KH Wahid Hasyim, dari Pesantren untuk Bangsa

KH. Abdul Wahid Hasyim adalah putra kelima dari pasangan KH. Hasyim Asy’ari dengan Nyai Nafiqah binti Kyai Ilyas. Anak lelaki pertama dari 10 bersaudara ini lahir pada hari Jumat legi, Rabiul Awwal 1333 H, bertepatan dengan 1 Juni 1914 M, ketika di rumahnya sedang ramai dengan pengajian.

Wahid Hasyim adalah salah seorang dari sepuluh keturunan langsung KH. Hasyim Asy’ari. Silsilah dari jalur ayah ini bersambung hingga Joko Tingkir, tokoh yang kemudian lebih dikenal dengan Sultan Sutawijaya yang berasal dari kerajaan Demak. Sedangkan dari pihak ibu, silsilah itu betemu pada satu titik, yaitu Sultan Brawijaya V, yang menjadi salah satu raja Kerajaan MAtaram. Sultan Brawijaya V ini juga dikenal dengan sebutan Lembu Peteng.
t;
Kesepuluh putra KH. Hasyim Asy’ari itu adalah Hannah, Khairiyah, Aisyah, Izzah, Abdul Wahid, A. Khaliq, Abdul Karim, Ubaidillah, Masrurah, dan Muhammad Yusuf. Sementara itu, dengan Nyai Masrurah KH. Hasyim Asy’ari dikaruniai empat putera, yakni Abdul Kadir, Fatimah, Khodijah dan Ya’kub.

Mondok Hanya Beberapa Hari
Abdul Wahid mempunyai otak sangat cerdas. Pada usia kanak-kanak ia sudah pandai membaca al-Qur’an, dan bahkan sudah khatam al-Qur’an ketika masih berusia tujuh tahun. Selain mendapat bimbingan langsung dari ayahnya, Abdul Wahid juga belajar di bangku Madrasah Salafiyah di Pesantren Tebuireng. Pada usia 12 tahun, setamat dari Madrasah, ia sudah membantu ayahnya mengajar adik-adik dan anak-anak seusianya.

Sebagai anak tokoh, Abdul Wahid tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah Pemerintah Hindia Belanda. Ia lebih banyak belajar secara otodidak. Selain belajar di Madrasah, ia juga banyak mempelajari sendiri kitab-kitab dan buku berbahasa Arab. Abdul Wahid mendalami syair-syair berbahasa Arab dan hafal di luar kepala, selain menguasai maknanya dengan baik.

Pada usia 13 tahun ia dikirim ke Pondok Siwalan, Panji, sebuah pesantren tua di Sidoarjo. Ternyata di sana ia hanya bertahan sebulan. Dari Siwalan ia pindah ke Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Lagi-lagi ia di pesantren ini mondok dalam waktu yang sangat singkat, hanya beberapa hari saja. Dengan berpindah-pindah pondok dan nyantri hanya dalam hitungan hari itu, seolah-olah yang diperlukan Abdul Wahid hanyalah keberkatan dari sang guru, bukan ilmunya. Soal ilmu, demikian mungkin ia berpikir, bisa dipelajari di mana saja dan dengan cara apa saja. Tapi soal memperoleh berkah, adalah masalah lain, harus berhubungan dengan kyai. Inilah yang sepertinya menjadi pertimbangan utama dari Abdul Wahid ketika itu.

Sepulang dari Lirboyo, Abdul Wahid tidak meneruskan belajarnya di pesantren lain, tetapi memilih tinggal di rumah. Oleh ayahnya pilihan tinggal di rumah dibiarkan saja, toh Abdul Wahid bisa menentukan sendiri bagaimana harus belajar. Benar juga, selama berada di rumah semangat belajarnya tidak pernah padam, terutama belajar secara otodidak. Meskipun tidak sekolah di lembaga pendidikan umum milik pemerintah Hindia Belanda, pada usia 15 tahun ia sudah mengenal huruf latin dan menguasai bahasa Inggris dan Belanda. Kedua bahasa asing itu dipelajari dengan membaca majalah yang diperoleh dari dalam negeri atau kiriman dari luar negeri.

Menerapkan Sistem Madrasah ke Dalam Sistem Pesantren
Pada 1916, KH. Ma’sum, menantu KH. Hasyim Asy’ari, dengan dukungan Wahid Hasyim, memasukkan sistem Madrasah ke dalam sistem pendidikan pesantren. Ada tujuh jenjang kelas dan dibagi menjadi dua tingkatan. Tahun pertama dan kedua dinamakan siffir awwal dan siffir tsani, yaitu masa persiapan untuk memasuki masa lima tahun jenjang berikutnya. Pada siffir awwal dan siffir tsani diajarkan khusus bahasa Arab sebagai landasan penting pembedah khazanah ilmu pengetahuan Islam. Pada tahun 1919, kurikulum madrasah tersebut ditambah dengan pendidikan umum, seperti bahasa Indonesia (Melayu), berhitung dan Ilmu Bumi. Pada 1926, KH. Mauhammad Ilyas memasukkan pelajaran bahasa Belanda dan sejarah ke dalam kurikulum madrasah atas persetujuan KH. Hasyim Asy’ari.

Pembaharuan pendidikan Pesantren Tebuireng yang dilakukan KH. Hasyim Asy’ari, berikut murid dan puteranya, bukan tanpa halangan. Pembaharuan pendidikan yang digagasnya menimbulkan reaksi yang cukup hebat dari masyarakat dan kalangan pesantren, sehingga banyak juga orang tua santri memindahkan anak-anaknya ke pesantren lain, karena dengan pembaharuan tersebut Pesantren Tebuireng dipandang sudah terlalu modern. Reaksi tersebut tidak menyurutkan proses pembaharuan Pesantren Tebuireng. Hal tersebut terus berlangsung dan dilanjutkan oleh Wahid Hasyim dengan mendirikan madrasah modern di lingkungan pesantren.

Berangkat ke Mekkah
Pada tahun 1932, ketika menginjak usia 18 tahun, ia dikirim ke Mekkah, di samping untuk menunaikan rukun Islam kelima juga untuk memperdalam berbagai cabang ilmu agama. Kepergiannya ke Mekkah ditemani oleh saudara sepupunya, Muhammad Ilyas, yang kelak menjadi Menteri Agama. Muhammad Ilyas memiliki jasa yang besar dalam membimbing Abdul Wahid sehingga tumbuh menjadi remaja yang cerdas. Muhammad Ilyas dikenal fasih dalam bahasa Arab, dan dialah yang mengajari Abdul Wahid bahasa Arab. Di tanah suci ia belajar selama dua tahun.

Dengan pengalaman pendidikan tersebut, tampak ia sebagai sosok yang memiliki bakat intelektual yang matang. Ia menguasai tiga bahasa asing, yaitu bahasa Arab, Inggris dan Belanda. Dengan bekal kemampuan tiga bahasa tersebut, Wahid Hasyim dapat mempelajari berbagai buku dari tiga bahasa tersebut. Otodidak yang dilakukan Wahid Hasyim memberikan pengaruh signifikan bagi praktik dan kiprahnya dalam pendidikan dan pengajaran, khususnya di pondok pesantren termasuk juga dalam politik.

Setelah kembali dari Mekkah, Wahid Hasyim merasa perlu mengamalkan ilmunya dengan melakukan pembaharuan, baik di bidang sosial, keagamaan, pendidikan dan politik. Pada usia 24 tahun (1938), Wahid Hasyim mulai terjun ke dunia politik. Bersama kawan-kawannya, ia gencar dalam memberikan pendidikan politik, pembaharuan pemikiran dan pengarahan tentang perlunya melawan penjajah. Baginya pembaharuan hanya mungkin efektif apabila bangsa Indonesia terbebas dari penjajah.

Menikah
Pada usia 25 tahun, Abdul Wahid mempersunting gadis bernama Solichah, putri KH. Bisri Syansuri, yang pada waktu itu baru berusia 15 tahun. Pasangan ini dikarunai enam anak putra, yaitu Abdurrahman ad-Dakhil (mantan Presiden RI), Aisyah (Ketua Umum PP Muslimat NU, 1995-2000), Shalahudin al-Ayyubi (Insinyur lulusan ITB/Pengasuh PP. Tebuireng Jombang, sesudah KH. Yusuf Hasyim), Umar (dokter lulusan UI), Khadijah dan Hasyim.

Empat Tahun Sebelum Masuk Organisasi
Jangan ada orang yang memasuki suatu organisasi atau perhimpunan atas dasar kesadaran kritisnya. Pada umumnya orang yang aktif dalam sebuah organisasi atas dasar tradisi mengikuti jejak kakek, ayah, atau keluarga lain, karena ikut-ikutan atau karena semangat primordial. Tidak terkecuali bagi kebanyakan warga NU. Sudah lazim orang masuk NU karena keturunan; ayahnya aktif di NU, maka secara otomatis pula anaknya masuk dan menjadi aktivis NU. Kelaziman seperti itu agaknya tidak berlaku bagi Wahid Hasyim. Proses ke-NU-an Abdul Wahid Hasyim berlangsung dalam waktu yang cukup lama, setelah melakukan perenungan mendalam. Ia menggunakan kesadaran kritis untuk menentukan pilihan organisasi mana yang akan dimasuki.

Waktu itu April 1934, sepulang dari Mekkah, banyak permintaan dari kawan-kawannya agar Abdul Wahid Hasyim aktif dihimpunan atau organisasi yang dipimpinnya. Tawaran juga datang dari Nahdlatul Ulama (NU). Pada tahun-tahun itu di tanah air banyak berkembang perkumpulan atau organisasi pergerakan. Baik yang bercorak keagamaan maupun nasionalis. Setiap perkumpulan berusaha memperkuat basis organisasinya dengan merekrut sebanyak mungkin anggota dari tokoh-tokoh berpengaruh. Wajar saja jika kedatangan Wahid Hasyim ke tanah air disambut penuh antusias para pemimpin perhimpunan dan diajak bergabung dalam perhimpunannya. Ternyata tidak satupun tawaran itu yang diterima, termasuk tawaran dari NU.

