dalam kekuasaan, karena menjadi pendukung Golkar, sementara ia tetap di Partai NU dan kemudian bergabung bersama PPP, yang saat itu menjadi partai oposisi paling potensial dalam melakukan kontrol terhadap kekuasaan.

Dengan sikapnya yang konsisten itulah perjuanggannya tidak dihargai oleh rezim orde baru, berbeda dengan temannya yang menjadi penopang rezim itu bisa menikmati kekuasaan, namun dengan menggadaikan idealisme mereka, dan bersedia amenjadi aparat untuk merepresi rakyat, pembelenggu kebebasan. Sebaliknya Zamaroni menentang rezim represifitu, karenanya ia disingkirkan dari kekuasaan, seperti layaknya bukan seorang tokoh yang pernah berjasa pada republik ini. Padaahal ia seorang ketua umum PB PMII yang sekaligus menjabat sebagai ketua Kesatuan Akasi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang menumbangkan orde lama dan menegakkan orde baru.

M. Zamroni terlahir dari keluarga sederhana di kota Kudus Jawa Tengah. Kedua orang tuanya mendambakan puteranya menjadi seorang kiai, paling tidak mualim yang menguasai ilmu agama. Karena itu setelah tamat Sekolah Rakyat (SR), Zamroni melanjutkan sekolah ke Pendidikan Guru Agama -PGA- enam tahun di kota Magelang Jawa Tengah. Dengan susah payah, kedua orang tuanya mencukupi biaya pendidikan puteranya, dari hasil bercocok tanam padi di sawah dan ladang yang tidak terlalu luas. Namun tekad ibu bapaknya cukup keras, dan akhirnya Zamroni dapat menyelesaikan Sekolah PGA dengan baik.

Zamroni muda kemudian melanjutkan tugas belajar ke IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, setelah sebelumnya diterima menjadi pegawai negeri sipil di departemen agama.Jakarta,dan mendapat tugas mengajar di Magelang. Tugas inipun dapat diselesaikan dengan baik. Untuk beberapa tahun ia menetap di kota dingin ini dan berumah tangga, karena memenuhi keinginan kedua orang tuanya untuk cepat-cepat mendapatkan cucu-cucunya.

Tahun 1962 Zamroni hijrah ke Jakarta, sambil terus� melanjutkan sekolah di IAIN Syarif Hidayatullah Ciputat. Tugas belajar ini ditunaikan dengan baik, meskipun Zamroni diberi tanggung jawab sebagai Kepala Sekolah PGA Negeri Mampang Prapatan Jakarta Selatan. Tugas rangkap belajar dan mengajar ini dirasakan cukup berat bagi Zamroni, dan karena anak muda ini suka berorganisasi, maka kesibukannya masih ditambah dengan ngurusi organisasi.

Dengan berorgasisasi, dia merasa semakin banyak teman dan kenalan baru yang akan membawa manfaat dalam tata pergaulan dan kehidupan. Itulah sebabnya ketika partai Nahdlatul Ulama mendirikan organisasi kemahasiswaan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau PMII pada tahun 1962, maka Zamroini yang baru dating dari Yogya itu segera bergabung ke dalam organisasi baru itu. Di Komisariat� PMII Ciputat ini, Zamroni bergabung bersama-sama Ibrahim AR, Abdurrahman Saleh, Nadjid Muchtar,Chatibul Umam, dan yang lain-lain. Pengalaman di PMII ini� dirasakan sangat berharga dalam perjalanan perjuangan sebagai mahasiswa di masa depan.

Menonjol Sejak dari Ciputat.

Sejarah berjalan demikian cepat, keberadaan PMII di IAIN Ciputat demikian menonjol. PMII menjadi organisasi ekstra mahasiswa terbesar, berimbang dan pernah menjadi yang terbesar di lingkungan IAIN Ciputat. Himpunan Mahasiswa Islam-HMI- yang sudah terlebih dahulu eksis, cukup terkejut menyaksikan geliat PMII yang diterima dengan tangan terbuka oleh para mahasiswa lama dan baru di IAIN. Sebelum ada PMII, HMI nyaris sendirian “menggarap habis” calon mahasiswa baru dan mahasiswa lama. Keberadaan PMII seakan menjadi sparing partner bagi HMI, sehingga dia bisa bertindak lebih santun dalam merekrut anggota.