Apa yang terjadi dalam pergulatan pemikiran Abdul Wahid Hasyim, sehingga ia tidak kenal secara cepat menentukan pilihan untuk bergabung di dalam satu perkumpulan itu? Waktu itu memang ada dua alternatif di benak Abdul Wahid Hasyim. Kemungkinan pertama, ia menerima tawaran dan masuk dalam salah satu perkumpulan atau partai yang ada. Dan kemungkinan kedua, mendirikan perhimpunan atau partai sendiri.

Di mata Abdul Wahid Hasyim perhimpunan atau partai yang berkembang waktu itu tidak ada yang memuaskan. Itulah yang menyebabkan ia ragu kalau harus masuk dan aktif di partai. Ada saja kekurangan yang melekat pada setiap perhimpunan. Menurut penilaian Abdul Wahid Hasyim, partai A kurang radikal, partai B kurang berpengaruh, partai C kurang memiliki kaum terpelajar, dan partai D pimpinannya dinilai tidak jujur.

”di mata saya, ada seribu satu macam kekurangan yang ada pada setiap partai,” tegas Abdul Wahid Hasyim ketika berceramah di depan pemuda yang bergabung dalam organisasi Gerakan Pendidikan Politik Muslim Indonesia.

Setelah beberapa lama melakukan pergulatan pemikiran Wahid Hasyim akhirnya menjatuhkan pilihannya ke NU. Meskipun belum sesuai dengan keinginannya, tapi dianggap NU memiliki kelebihan dibanding yang lain. Selama ini organisasi-organisasi dalam waktu yang pendek tidak mampu untuk menyebar keseluruh daerah. Berbeda dengan NU dalam waktu yang cukup singkat sudah menyebar hingga 60% di seluruh wilayah di Indonesia. Inilah yang dianggap oleh Wahid Hasyim kelebihan yang dimiliki oleh NU.

Pokok Pemikirannya
Sebagai seorang santri pendidik agama, fokus utama pemikiran Wahid Hasyim adalah peningkatan kualitas sumberdaya umat Islam. Upaya peningkatan kualitas tersebut menurut Wahid Hasyim, dilakukan melalui pendidikan khususnya pesantren. Dari sini dapat dipahami, bahwa kualitas manusia muslim sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya kualitas jasmani, rohani dan akal. Kesehatan jasmani dibuktikan dengan tiadanya gangguan fisik ketika berkatifitas. Sedangkan kesehatan rohani dibuktikan dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah yang kemudian diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Disamping sehat jasmani dan rohani, manusia muslim harus memiliki kualitas nalar (akal) yang senantiasa diasah sedemikian rupa sehingga mampu memberikan solusi yang tepat, adil dan sesuai dengan ajaran Islam.

Mendudukkan para santri dalam posisi yang sejajar, atau bahkan bila mungkin lebih tinggi, dengan kelompok lain agaknya menjadi obsesi yang tumbuh sejak usia muda. Ia tidak ingin melihat santri berkedudukan rendah dalam pergaulan masyarakat. Karena itu, sepulangnya dari menimba ilmu pengetahuan, dia berkiprah secara langsung membina pondok pesantren asuhannya ayahnya.

Pertama-tama ia mencoba menerapkan model pendidikan klasikal dengan memadukan unsur ilmu agama dan ilmu-ilmu umum di pesantrennya. Ternyata uji coba tersebut dinilai berhasil. Karena itu ia kenal sebagai perintis pendidikan klasikal dan pendidikan modern di dunia pesantren.

Untuk pendidikan pondok pesantren Wahid Hasyim memberikan sumbangsih pemikirannya untuk melakukan perubahan. Banyak perubahan di dunia pesantren yang harus dilakukan. Mulai dari tujuan hingga metode pengajarannya.

Dalam mengadakan perubahan terhadap sistem pendidikan pesantren, ia membuat perencanaan yang matang. Ia tidak ingin gerakan ini gagal di tengah jalan. Untuk itu, ia mengadakan langkah-langkah sebagai berikut:

* Menggambarkan tujuan dengan sejelas-jelasnya
* Menggambarkan cara mencapai tujuan itu
* Memberikan keyakinan dan cara, bahwa dengan sungguh-sungguh tujuan dapat dicapai.

Pada awalnya, tujuan pendidikan Islam khususnya di lingkungan pesantren lebih berkosentrasi pada urusan ukhrawiyah (akhirat), nyaris terlepas dari urusan duniawiyah (dunia). Dengan seperti itu, pesantren didominasi oleh mata ajaran yang berkaitan dengan fiqh, tasawuf, ritual-ritual sakral dan sebagainya.

Meski tidak pernah mengenyam pedidikan modern, wawasan berfikir Wahid Hasyim dikenal cukup luas. Wawasan ini kemudian diaplikasikan dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial dan pendidikan. Berkembangnya pendidikan madrasah di Indonesia di awal abad ke-20, merupakan wujud dari upaya yang dilakukan oleh cendikiawan muslim, termasuk Wahid Hasyim, yang melihat bahwa lembaga pendidikan Islam (pesantren) dalam beberapa hal tidak lagi sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman.

Apa yang dilakukan oleh Wahid Hasyim adalah merupakan inovasi baru bagi kalangan pesantren. Pada saat itu, pelajaran umum masih dianggap tabu bagi kalangan pesantren karena identik dengan penjajah. Kebencian pesantren terhadap penjajah membuat pesantren mengharamkan semua yang berkaitan dengannya, seperti halnya memakai pantolan, dasi dan topi, dan dalam konteks luas pengetahuan umum.

Dalam metode pengajaran, sekembalinya dari Mekkah untuk belajar, Wahid Hasyim mengusulkan perubahan metode pengajaran kepada ayahnya. Usulan itu antara lain agar sistem bandongan diganti dengan sistem tutorial yang sistematis, dengan tujuan untuk mengembangkan dalam kelas yang menggunakan metode tersebut santri datang hanya mendengar, menulis catatan, dan menghafal mata pelajaran yang telah diberikan, tidak ada kesempatan untuk mengajukan pertanyaan atau berdikusi. Secara singkat, menurut Wahid Hasyim, metode bandongan akan menciptakan kepastian dalam diri santri.

Perubahan metode pengajaran diimbangi pula dengan mendirikan perpustakaan. Hal ini merupakan kemajuan luar biasa yang terjadi pada pesantren ketika itu. Dengan hal tersebut Wahid Hasyim mengharapkan terjadinya proses belajar mengajar yang dialogis. Dimana posisi guru ditempatkan bukan lagi sebagai satu-satunya sumber belajar. Pendapat guru bukanlah suatu kebenaran mutlak sehingga pendapatnya bisa dipertanyakan bahkan dibantah oleh santri (murid). Proses belajar mengajar berorientasi pada murid, sehingga potensi yang dimiliki akan terwujud dan ia akan menjadi dirinya sendiri.

Kiprah Sosial Kemasyarakatan dan Kenegaraan
Selain melakukan perubahan-perubahan tersebut Wahid Hasyim juga menganjurkan kepada para santri untuk belajar dan aktif dalam berorganisasi. Pada 1936 ia mendirikan IKPI (Ikatan Pelajar Islam). Pendirian organisasi ini bertujuan untuk mengorganisasi para pemuda yang secara langsung ia sendiri menjadi pemimpinnya. Usaha ikatan ini antara lain mendirikan taman baca.

Pada tahun 1938 Wahid Hasyim banyak mencurahkan waktunya untuk kegiatan-kegiatan NU. Pada tahun ini Wahid Hasyim ditunjuk sebagai sekretaris pengurus Ranting Tebuireng, lalu menjadi anggota pengurus Cabang Jombang. Kemmudian untuk selanjutnya Wahid Hasyim dipilih sebagai anggota Pengurus Besar NU di wilayah Surabaya. Dari sini karirnya terus meningkat sampai Ma’arif NU pada tahun 1938. Setelah NU berubah menjadi partai politik, ia pun dipilih sebagai ketua Biro Politik NU tahun 1950.

Di kalangan pesantren, Nahdlatul Ulama mencoba ikut memasuki trace baru bersama-sama organisasi sosial modern lainnya, sepeti Muhammadiyah, NU juga membentuk sebuah federasi politik bernama Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) lebih banyak di dorong oleh rasa bersalah umat Islam setelah melihat konsolidasi politik kaum nasionalis begitu kuat. Pada tahun 1939, ketika MIAI mengadakan konferensi, Wahid Hasyim terpilih sebagai ketua. Setahun kemudian ia mengundurkan diri.

Wahid Hasyim juga mempelopori berdirinya Badan Propaganda Islam (BPI) yang anggota-anggotanya dikader untuk terampil dan mahir berpidato di hadapan umum. Selain itu, Wahid Hasyim juga mengembangkan pendidikan di kalangan umat Islam. Tahun 1944 ia mendirikan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta yang pengasuhnya ditangani oleh KH. A Kahar Mudzakir. Tahun berikutnya, 1945, Wahid Hasyim aktif dalam dunia politik dan memulai karir sebagai ketua II Majelis Syura (Dewan Partai Masyumi). Ketua umumnya adalah ayahnya sendiri. Sedangkan ketua I dan ketua II masing-masing Ki Bagus Hadikusumo dan Mr. Kasman Singodimejo.