Salah satu alasan mengapa keberadaan PMII diterima baik mahasiswa baru, karena mereka adalah� putera puteri warga NU. Sebelum ada PMII, tidak sedikit mahasiswa yang puteri-puteri warga NU, bahkan anak-anak tokoh NU, “terpaksa” masuk HMI demi menyalurkan hobi berorganisasi dan bakatnya. Tetapi setelah ada PMII, mereka tumplek blek masuk organisasi yang akidah dan ideology politiknya sejalan dengan basis kulturalnya yaitu NU. Sebab selama di organisasi mahasiswa lain mereka mengalami alienasi, karena ada kesenjangan cultural.

Pergulatannya di PMII Cabang Ciputat, membuat nama Zamroni kian menonjol dan terkenal. Namun sebagai seorang santri, ia tetap berlaku low profile alias andap asor dan rendah hati. Dengan posisi itu aksesnya kepada tokoh-tokoh di PBNU sudah semakin terbuka. Sebagai sesama orang Kudus, tokoh NU yang di kemudian menjadi salah seorang Ketua PBNU yaitu HM Subchan ZE, sangat memberikan perhatian kepada Zamroni. Dia dinilai sebagai sosok anak muda yang potensial dan mempunyai masa depan� dalam kepemimpinan di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Dalam perjalanan sejarahnya “pertarungan” antara HMI dan PMII ketika itu terasa semakin menguat. Entah apa yang menjadi alasan bagi mereka, yang jelas Kafrawi Ridlwan dkk. di Yogyakarta sempat mendemo Menteri Agama Prof KH Saifuddin Zuhri.

Sumber: nu.or.id

Said Budairy, Organisatoris Sejati Pendiri dan Pencipta Lambang PMII

prof. h.m. said budairy

“Lahir ketika Indonesia masih dijajah Belanda. Kakek dan bapakku orang pergerakan. Kakek anggota Majelis Konstituante, bapak anggota DPRD. Gara-gara lingkungan rasanya jalan hidupku terbentuk. Nyatanya, masih amat muda sudah aktif berorganisasi. Masuk kepanduan mulai jadi kurcaci sampai jadi Komisaris Latihan. Lalu masuk organisasi pelajar IPNU, bersama yang lain mendirikan PMII, masuk Gerakan Pemuda Ansor, aktif di NU membangun Lakpesdam dan jadi direkturnya selama 8 tahun. Jadi Bendahara PBNU. Jadi pengurus PWI Pusat. Jadi anggota DPR-GR/MPRS dari Fraksi NU, jadi anggota MPR-RI (Badan Pekerja) fraksi PPP. Ikut mendirikan koran Pelita, jadi pemimpin perusahaan koran Pedoman, jadi ombudsman majalah Pantau. Mulainya dulu ikut memimpin koran Duta Masyarakat. Terakhir jadi Staf Khusus Wakil Presiden RI. Sekarang aktif sebagai Ketua Komisi Informasi dan Komunikasi MUI dan KIP3. Menjelang usia 72 tahun sekarang ini, punya 8 cucu dari 4 anak 2 laki 2 perempuan. Melalui blog ini ingin mensyukuri usia lanjut dengan cara berbagi pengalaman. Makanya akan senang sekali kalau orang-orang muda mau bertegur sapa”.

Cerita di atas adalah tulisan tentang profil Said Budairy di blognya. Melalui tulisan tersebut Said Budairy ingin menyampaikan pengalaman perjalanannya sebagai seorang organisatoris. Dengan banyaknya organisasi, dimana Said terlibat didalamnya. Maka tidak salah jika gelar Organisatoris sejati diberikan kepadanya.

Di lingkungan aktivis Nahdlatul Ulama (NU), H.M. Said Budairy bukanlah nama asing. Bersama Abdurahman Wahid, Fahmdi D. Saefuddin, Mahbub Djuanadi dan lain-lain, namanya populer sebagai salah seorang penggerak ‘Khittah NU 1926’ pada Muktamar NU di Situbondo, Jawa Timur, Tahun 1984.

Tapi sebetulnya, sebagai aktivis NU, nama H.M. Said Budairy sudah muncar sejak akhir tahun 1950-an. Ia ikut aktif mendirikan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Awal tahun 1960-an, ikut berjuang mendirikan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Selain merupakan salah satu dari 13 deklarator berdirinya PMII. Said juga lah, sosok pencipta lambang organisasi kemahasiswaan di lingkungan NU yang berdiri 54 tahun silam.

Sebagai seorang organisatoris sejati, semangatnya tidak pernah luntur hingga akhir hayatnya. Di usianya yang sudah menginjak 73 tahun, Said masih bersedia datang di acara-acara kecil. Sebagai Ketua Komisi Informasi dan Komunikasi di Majlis Ulama Indonesia (MUI), ia juga masih memimpin rapat-rapat.

Profil H.M Said Budairy memang profil organisasi, terutama di NU. Namanya tidak pernah lepas dari jenjang keorganisasi yang ada di NU. Mulai dari IPNU, PMII, GP. Anshor, hingga di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Tapi, ia memang tidak pernah menduduki posisi puncak. Di PBNU, jabatan tertingginya hanya sebagai Wakil Bendahara (1984-1989). Semangatnya berorganisasi, membawanya ke kursi DPR-GR/MPRS (1963-1971) di usia muda, wakil dari Partai NU.

Pak Said dikenal pekerja keras, ulet, memperhatikan yang detail-detail. Oleh karena itulah, ia dijuluki ‘si tukang organisasi’. Di PWI Pusat, ia pernah menjabat sebagai Ketua Departemen Pendidikan/Agama (1963-1967), Wakil Sekretaris Jenderal (1967-1970), dan Bendahara pada periode 1970-1973. Ia aktif juga di Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) sebagai Wakil Sekretaris Jenderal (1973-1978).

Dan di Lembaga kajian dan pengembangan sumber daya Manusia Nadlatul Ulama (Lakpesdam NU), Pak Said adalah nama yang tidak boleh dilupakan dalam kesejarahan. Di sana ia menjabat sebagai direktur dari tahun 1987 hingga 1995. Dengan segenap kekurangannya, ia berhasil memapankan organisasi itu hingga kini. Tidak banyak lembaga di NU yang eksis macam Lakpesdam, hingga ke daerah-daerah.

Ada yang meng golongankan Pak Said sebagai bagian kelompok konservatif di kalangan Nahdliyin. Ia misalnya tidak suka dengan pernyataan Gus Dur bahwa NU itu Syiah kultural. Atau ia masuk menjadi aktivis MUI dari tahun 1995 hingga akhir hayatnya, padahal kalangan NU progresif rajin melancarkan kritikan tajam pada MUI. Bahkan, Pak Said tetap memilih Partai Persatuan Pembangunan, meskipun NU telah membikin Partai Kebangkitan Bangsa.

Ia menjadi menjadi jurnalis sejak muda, sekolahnya pun tentang jurnalisme, yaitu di Perguruan Tinggi Jurnalistik Jakarta. Tapi ia tidak pernah bekerja di media massa yang bersifat ‘umum’, kecuali di SK Pedoman (sebagai Pemimpin perusahaan, 1973-1974) dan majalah Pantau (sebagai Ombudsman, 2001-2003). Selebihnya, sebagai wartawan, ia hanya bekerja di koran di lingkungan NU atau Islam pada umumnya. Sebut saja Duta Masyarakat, Pelita, Risalah, dan Warta NU. Kedudukannya sebagai anggota Lembaga Sensor Film (1999-2003) adalah representasi dari MUI.

“Saya tidak mau jauh-jauh dari ulama. Saya ingin mati bersama mereka,” kata Pak Said pada suatu ketika dengan mimik serius bahkan dengan mata berkaca-kaca. Pilihan ini bukan tanpa resiko. Resiko yang mudah dibayangkan bekerja dengan ulama adalah tidak mendapat gaji yang layak.

Di NU, Pak Said memang dikenal orang yang sangat sederhana. Tidak punya supir pribadi, pakaiannya ala kadaranya, dan rumahnya di Mampang tetap tak berhalaman, meski pernah menjadi Staf Khusus Wakil Presiden Hamzah Haz.

Tapi, meskipun konservatif, Pak Said tetaplah akomodatif. Ia juga bersedia menerima ide-ide baru. Terbukti misalnya ia diterima di majalah Pantau, sebuah majalah dari kelompok liberal. Bahkan Pak Said menduduki posisi bergengsi, yakni Ombudsman. Di sana tiap bulan Pak Said menulis selama dua tahun. Topiknya beragam, jurnalisme, penerbitan, penyiaran, periklanan, dan lain-lain.

Pak Said juga dikenal sebagai orang tua yang tidak suka merecoki anak-anak muda NU yang ‘nakal’. Pak Said lebih suka diam saja. Di NU, sikap diam diartikan na’am (setuju). Inilah salah satu yang banyak dipuji orang dari Pak Said. Ini tentu berbeda dengan beberapa kiai di NU yang mudah mencap tidak sopan, mencap liberal kepada anak muda yang kritis dan progresif.

said budairy

Prof. H.M. Said Budairy wafat pada hari Senin, 30 Nopember 2009. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Kemudian dimakamkan di pemakaman San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat.