Pada tanggal 20 Desember 1949 KH. Abdul Wahid Hasyim diangkat menjadi Menteri Agama dalam kabinet Hatta. Sebelumnya, yaitu sebelum penyerahan kedaulatan, ia menjadi Menteri Negara. Pada periode kabinet Natsir dan Kabinet Sukiman, Wahid Hasyim tetap memegang jabatan Menteri Agama.

Dalam kabinet pertama yang dibentuk Presiden Soekarno pada September 1945, Wahid Hasyim ditunjuk menjadi Menteri Negara. Demikian juga dalam Kabinet Syahrir pada tahun 1946. Pada tahun ini juga, ketika KNIP dibentuk, KH. A Wahid Hasyim menjadi salah seorang anggotanya mewakili Masyumi dan meningkat menjadi anggota BPKNIP.

Selama menjadi Menteri Agama, usahanya antara lain: [1] Mendirikan Jam’iyah al-Qurra’ wa al-Huffazh (Organisasi Qari dan Penghafal al-Qur’an) di Jakarta; [2] Menetapkan tugas kewajiban Kementerian Agama melalui Peraturan Pemerintah no. 8 tahun 1950; [3] Merumuskan dasar-dasar peraturan Perjalanan Haji Indonesia; dan [4] Menyetujui berdirinya Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dalam kementerian agama.

Pada tahun 1952 KH. Abdul Wahid Hasyim memprakarsai berdirinya Liga Muslimin Indonesia, suatu badan federasi yang anggotanya terdiri atas wakil-wakil NU, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) dan Darul Dakwah wa al-Irsyad. Susunan pengurusnya adalah KH. A Wahid Hasyim sebagai ketua, Abikusno Cokrosuyoso sebagai wakil ketua I, dan H. Sirajuddin Abbas sebagai wakil ketua II.

Sebagai Ketua Umum PBNU
Ketika Muktamar ke 19 di Palembang mencalonkannya sebagai Ketua Umum, ia menolaknya, dan mengusulkan agar KH. Masykur menempati jabatan sebagai Ketua Umum. Kemudian atas penolakan KH. A Wahid Hasyim untuk menduduki jabatan Ketua Umum, maka terpilihlah KH. Masykur menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Namun berhubung KH. Masykur diangkat menjadi Menteri Agama dalam Kabinet Ali Arifin, maka NU menonaktifkan KH. Masykur selaku ketua umum, dan dengan demikian maka Wahid Hasyim ditetapkan sebagai Ketua Umum.

Disamping sebagai Ketua Umum PBNU, KH. A Wahid Hasyim menjabat Shumubucho (Kepala Jawatan Agama Pusat) yang merupakan kompensasi Jepang yang waktu itu merasa kedudukannya makin terdesak dan merasa salah langkah menghadapi umat Islam. Awalnya Shumubucho adalah merupakan kompensasi yang diberikan kepada KH. Hasyim Asy’ari, mengingat usianya yang sudah uzur dan ia harus mengasuh pesanten sehingga tidak mungkin jika harus bolak-balik Jakarta-Jombang. Karena kondisi ini, ia mengusulkan agar tugas sebagai Shumubucho diserahkan kepada KH. Abdul Wahid Hasyim, puteranya.

Tokoh Muda BPUPKI
Karir KH. Abdul Wahid Hasyim dalam pentas politik nasional terus melejit. Dalam usianya yang masih muda, beberapa jabatan ia sandang. Diantaranya ketika Jepang membentuk badan yang bertugas menyelidiki usaha-usaha persiapan kemerdekaan atau dikenal dengan BPUPKI. Wahid Hasyim merupakan salah satu anggota termuda setelah BPH. Bintoro dari 62 orang yang ada. Waktu itu Wahid Hasyim berusia 33 tahun, sementara Bintoro 27 tahun.

Sebagai anggota BPKI yang berpengaruh, ia terpilih sebagai seorang dari sembilan anggota sub-komite BPKI yang bertugas merumuskan rancangan preambule UUD negara Republik Indonesia yang akan segera diproklamasikan.

Musibah di Cimindi
Tanggal 19 April 1953 merupakan hari berkabung. Waktu itu hari Sabtu tanggal 18 April, KH. Abdul Wahhid Hasyim bermaksud pergi ke Sumedang untuk menghadiri rapat NU. Berkendaraan mobil Chevrolet miliknya, dengan ditemani seorang sopir dari harian pemandangan, Argo Sutjipto, tata usaha majalah Gema Muslim, dan putra sulungnya, Abdurrahman ad-Dakhil. KH. Abdul Wahid Hasyim duduk di jok belakang bersama Argo Sutjipto.

Daerah sekitar Cimahi dan Bandung waktu itu diguyur hujan dan jalan menjadi licin. Pada waktu itu lalu lintas di jalan Cimindi, sebuah daerah antara Cimahi-Bandung, cukup ramai. Sekitar pukul 13.00, ketika memasuki Cimindi, mobil yang ditumpangi KH. Abdul Wahid Hasyim selip dan sopirnya tidak bisa menguasai kendaraan. Di belakang Chevrolet nahas itu banyak iring-iringan mobil. Sedangkan dari arah depan sebuah truk yang melaju kencang terpaksa berhenti begitu melihat ada mobil zig-zag karena selip dari arah berlawanan. Karena mobil Chevrolet itu melaju cukup kencang, bagian belakangnya membentur badan truk dengan keras. Saat terjadi benturan, KH. A Wahid Hasyim dan Argo Sutjipto terlempar ke bawah truk yang sudah berhenti itu. Keduanya luka parah. KH. Abdul Wahid Hasyim terluka bagian kening, mata serta pipi dan bagian lehernya. Sementara sang sopir dan Abdurrahman tidak cidera sedikit pun. Mobilnya hanya rusak bagian belakang dan masih bisa berjalan seperti semula.

Lokasi kejadian kecelakaan itu memang agak jauh dari kota. Karena itu usaha pertolongan datang sangat terlambat. Baru pukul 16.00 datang mobil ambulan untuk mengangkut korban ke Rumah Sakit Boromeus di Bandung. Sejak mengalami kecelakaan, kedua korban terus tidak sadarkan diri. Pada pukul 10.30 hari Ahad, 19 April 1953, KH. Abdul Wahid Hasyim dipanggil ke hadirat Allah Swt dalam usia 39 tahun. Beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 18.00, Argo Sutjipto menyusul menghadap Sang Khalik.

Ditetapkan Sebagai Pahlawan
Berdasarkan Surat keputusan Presiden Republik Indonesia No. 206 tahun 1964 tertanggal 24 Agustus 1964, KH. Abdul Wahid Hasyim ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, mengingat jasa-jasanya sebagai pemimpin Indonesia yang semasa hidupnya terdorong oleh taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan rasa cinta tanah air dan bangsa, telah memimpin suatu kegiatan yang teratur guna mencapai kemerdekaan nusa dan bangsa.

Biografi singkat KH. Abdul Wahid Hasyim disarikan dari buku ”99 Kiai Kharismatik Indonesia” di tulis oleh KH. A. Aziz Masyhuri, terbitan Kutub, Yogyakarta.

Cholid Narbuko, Pendiri PMII Ini Sangat Demokratis

Konferensi Besar Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) di Kaliurang, 55 tahun yang lalu menjadi tonggak awal sejarah berdirinya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Tercatat 13 nama, yang bertugas merumuskan pendirian organisasi mahasiswa berbasis NU saat itu, sehingga berdirilah PMII. Salah satu dari 13 Tokoh Mahasiswa NU tersebut adalah Mahasiswa NU asal Malang yang dikenal sangat demokratis, Cholid Narbuko.

Bernama lengkap H Cholid Narbuko bin Zubair, pria ini lahir di Salatiga tepat 21 April 1937. Cholid Narbuko wafat di Semarang, pada Tanggal 13 Juni 1999 yang lalu. Ia pun dimakamkan di pemakaman tanah kelahirannya, Pemakaman Kauman Salatiga.

Cholid Narbuko adalah akademisi ulung, yang pernah menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Tarbiyah Wa Ta’lim yang saat ini dikenal dengan UNISMA (1969-1965). Selanjutnya, ia juga telah memperoleh gelar Sarjana di FISIP UNEJ Jember (1968).

Salah satu pendiri SMP NU Malang (1965) ini telah mengabdikan hidupnya untuk dunia pendidikan. Tak lama setelah mengabdikan diri di Departemen Agama Provinsi di Semarang, ia memilih untuk mengajar di PGA Jember (1967 – 1969).

Tangan dinginnya dalam dunia pendidikan juga telah membawanya menjadi Dekan Fakultas Tarbiyah di beberapa perguruan tinggi. Berawal menjadi pembantu dekan Fakultas Tarbiyah Sunan Kalijaga di Kudus (1969), ia terpilih menjadi Dekan di Fakultas tersebut (1970 -1975). Setelah itu, ia dipercayakan menjadi dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo di Semarang (1975 – 1977). Kemudian menjadi Dekan Fakultas Tarbiyah di Salatiga (1978 – 1980). Dua tahun menjadi Dekan di Salatiga, ia pun kembali menjadi Dekan Fakultas Tarbiyah Walisongo Semarang (1982 – 1989).

Setelah empat tahun berdirinya PMII, ia memutuskan untuk menikahi wanita asal Cepu, Hj. Siti Rosyidah Binti KH. Samsul Hadi. Pernikahan tersebut digelar tepat pada Tanggal 26 April 1964. Buah pernikahan tersebut dikaruniai 5 orang anak yakni, Dra Tina Wasithoh F.N, Ririn Siti Hajar Amd, Mohammad Umar Fatah Wijaya S.SSO MA, Noor Syamsiah Alina Amd, dan Jazimah Thoifatul Muthmainah Amd.

Perjalanan hidupnya begitu memberikan arti dan makna bagi keluarga dan masyarakat. Bagaimana tidak, akademisi tulen yang juga merupakan salah satu pendiri PMII ini adalah sosok yang sangat penyabar. Bahkan ia dikenal sebagai sosok pria, yang sama sekali tak pernah memperlihatkan kemarahannya. Maka tak heran, jika siapapun akan merasa tenang dan nyaman ketika bersanding, bersenda gurau dan saling berbagi cerita dengannya.

Jiwa pengabdian dan rasa sosialis yang tinggi, tak urung membuatnya lelah untuk berbagi. Ketika aktif menjadi Dekan Tarbiyah di beberapa Perguruan Tinggi, ia aktif mengadakan kegiatan bertajuk sosial. Salah satu yang rutin diadakannya adalah mengadakan sunatan masal. Tak ingin berjuang sendiri, ia terus memotivasi keluarga, agar tak kenal lelah mengabdikan diri pada lingkungan dan masyarakat.(Poy)

Mengenal Lebih Dekat, Abdul Wahab Jaelani (Pendiri PMII)

Mungkin, banyak yang tak asing dengan nama Abdul Wahab Jaelani. Ya, laki-laki kelahiran Semarang, 21 November ini merupakan salah satu dari 13 pendiri PMII sekaligus menjadi Ketua Umum PKC PMII Jawa Tengah pertama. Kepribadian tegas dan jujur, menjadi bekal dalam menjalankan segala aktifitas organisasi dan kehidupannya. Pengalaman organisasi yang ia miliki pun tak sedikit, yaitu PMII PKC Jawa Tengah pada tahun 1968, dan ditemani oleh Yusuf Ruhayat sebagai Sekretaris Umum serta H. Rifa’i sebagai Bendahara PKC saat itu. Perjuangan tak berhenti di situ, ia pun pernah menjabat sebagai ketua NU Cabang Semarang periode tahun 1985.

Hj. Qomariyah, wanita berparas ayu yang dinikahinya pada tahun 1969, mengakui kecakapannya dalam urusan berorganisasi, sehingga membuatnya terpilih sebagai anggota DPR Provinsi sebanyak dua kali, yakni tahun 1978-1982 serta 1982-1987. Lelaki yang pernah menjadi anggota PWNU Mubarat itu pun, dipercaya kembali menjadi anggota DPR Kota Semarang masa bakti 1987-1992. Nikah massal dan sunnat massal ia adakan semasa jabatannya ketika menjadi anggota PWNU. Di kalangan keluarganya, pak Wahab, begitu panggilan akrabnya, dianggap sebagai sosok yang lugas, jujur, apa adanya serta, menjalankan tugas sesuai dengan jalurnya. Patut untuk dicontoh bagi setiap kader PMII.

Bukan hanya aktifitas dunia yang selalu ia tekuni, berziarah ke makam kedua orang tua serta Kiai Soleh Darat juga menjadi kegiatan spiritual rutin. Tujuannya tak lain adalah  untuk lebih mendekatkan diri dengan Sang Ilahi. Bahkan suatu saat, ketika beliau sedang membacakan doa di makam Kiai Soleh Darat, seekor kunang-kunang jatuh dihadapannya dan berubah menjadi sebuah batu akik yang cantik. Yang kemudian ia simpan untuk dirinya sendiri. Seorang kader PMII serta pemimpin yang sederhana memang patut untuk ditiru semangat dan kepribadiannya. Namun, takdir kematian memang tak dapat dielakkan. Rabu, 21 Mei 1996, beliau harus berpulang ke rahmatullah karena penyakit jantung yang dideritanya. Dan beliau dimakamkan di daerah Bargota, Jl. Wit Saleh. Semarang. (Lahumul fatihah).

Nama lengkap                      : Alm. Abdul Wahab Jaelani

Tempat, Tanggal Lahir       : Semarang, 21 November 1936

Alamat                                   : Jl. Flamboyan. No. 56. Sampangan. Semarang

Pendidikan                             :

  1. Sarjana Ekonomi Akop (Akademi Koperasi) Semarang
  2. Sarjana Hukum UNTAG tahun 1985

Pengalaman Organisasi     :

  • PMII PKC Jawa Tengah 1968
  • Ketua NU Cabang Semarang sekitar th 1985
  • Anggota PWNU Mubarat
  • Anggota DPR Provinsi Jawa Tengah tahun 1978-1982, 1982-1987
  • Anggota DPR kota Semarang masa bakti 1987-1992

Nama istri                             : Hj. Qamariyah

Nama anak                            :

  1. Aida Malikha, S. Psi, M. Si
  2. M. Qosim Marzuki, SE, Akt
  3. Laila Fitriana, SH
  4. Ahson Mas’ud, S. Sos
  5. Nur Arofa, S. Psi

Abdul Wahab Jaelani 1

KH Saifuddin Zuhri, Ulama Sejarawan

Banyak ulama besar yang berasal dari kalangan rakyat biasa, di antaranya adalah Kiai Siafuddin Zuhri, anak seorang santri kampung, kemudian belajar agama di madrasah dan selanjutnya belajar di masyarakat selama revolusi. Namun demikian kontribusinya kepada NU sangat besar, tidak hanya secara material, bagaimana dia menyumbangkan hektaran tanah pada organisasi ini, juga gigih mengembangkan NU di kalangan pedesaan dan di lingkungan kaum pergerakan.

Dan yang lebih penting lagi adalah kontribusinya dalam penyediaan bahan bagi penulisan sejarah NU pada umunya, sebab dia adalah seorang kader yang sangat sadar terhadap sejarah, sehingga banyak membuat catatan sejarah yang merupakan kesaksiannya terhadap peristiwa yang dilihat dan dialami sendiri. Dari berbagai catatannya terbit menjadi berbagai buku yang banyak sekali jumlahnya. Selain itu masih banyak artikel lepas di berbagai media dan makalah seminar serta pidato yang belum diterbitkan. Semuanya menjadi bahan sumber yang sangat penting sehingga menjadi bahan telaah yang tak habis-habisnya bagi para peminat atau penulis sejarah.

Keunggulan Saifuddin dibanding penulis atau sejarawan NU yang lain adalah, ia melukisan tokoh sebagi sosok yang hidup, karena semuanya disaksikan dialami sendiri. Ia bisa bersentuhan langsung dengan pendiri NU seperti Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Hasbullah, Wahid Hasyim, Jenderal Sudirman dan sebagainya. Lantas mendeskripsikan sikap dan gaya kepimpinannya, kedalaman spiritualnya, sampai ke strategi perjuangannya. Soal kepribadian itu tidak pernah diungkap oleh penulis NU yang lain. Selain itu dia juga mampu menggambarkan gerak batin dunia pesantren serta gelora perjuangannya dalam menggerakkan revolusi kemerdekaan.

Penulisan sejarah yang deskrptif, naratif yang dimaksudkan agar komunikatif dengan pembacanya itu tidak diduga malah memberikan suasana yang otentik dan orisinal, terhadap situasi sosial dan situasi batin para pelaku sejarah. Tak diragukan lagi hal itu sangat membantu para penulis sejarah untuk memperoleh gambaran masa lalu secara lebih utuh dan lebih mendalam. Bukan sejarah analitik di mana opini atau interpretasi penulisnya terasa lebih dominan, sehingga jaringan sejarahnya sendiri menjadi terpangkas oleh pandangan sejarawan. Sementara catatan Sejarah Saifuddin justru menampilkan jaringan sejarah itu dengan tegas.

Asal-Usul Keluarga dan Pendidikan
Sebagaimana disebutkan di depan, bahwa Saifudin Zuhri merupakan seorang ulama yang berasal dari keluarga rakyat biasa. Ia anak tertua di antara sembilan bersaudara dari seorang ayah bernama Haji Muhammad Zuhri. Sebab itu kemudian namanya dikenal sebagai K.H. Saifuddin Zuhri. Ia dilahirkan pada tanggal 1 Oktober 1919 di sebuah kota kawedanaan Sokaraja, 9 km dari Purwokerto, Banyumas. Ayahnya dari keluarga petani yang taat kepada agama. Ibunya bernama Siti Saudatun, cucu seorang penghulu di daerahnya. Selama masa remaja Saifudin Zuhri dididik dalam dunia pesantren di daerah kelahiranya, untuk mempelajari berbagai ilmu agama. Selain itu juga menjadi santri kelana di Solo, dengan masuk Madrasah Mambaul Ulum, beberapa bulan, setelah itu masuk ke pesantren Salafiyah, juga hanya tiga bulan. Lalu keluar masuk berbagai forum, sehingga sering mengikuti ceramah para pastur, mengikuti ceramah kalangan SI maupun Muhammadiyah, termasuk ikut wejangan para tokoh kebatinan di sanggar. Tidak ketinggalan pula mendalami jurnalistik.

Dengan penuh kedisiplinan dan keprihatinan giat mendidik diri sendiri mempelajari berbaga ilmu pengetahuan umum, yang dirasa sangat berguna bagi bangsa yang sedang bergerak menuju gerbang kemerdekaan.

Karirnya diawali dengan mendirikan lembaga pendidikan modern yang diberi nama Islamtisch Westerse School. Kemudian bakat menulisnya disalurkan dengan menjadi koresponden atau penulis beberapa majalah yang antara lain Berita Nahdlatul Ulama, Suluh Nahdlatul Ulama dan Suara Ansor. Dengan keahliannya menulis itulah ia bisa berkenalan dengan redaksinya yang tidak lain adalah Kiai Wahid Hasyim yang sangat dia kagumi itu. Dari situ kemudian ia berkenalan dengan Kiai Hasyim Asy’ari pendiri NU yang sangat ia segani.