Kiai Romly Tamim, Penyusun Doa Istighatsah

Kata “Istighotsah” (إستغاثة) adalah bentuk masdar dari Fi’il Madli Istaghotsa (إستغاث) yang berarti mohon pertolongan. Secara terminologis, istigotsah berarti beberapa bacaan wirid (awrad) tertentu yang dilakukan untuk mohon pertolongan kepada Allah SWT atas beberapa masalah hidup yang dihadapi.

Istighotsah ini mulai banyak dikenal oleh masyarakat khususnya kaum Nahdliyyin baru pada tahun 1990 an. Di Jawa Timur, ulama yang ikut mempopulerkan istighotsah adalah Almarhum KH Imron Hamzah (Rais Syuriyah PWNU Jatim waktu itu). Namun di kalangan murid Thariqah, khususnya Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, Isighotsah ini sudah lama dikenal dan diamalkan.

Bacaan istighotsah yang banyak diamalkan oleh warga Nahdliyyin ini, bahkan sekarang meluas ke seluruh penjuru negeri sebenarnya disusun oleh KH Muhammad Romly Tamim, seorang Mursyid Thariqah Qadiriyah wan Naqsyabandiyah, dari Pondok Pesantren Rejoso, Peterongan, Jombang. Hal ini dibuktikan dengan kitab karangan beliau yang bernama Al-Istighatsah bi Hadrati Rabb al-Bariyyah” (tahun 1951) kemudian pada tahun 1961 diterjemah ke dalam bahasa Jawa oleh putranya KH Musta’in Romli.

KH Muhammad Romly Tamim adalah salah satu putra dari empat putra Kiai Tamim Irsyad (seorang Kiai asal Bangkalan Madura). Keempat putra Kiai Tamim itu ialah Muhammad Fadlil, Siti Fatimah, Muhammad Romly Tamim, dan Umar Tamim.

KH Muhammad Romly Tamim lahir pada tahun 1888 H. di Bangkalan Madura. Sejak masih kecil, beliau diboyong oleh orang tuanya KH. Tamim Irsyad ke Jombang. Di masa kecilnya, selain belajar ilmu dasar-dasar agama dan Al-Qur’an kepada ayahnya sendiri juga belajar kepada kakak iparnya yaitu KH Kholil (pembawa Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Rejoso).

Setelah masuk usia dewasa, beliau dikirim orang tuanya belajar ke KH. Kholil di Bangkalan, sebagaimana orang tuanya dahulu dan juga kakak iparnya belajar ke beliau. Kemudian setelah dirasa cukup belajar ke Kiai Kholil Bangkalan, beliau mendapat tugas untuk membantu KH Hasyim Asy’ari mengajarkan ilmu agama di Pesantren Tebuireng, sehingga akhirnya beliau diambil sebagai menantu oleh Kiai Hasyim yaitu dinikahkan dengan putrinya yang bernama Izzah binti Hasyim pada tahun 1923 M. Namun pernikahan ini tidak berlangsung lama karena terjadi perceraian.

Setelah perceraian tersebut, Mbah Yai Romly, begitu biasa dipanggil, pulang ke rumah orang tuanya, Kiai Tamim di Rejoso Peterongan. Tak lama kemudian beliau menikahi seorang gadis dari desa Besuk, kecamatan Mojosongo. Gadis yang dinikahi tersebut bernama Maisaroh. Dari pernikahannya dengan Nyai Maisaroh ini, lahir dua orang putra yaitu Ishomuddin Romly (wafat tertembak oleh tentara Belanda, saat masih muda), dan Musta’in Romly.

Putra kedua Kiai Romly yang tersebut  terakhir ini kemudian menjadi seorang Kiai besar yang berwawasan luas. Hal ini terbukti saat beliau menjadi pengasuh di Pondok Pesantren Darul’Ulum Rejoso, beliau mendirikan sekolah-sekolah umum di dalam pesantren disamping madrasah-madrasah diniyah yang sudah ada. Sekolah-sekolah umum itu di antaranya SMP, SMA, PGA, SPG, SMEA, bahkan juga memasukkan sekolah negeri di dalam pesantren yaitu MTs Negeri dan MA Negeri. Sekolah-sekolah tersebut masih berjalan hingga sekarang.

Di samping menjadi Ketua Umum Jam’iyyah Ahli Thariqoh Mu’tabaroh dan Mursyid Thariqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah pada saat itu, Dr. KH. Musta’in Romly yang kemudian menjadi menantu KH. Abdul Wahab Chasbullah Tambakberas ini juga merupakan satu-satunya Kiai pertama di Indonesia yang mendirikan sebuah Universitas Islam yang cukup ternama pada saat itu (tahun 1965), yaitu Universitas Darul’Ulum Jombang.