Perkenalannya dengan kedua tokoh itu membuat Saifuddin bisa belajar lebih banyak. Maka berkembanglah dari seorang pemuda kampung, menjadi tokoh pergerakan yang memiliki akses ke pusat kekuasaan NU yaitu di Pesantren Tebuireng bersama Hasyim As’ari dan Wahid Hasyim. Karena telah berada di pusat NU maka sangat terbuka berkenalan dengan tokoh NU yang lain, seperti Kiai Wahab Hasbullah, Bisri Sansuri, Kiai Ridwan dan sebagainya. Tempaan moral dan intelektual yang dialaminya selama zaman pergerakan itu sehingga memungkinkan dia terbentuk sebagai seorang tokoh yang berkarakter pejuang yang konsisten, yang tahan terhadap berbagai cobaan.

Berkarir Sebagai Pejuang
Dengan jalinan komunikasi yang luas dan akses politiknya yang besar maka dalam usia muda ia telah menjadi simpul gerakan kemerdekaan di Purworejo, sebab dengan kedekatannya dengan Wahid Hasyim dan Hasyim Asy’ari, yang selalu berkomunikasi, membuatnya sebagai orang yang banyak informasi. Mengingat pengalamannya itu wajar kalau ia menjadi nara sember politik utama di daerahnya, sehingga tidak sedikit kiai dan tokoh politik yang mau tidak mau harus bertanya kepadanya tentang persoalan politik dan agama. Maka tidak heran ketika dalam usia 19 tahun ia dipilih menjadi pemimpin Gerakan Pemuda Ansor NU. Namun demikian profesinya sebagai guru madrasah masih terus dipertahankan. Demikian pula aktivitas jurnalistiknya terus berjalan dengan menjadi koresponden kantor berita Antara dan membantu beberapa harian dan majalah, baik yang dikelola NU maupun majalah umum.

(Dikutip dari: nu.or.id)

Kata-Kata Haji Mahbub

1 Oktober 1995, H Mahbub Djunaidi menghembuskan nafas terakhir. Enam belas tahun Mahbub meninggalkan kita, batang hidungnya tak akan pernah muncul kembali. Tapi kata-katanya masih hidup. Siapa yang hendak belajar bahasa? Mahbub salah satu rujukannya.

BAGI saya H. Mahbub Djunaidi adalah jawaranya esais. Misal ada kategori lima orang esais terbaik dalam sejarah Indonesia, saya ngotot menominasikannya sebagai salah satu. Kalau definisi mutakhir teks mengatakan sia-sia membuat pembedaan antara gaya dengan isi tulisan, Mahbub adalah contoh sempurna.

Gagasan dan kejutan yang diajukan dalam esai-esainya sulit dibayangkan bisa di tulis dalam gaya penulisan lain. Pendek kata, bagi saya Mahbub adalah penyihir kata-kata.

Sebutan penyihir boleh jadi terlalu mistik, tapi biarlah. Lalu bagaimana menjelaskan sesuatu yang mistik? Meski tentu banyak sisi positifnya, gara-gara birokrasi logika modern, sebentar-sebentar orang menuduh hal-hal tak terjelaskan secara rasional sebagai mistik. Toh, sihir punya mantra seperti pesawat terbang punya karcis. Kalau demikian adanya, macam apa mantranya Mahbub itu? Apakah hal-hal yang jadi kekuatan dalam esai-esainya?

Cara pandang terhadap realitas
Orang tentu mafhum Mahbub adalah kolumnis politik. Hampir di tiap kolom dia menulis perkara tersebut beserta aspek-aspeknya. Sekurang-kurangnya membahas dampak kebijakan pemerintah pada orang banyak. Penulis yang model begini amat banyak jumlahnya. Namun yang membedakan dengan penulis lain adalah cara Mahbub memandang persoalan politik, terutama berkaitan posisi rakyat berhadapan dengan negara.

Ia hampir selalu memulai tulisan dengan memosisikan rakyat dan negara di atas kertas, menggunakan kerangka teoretik ideal. Teorinya, negara merupakan organisasi yang dibangun demi kemaslahatan rakyatnya. Namun dalam struktur tata negara yang bagaimanapun macamnya, termasuk demokrasi, mustahil pendapat rakyat yang banyak itu diaplikasikan secara keseluruhan orang per orang. Maksimal, negara hanya bisa meratakan kesejahteraan dan menjamin kebebasan berpendapat. Karenanya, rakyat dalam beberapa hal harus mengerti jika negara yang tugasnya masya Allah banyak itu, kadang belum sanggup memuaskan mereka.

Namun posisi teoretik Mahbub ini boleh dibilang unik. Ia tak pernah mengungkapkannya dengan bahasa yang teknis. Untuk kepentingan ini digunakanlah cerita, anggapan umum, peristiwa populer, humor, atau macam-macam perabot lainnya, yang dalam hal ini perlengkapan Mahbub amat lengkap. Sama sekali tak berpretensi ilmiah.

Silakan cek esai Dinamisasi via Binatang yang ditulisnya menyambut ide Menteri Agama Mukti Ali untuk memodernisasi pesantren lewat pemberian binatang ternak. Pada awalnya Mahbub seperti mengikuti jalan pikiran Mukti Ali, bahkan terkesan menjelaskannya. Namun belakangan, ia justru bertanya, kenapa cuma pesantren yang dituding sekadar konsumen? Bukankah perilaku institusi pendidikan lainnya juga kurang-lebih demikian adanya?

Sekarang silakan teliti juga esai berjudul Demokrasi: Martabat dan Ongkosnya. Dalam esai ini akan terjelaskan bagaimana Mahbub bisa memiliki cara pandang demikian. Sumbernya tak lain keluguan. Dia menceritakan perihal rancangan kenaikan anggaran buat anggota DPR sambil menceritakan betapa logisnya alasan mereka mengusulkan hal tersebut, persis orang awam yang hanya paham perkara teknis tanpa menangkap motif lainnya. Mendadak di paragraf akhir, setelah kita diajak tamasya sambil tertawa-tawa, lewat pergeseran perspektif yang sublime, ia meledek dengan lembut, bahwa tuah hak Budget legislatif tiada gigi.

Dalam esai, aku-esai yang mewakili pengarang bercerita lewat medium bahasa, terwujud dalam cara pandang, cara mengajukan gagasan, cara ajukan pertanyaan, cara menyimpulkan, dan hal-hal lain yang bersifat unik. Sebagaimana dimaklumi dalam filsafat bahasa mutakhir, tak ada realitas di luar bahasa. Secara umum boleh dikatakan bahwa kemampuan seseorang untuk berpikir logis dan jernih, akan terefleksi dalam tulisannya, dalam bahasanya. Hal yang demikian bias kita lihat pada Mahbub.

Mahbub pernah bilang, dirinya lebih senang digantungi merk sebagai sastrawan. Kenyataannya memang demikian. Tapi perkara ini di luar fakta bahwa ia pernah menulis beberapa novel. Perspektif keluguan membuatnya bisa mengeker kenyataan dengan perspektif unik, sebagaimana umumnya dipraktikkan para sastrawan. Bertebaranlah di esai-esainya, pameran hasil pengamatan yang sering bikin kita terlonjak keheranan. Ada dikatakan orang yang selalu membicarakan cuaca tak ubahnya orang Inggris. Dia menyebut perihal berisiknya orang Cina, karena empat orang yang berkumpul sanggup berbicara bersama-sama. Di lain waktu, ia menceritakan anak-anak di bulan puasa yang mulai siang tidur menelungkup menekan perut keras-keras ke ubin langgar hingga hampir maghrib. Satu dua ada juga yang diam-diam menggigit mangga muda di belakang kakus.

Dengan pengamatan sekuat ini, tak heran Mahbub seperti tukang dongeng yang bisa menggubah peristiwa apa saja menjadi cerita yang mengesankan. Saya menduga kemampuan mendongeng ini diwariskan Mahbub dari khazanah tradisi Betawi yang melahirkan beberapa tukang cerite yang legendaris, seperti Zahid bin Muhammad.

Dalam khazanah sastra Indonesia, tradisi menulis dengan gaya kocak dan lugu ini bisa dilacak dalam karya-karya Idrus, sebagaimana terlihat dalam kumpulan cerita terbaiknya, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma. Saat ini kemampuan Mahbub mendongeng barangkali hanya bisa disejajarkan dengan sastrawan Putu Wijaya. Dengan kemampuan mendongeng ini, Pak Haji Mahbub mampu menyajikan persoalan dengan ringan. Pembaca paham duduk persoalan tanpa melewati penjelasan konseptual yang bikin kepala serasa berlipat.

Pemberontakan literer
Menurut para ahli, kaum sastrawan, terutama penyair, punya kedudukan istimewa terhadap bahasa, yang dipresentasikan dalam licentia poetica. Singkatnya, dengan istilah yang konon pertama kali diajukan oleh Aristoteles ini, dimaksudkan bahwa demi mencapai tingkat estetika tertentu sastrawan boleh mengutak-atik bahasa sedemikian rupa layaknya montir mesin. Dalam hemat saya ini merupakan mantra Mahbub selanjutnya.

Mahbub sepertinya tak pernah ambil pusing apakah istilah dan kata-kata yang digunakannya masuk hitungan kebakuan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Makanya kita bisa capek sendiri menghitung pelanggaran EYD yang dilakukan dalam esai-esainya. Biasanya ia memakai istilah dan struktur bahasa Betawi yang di Indonesia sering dipakai dalam bahasa percakapan. Beberapa kali ia juga memakai istilah dari bahasa Jawa. Alih-alih ditegur karena kebandelannya, Goenawan Mohamad yang dikenal apik berbahasa malah memujinya sebagai penerobos bahasa. Ya, boleh jadi dalam hal ini Mahbub memang keblinger, tapi justru dari sinilah esai-esainya mencerminkan karakter yang khas. Dia menemukan sendiri capaian estetikanya.

Kebandelan Mahbub dalam berbahasa bukanlah sembarang pelanggaran. Jika ukurannya adalah pencapaian estetik, ia sanggup memenuhi tagihan sertifikat licentia poetica dengan impas, barangkali berikut bunganya. Barangkali sifat sastrawi dalam karya-karya Mahbub bukanlah yang melankolis, sensitif, mendayu-dayu sifatnya. Tapi, toh, John Steinbeck yang menulis cerita-cerita yang menyanyikan humor dan kesintingan pun akhirnya harus datang ke Stockholm, Swedia, buat menerima Nobel Sastra sambil ditepuktangani banyak orang.

Humor
Barangkali tak ada segi paling digandrungi dari esai Mahbub ketimbang humornya. Konon ada orang yang sampai kebelet kencing lantaran membaca tulisan-tulisannya. Saya sih tak ekstrem begitu. Paling-paling hanya menyebabkan durasi membaca jadi lebih lama lantaran sering diselingi cekikikan dan cekakakan. Celakanya, humor-humor Mahbub sering terbawa ingatan saat saya melakukan aktivitas lain. Boleh jadi orang yang kurang paham duduk persoalannya menganggap saya sinting atau semacamnya.

Mahbub sering menyajikan humor satir. Hal ini bisa kita simak antara lain pada Sepatu, di mana ia mengejek banyaknya koleksi sepatu Imelda Marcos. Kadang ia bercerita yang baik-baik saja perihal lembaga negara atau individu dengan demikian sempurnanya, sampai-sampai pembaca akhirnya sadar bahwa Mahbub nyata-nyata tengah mengejek dengan menyebut nilai-nilai yang justru tak dimiliki pihak bersangkutan. Hal yang demikian, misalnya muncul pada Kota.
Teknik humor Mahbub yang paling umum adalah metafora dan celetukan yang bukan alang-kepalang mengejutkannya. Silakan disimak sendiri sebagian kecil contoh berikut:

–    Futurolog itu…semacam dukun juga, tapi keluaran sekolahan
–    Anak-anak saya…patuh sepatuh-patuhnya bagaikan anak anjing ras
–    Sedangkan masuk kamar mandi saja ada risiko terpelanting, apalagi jadi bendaharawan
–    Tidak sedikit orang beli koran dan langsung membaca iklan-iklan kematian, mencari tahu umur berapakah orang yang meninggal itu, sekadar membanding-bandingkan dengan umurnya sendiri
–    Maka dari itu, nyonya sehat bagaikan ikan bandeng
–    Yoga, melipat badan berlama-lama seperti kelelawar
–    Pemerintah mana saja tidak suka penduduknya cerewet seperti sekandang burung parkit
–    Abdurrahman Wahid…bertubuh gempal, ibarat jambu kelutuk yang ranum…punya kebolehan humor yang mengejutkan, seakan-akan dia jambret begitu saja dari laci

Penemuan metafora-metafora yang begitu orisinal dan sublim semacam inilah yang menurut hemat saya menjadi kekuatan utama dari esai-esai Mahbub. Teknik metafor ini dipadukan dengan mantra-mantra sihir yang disebut sebelumnya, membuat esai-esainya lincah. Sering kita temukan beberapa asosiasi ditumpuk sekaligus dalam satu pernyataan.

Tak jarang demi memberi tempat buat dorongan humornya, Mahbub harus melenceng barang sebentar dari persoalan utama. Sering juga berlama-lama. Tapi memang kerapkali pada karya-karya bermutu tinggi, irisan-irisan “ketidaksempurnaan” semacam inilah yang justru membumbui estetika. Coba Saudara simak musikus-musikus hebat yang secara teoretik bakal lebih bagus lagunya didengarkan di hasil rekaman, karena celah-celahnya telah disempurnakan lewat bantuan teknologi. Tapi pendengar musik yang paham duduk persoalan bakal lebih memilih mendengarkan suara live-nya di panggung, meski lewat medium perantara.

MAHBUB, seperti yang diakui sendiri dalam sebuah esainya, adalah seorang generalis. Ia mencomot sembarang persoalan yang menarik perhatiannya buat dibahas, tanpa peduli batas-batas spesialisasi keilmuan. Bagaimana Mahbub mau bicara spesialisasi, wong sarjana saja bukan?

Ia memang unggul dalam hal menyajikan persoalan dengan sederhana melalui generalisasi yang cerdas. Tapi untuk itu kadang ia tak sempat menengok ke celah-celah persoalan, menakar barang sebentar, barangkali ada satu hal atau dua yang tak masuk dalam kategori generalisasinya. Ia juga sering membahas masalah hanya dari aspek spesifik tertentu. Dengan begini, ia tak pernah membahasnya untuk menyajikan solusi dengan tuntas, mulai ujung kepala sampai jempol kaki.

Tapi kelihatannya memang bukan pembahasan lengkap model demikian yang diinginkan Mahbub. Ia ikut berbaur dengan berbagai macam manusia, lengkap bersama pluralitas persoalannya, tanpa bermaksud menarik sebuah rumus deduktif buat setiap masalah. Tapi jangan sekali-kali menganggap Mahbub tak bisa menulis dengan gaya konvensional, artinya nirbumbu-bumbu humor di sembarang tempat, tanpa hilang kejernihan. Kalau tak percaya, sila dibaca, “Soal Pilihan”.

Konon, beberapa orang berpendapat, Mahbub memilih teknik menulis demikian lantaran kondisi sosial-politik Orde Baru yang tidak memungkinkan orang mengkritik dengan keras. Maka humor jadi siasatnya untuk menyelubungi perbedaan-perbedaan pandangannya dengan pihak otoritas. Barangkali anggapan ini ada benarnya.

Tapi bagi saya sih, peduli setan! Dengan atau tanpa Orde Baru, Mahbub tetaplah Mahbub yang menyihir kita lewat kata-kata. Dan kata-kata Mahbub, masih hidup. (Ahmad Makki, Kontributor Majalah Historia Online]

dikutip dari: nu.or.id

Syekh Nawawi Al-Bantani, Gurunya Para Ulama

Kemasyhuran dan nama besar Syeikh Nawawi al-Bantani kiranya sudah tidak perlu diragukan lagi. Melalui karya-karyanya, kira-kira mencapai 200-an kitab, ulama kelahiran Kampung Tanara, Serang, Banten, 1815 M ini telah membuktikan kepada dunia Islam akan ketangguhan ilmu ulama-ulama Indonesia.

Para ulama di lingkungan Masjidil Haram sangat hormat kepada kealimannya. Bahkan ketika Syeikh Nawawi berhasil menyelesaikan karyanya Tafsir Marah Labid, para ulama Mekkah serta merta memberikan penghormatan tertinggi kepadanya. Pada hari yang telah ditentukan para ulama Mekah dari berbagai penjuru dunia mengarak Syeikh Nawawi mengelilingi Ka`bah sebanyak tujuh kali sebagai bukti penghormatan mereka atas karya monumentalnya itu.

Nama Imam Nawawi begitu dominan, terutama dalam lingkungan ulama-ulama Syafi’iyah. Beliau sangat terkenal kerana banyak karangannya yang dikaji pada setiap zaman dari dahulu sampai sekarang. Nama ini adalah milik Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syirfu an-Nawawi yang dilahirkan di Nawa sebuah distrik di Damaskus Syiria pada bulan Muharram tahun 631 H.

Pada penghujung abad ke-18 lahir pula seseorang yang bernama Nawawi di Tanara, Banten. Nama lengkapnya adalah Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar ibnu Arabi bin Ali al-Jawi al-Bantani. Anak sulung seorang ulama Banten, lahir pada tahun 1230 H/1814 M di Banten dan wafat di Mekah tahun 1314 Hijrah/1897 Masehi.

Ketika kecil, sempat belajar kepada ayahnya sendiri, kemudian memiliki kesempatan belajar ke tanah suci. Datang ke Mekah dalam usia 15 tahun dan meneruskan pelajarannya ke Syam (Syiria) dan Mesir. Tidak diketahui secara pasti, berapa lama Imam Nawawi mengembara keluar dari Mekah kerana menuntut ilmu hingga kembali lagi ke Mekah. Keseluruhan masa tinggal di Mekah dari mulai belajar, mengajar dan mengarang hingga sampai kemuncak kemasyhurannya lebih dari setengah abad lamanya.

Karena Syeikh Nawawi yang lahir di Banten ini juga memiliki kelebihan yang sangat hebat dalam dunia keulamaan melalui karya-karya tulisnya, maka kemudian ia diberi gelar Imam Nawawi kedua (Nawawi ats-Tsani). Orang pertama memberi gelar ini adalah Syeikh Wan Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani. Gelar ini akhirnya diikuti oleh semua orang yang menulis riwayat ulama asal dari Banten ini. Sekian banyak ulama dunia Islam sejak sesudah Imam Nawawi pertama, Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syirfu (wafat 676 Hijrah/1277 Masehi) hingga saat ini, belum pernah ada orang lain yang mendapat gelaran Imam Nawawi kedua, kecuali Syeikh Nawawi yang kelahiran Banten (Imam Nawawi al-Bantani).

Meskipun demikian masyhurnya nama Nawawi al-Bantani, namun Beiau adalah sosok pribadi yang sangat tawadhu’. Terbukti kemudian, meskipun Syeikh Nawawi al-Bantani diakui alim dalam semua bidang ilmu keislaman, namun dalam dunia tarekat para sufi, tidak pernah diketahui Beliau pernah membaiat seorang murid pun untuk menjadi pengikut thariqah. Hal ini dikarenakan, Syeikh Ahmad Khathib Sambas (Kalimantan), guru Thariqah Syeikh Nawawi al-Bantani, tidak melantiknya sebagai seorang mursyid Thariqat Qadiriyah-Naqsyabandiyah. Sedangkan yang dilantik ialah Syeikh Abdul Karim al-Bantani, sepupu Syeikh Nawawi al-Bantani, yang sama-sama menerima thariqat itu dari Syeikh Ahmad Khathib Sambas. Tidak diketahui secara pasti penyebab Nawawi al-Bantani tidak dibaiat sebagai Mursyid. Syeikh Nawawi al-Bantani sangat mematuhi peraturan, sehingga Beliau tidak pernah mentawajuh/membai’ah (melantik) seorang pun di antara para muridnya, walaupun sangat banyak di antara mereka yang menginginkan untuk menjalankan amalan-amalan thariqah.