Kemudian setelah Nyai Maisaroh wafat, Mbah Yai Romly menikah lagi dengan seorang gadis putri KH. Luqman dari Swaru Mojowarno. Gadis itu bernama Khodijah. Dari pernikahannya dengan istri ketiga ini lahir putra-putra beliau yaitu: KH Ahmad Rifa’iy Romli (wafat tahun 1994), beliau adalah menantu Kiai Mahrus Ali Lirboyo, KH A. Shonhaji Romli (wafat tahun 1992), beliau adalah menantu Kiai Ahmad Zaini Sampang, KH. Muhammad Damanhuri Romly (wafat tahun 2001), beliau adalah menantu Kiai Zainul Hasan Genggong, KH. Ahmad Dimyati Romly (menantu Kiai Marzuki Langitan), dan KH. A. Tamim Romly, M.Si. (menantu Kiai Shohib Bisri Denanyar).

KH. Muhammad Romly Tamim, adalah seorang Kiai yang sangat alim, sabar, sakhiy, wara’, faqih, seorang sufi murni, seorang Mursyid Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, dan pengasuh Pondok Pesantren Darul’Ulum Rejoso, Peterongan, Jombang.

Di antara murid-murid beliau yang terkenal dan menjadi Kiai besar ialah KH. Muhammad Abbas (Buntet Cirebon), KH. Muhammad Utsman Ishaq (Sawahpuluh Surabaya), KH. Shonhaji (Kebumen), KH. Imron Hamzah (Sidoarjo).

KH. Muhammad Romly Tamim, disamping seorang mursyid, beliau juga kreatif dalam menulis kitab. Di antara kitab-kitab karangannya ialah: al-Istighotsah bi Hadrati Rabbil-Bariyyah, Tsamratul Fikriyah, Risalatul Waqi’ah, Risalatush Shalawat an-Nariyah. Beliau wafat di Rejoso Peterongan Jombang pada tanggal 16 Ramadlan 1377 H atau tanggal 6 April 1958 M.

Tata Cara Istighotsah

Melaksanakan istighotsah, boleh dilakukan secara bersama-sama (jamaah) dan boleh juga dilakukan secara sendiri-sendiri. Demikian juga waktunya, bebas dilakukan, boleh siang,  malam, pagi, atau sore. Seseorang yang akan melaksanakan  istighotsah, sayogianya ia sudah dalam keadaan suci, baik badannya, pakaian dan tempatnya,  dan suci dari hadats kecil dan besar.

Juga tidak kalah pentingnya, seseorang yang mengamalkan istighotsah menyesuaikan dengan bacaan dan urutan sebagaimana yang telah ditentukan oleh pemiliknya (Kiai Romly). Hal ini penting disampaikan, sebab tidak sedikit orang yang merubah bacaan dan urutan istighotsah  bahkan menambah bacaan sehingga tidak sama dengan aslinya. Padahal urutan bacaan istighotsah ini, menurut riwayat santri-santri senior Kiai Romli adalah atas petunjuk dari guru-guru beliau, baik secara langsung maupun lewat mimpi.

Diceritakan, sebelum membuat wirid istighotsah ini, beliau Kiai Romli melaksanakan riyaddloh dengan puasa selama 3 tahun. Dalam masa-masa riyadlohnya itulah beliau memperoleh ijazah wirid-wirid istighotsah dari para waliyulloh. Wirid pertama yang beliau terima adalah wirid berupa istighfar, dan karena itulah istighfar beliau letakkan di urutan pertama dalam istighosah. Demikian juga urutan berikutnya adalah sesuai dengan urutan beliau menerima ijazah dari para waliyyulloh lainnya. Oleh karena itu   sebaiknya dalam mengamalkan istighotsah seseorang menyesuaikan urutan wirid-wirid istighotsah sesuai dengan aslinya.

Setelah siap semuanya, barulah seseorang menghadap qiblat untuk memulai istighotsah dengan terlebih dahulu menghaturan hadiah pahala membaca surat al-Fatihah untuk Nabi, keluarga dan shahabatnya, tabi’in, para wali dan ulama khususnya Shahibul Istighatsah Hadratusy Syaikh KH. Muhammad Romly Tamim.

(Ditulis oleh Ishomuddin Ma’shum, dosen Universitas Darul Ulum Jombang / nu.or.id, 16/06/2014)