Guru-gurunya

Di Mekah Syeikh Nawawi al-Bantani belajar kepada beberapa ulama terkenal pada zaman itu, di antara mereka yang dapat dicatat adalah sebagai berikut: Syeikh Ahmad an-Nahrawi, Syeikh Ahmad ad-Dimyati, Syeikh Muhammad Khathib Duma al-Hanbali, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Maliki, Syeikh Zainuddin Aceh, Syeikh Ahmad Khathib Sambas, Syeikh Syihabuddin, Syeikh Abdul Ghani Bima, Syeikh Abdul Hamid Daghastani, Syeikh Yusuf Sunbulawani, Syeikhah Fatimah binti Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani, Syeikh Yusuf bin Arsyad al-Banjari, Syeikh Abdus Shamad bin Abdur Rahman al-Falimbani, Syeikh Mahmud Kinan al-Falimbani, Syeikh Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani dan lain-lain.

Murid-muridnya

Syeikh Nawawi al-Bantani mengajar di Masjidil Haram menggunakan bahasa Jawa dan Sunda ketika memberi keterangan terjemahan kitab-kitab bahasa Arab.

Murid-muridnya yang berasal-dari Nusantara banyak sekali yang kemudian menjadi ulama terkenal. Di antara mereka ialah, Kiai Haji Hasyim Asy’ari Tebuireng, Jawa Timur; Kiai Haji Raden Asnawi Kudus, Jawa Tengah; Kiai Haji Tubagus Muhammad Asnawi Caringin, Banten; Syeikh Muhammad Zainuddin bin Badawi as-Sumbawi (Sumba, Nusa Tenggara); Syeikh Abdus Satar bin Abdul Wahhab as-Shidqi al-Makki, Sayid Ali bin Ali al-Habsyi al-Madani dan lain-lain. Tok Kelaba al-Fathani juga mengaku menerima satu amalan wirid dari Syeikh Abdul Qadir bin Mustafa al-Fathani yang diterima dari Syeikh Nawawi al-Bantani.

Salah seorang cucunya, yang mendapat pendidikan sepenuhnya dari nawawi al-Bantani adalah Syeikh Abdul Haq bin Abdul Hannan al-Jawi al-Bantani (1285 H./1868 M.- 1324 H./1906 M.). Banyak pula murid Syeikh Nawawi al-Bantani yang memimpin secara langsung barisan jihad di Cilegon melawan penjajahan Belanda pada tahun 1888 Masehi. Di antara mereka yang dianggap sebagai pemimpin perlawanan Perjuangan di Cilegon ialah Haji Wasit, Haji Abdur Rahman, Haji Haris, Haji Arsyad Thawil, Haji Arsyad Qasir, Haji Aqib dan Tubagus Haji Ismail. Para ulama pejuang bangsa ini adalah murid Syeikh Nawawi al-Bantani yang dikader di Mekkah. (Syaifullah Amin)

Subchan ZE, Pemimpin Besar yang Dilupakan

Krisis yang datang selalu menguji kualitas masyarakat dan individu. Ketika krisis terjadi, keadaan nyaris tak terkendali, semua mengalami disorganisasi dan disorientasi. Hanya individu dan masyarakat yang benar-benar dewasa dan matang yang tidak terseret dalam krisis, sebab mereka relatif bisa mengendalikan diri, tidak terjerumus dalam sikap anarki atau melakukan amuk massa yang beringas.

Orang yang teruji dalam krisis akan muncul sebagai tokoh, ia akan dijadikan panutan, karena memiliki orientasi yang jelas, pemikiran yang cerdas, serta integritas moral yang kuat. Dari pimpinan seperti itu diharapkan akan bisa menerobos dari kungkungan krisis yang dialami selama ini. Dengan adanya pengujian berat semacam itu tidak mungkin pemimpin karbitan bisa bertahan dan tidak mungkin kader cangkokan bisa menjadi panutan. Tipe semacam itu telah menjadi korban utama krisis, sehingga kehadirannya hanya menjadi sampah, untuk mengatasi krisis butuh pemimpin yang matang dan memiliki integritas yang jelas.

Dalam situasi krisis menjelang runtuhnya Orde Lama 1964-1965 muncul tokoh muda NU Subchan ZE. Seorang tokoh kharismatik, dalam arti dihormati karena memiliki kecerdasan, kemampuan memimpin dan memiliki integritas serta keberanian menanggung risiko. Saat itu Subchan menjadi pimpinan kaum pergerakan demokrasi menghadapi Demokrasi Terpimpinnnya Soekarno, sehingga pikirannya menjadi rujukan kalangan aktivis mahasiswa dan pemuda saat itu. Persis dengan posisi Abdurrahman Wahid pada masa akhir Orde Baru yang menjadi simpul perlawanan terhadap rezim otoriter itu.

Hal itu menunujukkan bahwa NU selalu tampil memberikan jalan bagi bangsa ini ketika menghadapi krisis nasional, baik diminta atau tidak. Ini menunjukkan bahwa peran NU sangat dominan dalam membangun dan mempertahankan republik ini baik melalui massanya maupun tokoh elitenya yang muncul saat krisis, ketika pemimpin yang lain kehilangan legitimasinya.

Sebagai Simpul Perjuangan

Subchan adalah pemimpin yang merangkak dari bawah, sejak dari pimpinan Cabang NU di Kudus, tetapi karena kepemimpinannya brilian, maka kemudian dipromosikan menjadi salah seorang pengurus besar NU. Sebagai seorang yang berangkat dari bawah, maka mekanisme demokrasi sangat diharapkan, sebab hanya dengan mekanisme itu kelompok yang tidak punya prelese memiliki akses politik dan kepemimpinan. Dengan latar belakang semacam itu maka wajar kalau sejak awal sangat concern pada demokrasi, karena itu keputusan Soekarno untuk melibas sidang konstituante serta mengeluarkan Dekrit Presiden 1959 benar-benar merisaukan Subhan, apalagi Dekrit tersebut kemudian mengarah pada pembentukan Demokrasi Terpimpin, yang bagi Subhan adalah pengkhianatan terhadap gagasan Demokrasi itu sendiri. Karena itu ia menggabungkan diri ke dalam kelompok oposisi yang terhimpun dalam Liga Demokrasi. Demokrasi menurut Subchan adalah sebuah proses tukar-menukar gagasan dan kekuatan, dari pergumulan ide dan kekuasaan itulah kemudian bisa dirumuskan pendapat bangsa.

Dalam suasana Demokrasi terpimpin yang otoriter, Subchan walaupun kapasitasnya sebagai pemimpin NU, namun jangkauan kepemimpinannya melampaui organisasinya itu. Dengan kejernihan pikirannya dan keberaniannya menyampaikan pikiran, maka pikiran dan tindakannya dijadikan rujukan kalangan pemuda dan mahasiswa pada umumnya. Dari situ Subchan menyelenggarakan forum dialog baik formal maupun informal untuk tukar menukar gagasan, sebagai elemen dari demokrasi, sebelum kemudian di tingkat politik ia berusaha melakukan pergumulan kekuatan untuk membentuk kekuatan nasional. Tetapi hal itu sulit dicapai, sebab pemerintahannya tidak demokratis, anggota parlemen tidak dipilih tetapi diangkat, karena itu ia disamping berjuang melalui jalur partai politik NU, namun memiliki pijakan di dunia intelektual dan mahasiswa pada umumnya.

Kepedulian Terhadap Masalah Politik dan Ekonomi

Ketika Demokrasi Terpimpin menjadikan politik sebagai panglima, tetapi Subchan tidak terlalu terpengaruh pada iklim itu, karena itu ia tetap tekun dalam melakukan kajian ekonomi. Ia mengikuti beberapa kursus ekonomi di luar negeri dan menjadi mahasiswa tamu di sana antara lain di Standford University, Washington University dan Blumington University dan juga di California University. Dengan minatnya yang kuat ia memiliki pengetahuan ilmu ekonomi sangat mendalam. Dengan kemampuan itu ia menjadi anggota beberapa lembaga ekonomi seperti Ketua Dewan Ekonomi Indonesia Pusat, Wakil Presiden Perhimpunan Ekonomi Asia Afrika, menjadi Dekan Fak Ekomoni Universitas Nahdlatul ‘Ulama dan dosen tamu bidamg ekonomi dan politik di berbagai universitas.

Ekonomi bagi Subchan buka hanya teori, tetapi juga praktik, sejak kecil ia memang telah bergumul dengan dunia bisnis, di kota industri Kudus, dari situ justru minatnya dalam bidang teori ekonomi tumbuh. Karena itu pengetahuannya tentang ekonomi tidak textbook thinking, melainkan penguasaan empiris, sehingga lebih relevan dan lebih berdaya guna dalam menyelesaikan masa.

Sumber: nu.or.id

Jejak Gusdur di Pulau Flores

Oleh Didik Fitrianto

Mantan presiden Indonesia yang mendapatkan tempat di hati masyarakat Flores selain Bung Karno adalah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sikap Gus Dur yang selalu menyerukan perdamaian dan toleransi mempunyai kesamaan dengan nafas orang Flores yang sangat mencintai perdamaian dan menjunjung tinggi toleransi. Bagi masyarakat Flores Gus Dur bukanlah sekadar mantan presiden tetapi juga tokoh yang menjadi panutan dan referensi soal kehidupan beragama yang belum tergantikan sampai saat ini, terutama pembelaan beliau terhadap kaum minoritas dan tertindas

Tidak banyak catatan mengenai perjalanan Gus Dur di Flores, Nusa Tenggara Timur. Tetapi ‘jejak’ Gus Dur tentang konsistensinya akan perdamaian, toleransi, dan pembelaannya terhadap kaum minoritas begitu ‘membekas’ di hati saudara-saudara kita di Pulau Flores. Dalam kunjungan penulis di berbagai pelosok Flores saat mendiskusikan tentang perdamaian dan toleransi antar umat beragama dengan berbagai lapisan masyarakat, nama Gus Dur selalu disebut-sebut. Perbendaraan kata yang selalu muncul saat nama Gus Dur disebut adalah tokoh sederhana, tulus dan pemberani. Ketika penulis bertanya mengapa Gus Dur? Jawab mereka karena Gus Dur adalah tokoh muslim yang selalu membawa kedamaian, sepanjang hidupnya baik melalui perkataan, tindakan, maupun  kebijakannya saat menjadi presiden beliau tidak pernah menyakiti kami.

Pada tahun 2005 Gus Dur pernah mengunjungi kota Maumere, salah satu kota di Flores, di kota yang mempunyai julukan nyiur melambai ini Gus Dur melakukan kunjungan ke Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero, sekolah calon Pastor terkemuka dan disegani di Indonesia. Dalam kunjungan tersebut Gus Dur bertemu untuk berdialog dengan para calon Pastor yang kelak akan ikut andil merawat kebhinekaan di republik ini, Gus Dur percaya membangun toleransi di Indonesia yang penuh keberagaman salah satunya dengan jalan dialog yang tulus. Gus Dur meyakini toleransi tidak akan terwujud apabila kecurigaan selalu ada diantara umat beragama, untuk itu membangun kepercayaan dan dialog tanpa henti selalu disuarakan Gus Dur dimanapun beliau berada.

Mencari jejak Gus Dur berupa prasasti maupun monumen tidak akan kita temukan di Pulau Flores. Tetapi akan banyak kita temukan “jejak” Gus Dur di hati dan ingatan masyarakat Flores untuk mengenang sosok yang sangat mencintai perdamaian ini. Pribadi  Gus Dur yang sederhana, terbuka dan tanpa basa-basi membuat ketokohan Gus Dur selalu dikenang, dicintai dan dihormati. Toleransi di Pulau Flores harus kita akui sudah ada sejak ratusan tahun silam, jauh sebelum Gus Dur lahir, tetapi apa yang dilakukan beliau untuk mewujudkan kehidupan beragama yang saling menyanyangi dan melindungi memperkuat keyakinan masyarakat di Pulau Flores bahwa toleransi adalah budaya agung yang mereka miliki yang harus dipertahankan sampai kapan pun.

Tegaknya kebangsaan dan kemanusiaan di Indonesia menurut Gus Dur bisa terwujud apabila fondasi dalam kehidupan bermasyarakat kokoh. Salah satu fondasi yang menjadi perhatian Gus Dur adalah Pluralisme dan kebhinekaan. Gus Dur menyadari Indonesia dibangun diatas keanekaragaman agama, suku dan bahasa. Untuk itu sepanjang hidupnya beliau mendedikasikan waktunya untuk merawat dan menjaganya demi keutuhan bangsa. Walaupun terkadang apa yang dilakukan Gus Dur tersebut menuai kecaman dan penolakan dari sebagian umat Islam sendiri yang menganggap apa yang dilakukan beliau bertentangan dengan ajaran Islam. “Gitu aja kok repot” kata Gus Dur untuk menanggapi serangan dari orang-orang yang dangkal dalam berpikir. Bagi Gus Dur ada dua acuan untuk mengawal pluralisme dan kebhinekaan, yaitu konstitusi dan subtansi nilai-nilai keislaman luhur. Yaitu Islam yang berorientasi pada kebangsaan harus mampu mewarnai kehidupan bernegara.

Di Pulau Flores Gus Dur mendapatkan realitas kehidupan masyarakatnya yang menunjukkan nilai-nilai Islami walaupun mayoritas adalah non muslim. “Ra’aitul Islama dunal muslimin, wa ra’aitul muslimin dunal islam” yang artinya, “Nilai-nilai Islami terlihat di tengah masyarakat nonmuslim, sementara umat Islam hidup tanpa nilai-nilai Islam” pernyataan cendikiawan  muslim Muhammad Abduh tersebut menjadi relevan dengan apa yang dirasakan Gus Dur di Pulau Flores.

Mungkin agak berlebihan tetapi pengalaman penulis selama lima tahun berinteraksi dengan masyarakat Flores merasakan hal sama di mana toleransi dan penghormatan akan kebhinekaan menjadi urat nadi masyarakatnya. Gus Dur dan Pulau Flores memiliki ikatan batin yang sangat kuat, di pulau ini Gus Dur menemukan sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi persaudaraan dan penghormatan dari berbagai keyakinan dan kepercayaan. “Jejak” Gus Dur tentunya akan terus dikenang tidak hanya di tanah Flores tetapi di semua tanah yang selalu menyerukan perdamaian.

* Penulis adalah Gusdurian, bekerja di Wetlands International Indonesia, tinggal di Maumere-Flores, NTT

Iqbal Assegaf, Ketum PB PMII dari Labuha

index

Kematian, siapakah yang dapat menebak kapan datangnya ? Tidak seorangpun, tidak siapapun. Ia, seperti kata Jean Paul Sartre, pemikir Prancis, itu adalah sebuah piringan hitam yang pecah sekaligus sebuah kehidupan yang lengkap . Demikian , ketika suatu sore, disenja Jakarta yang basah, kematian itu tiba- tiba datang membawa kabar berpulangnya sahabat Muhammad Iqbal Assegaf. Kami terhenyak. Kabar itu sulit sekali dipercaya karena tidak  seorang dari kami, sahabat- sahabatnya, pernah menduga dihadapkan pada kenyataan yang menyesakkan dada itu.

Sore itu, Sabtu, 13 Februari 1999, ketika sahabat-sahabat Ansor sedang melaksanakan Program Pelatihan Pekerja Terampil ( P3T) di Graha Wisata Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, kabar duka itu datang mengusung awan hitam diatas kepala kami. Seseorang datang dari rumah sakit Islam Jakarta memberi tahu bahwa ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor, Drh. Muhammad Iqbal assegaf, anggota FKP DPR RI, mengalami kecelakaan dipintu tol Plumpang, Jakarta Utara dan meninggal dunia beberapa saat kemudian.

Kabar yang mengejutkan itu serta merta membuat pelatihan langsung ditutup. Seluruh peserta pelatihan bersama-sama langsung menjenguk kerumah sakit. Tapi itulah rupanya kesempatan terakhir sahabat-sahabat Ansor untuk bertemu dengan Iqbal. Kecelakaan dipintu keluar tol Cawang – Tanjung Priuk itu bukan saja menyebabkan mobil BMW biru tua B 63 RI yang dikemudikan Iqbal ringsek, tapi juga mencedrai nyonya Rahma Muhammad, SH Isterinya bahkan menyebabkan menyebabakan Iqbal sendiri harus menghadap kepada Al khaliq, Allah subhanahu Wata’ala , sang maha pencipta.

Hari itu, masih dalam suasana  lebaran Iedul Fitri 1419 H, Iqbal bersama Istrinya berniat untuk menghadiri halal bil halal warga Maluku Utara di galanggang remaja Jakarta Utara. Dengan mengemudikan sendiri mobilnya, keduanya meluncur dijalan  Ir. Wiyoto Wiyono Wiyono. Namun sesaat setelah keluar pintu Plumpang, mobilnya slip karena menghindari genangan air dan menabrak tembok pembatas jalan hingga menerobos masuk jalur jalan yang berlawanan arah. Saat itulah sebuah mobil colt L 300 yang melaju kencang menabrak BMW yang dikemudikan Iqbal hingga bagian kanan BMW tersebut penyok dan Iqbal yang duduk dibelakang stir, terjepit.

Menurut iryanto, saksi mata yang mengemudikan mobil sekitar 50 meter dibelakang mobil yang dikemudikan Iqbal, begitu melihat kecelakaan tersebut kemudian ia memberhentikan mobilnya dan segera memberikan pertolongan . Iryanto menuturkan , setelah kecelakaan hebat  itu, Iqbal tampak masih bernapas dan sempat mengucapkan kalimat Syahadad.  “Tetapi Kondisinya sudah sangat payah dan bebebrapa saat kemudian  Iqbal menghebuskan nafasnya yang  terakhir,” katanya.

Sedangkan Rahma Muhammad Iqbal SH, Istrinya, menurut Iryanto, waktu itu masih sadarkan diri dan sempat berteriak meminta pertolongan . Beberapa orang kemudian membawa Iqbal kerumah sakit Islam Cempaka Putih, Jakarta. Selanjutnya Iqbal dibaawa kerumah sakit Cipto Mangunkusumo untuk di otopsi. Dari rumah sakit Cipto Jenazah Iqbal lalu dibawa kerumah duka untuk dimandikan dan dishalatkan. Jenazah iqbal lalu dimakamkan dipemakaman keluarga Al Hadad, kalibata Jakarta Selatan dalam sebuah upacara sederhana yang dihadiri keluarga, kerabat , teman teman dan sahabat Pemuda Ansor dan Banser DKI Jakarta. Inna Lillahi Wainna Ilaihi Raji’uun.

Kematian itu, sungguh, meskipun setiap kita pernah menyaksikan musibah serupa, tapi saat ia datang menjemput sahabat  Iqbal dalam usianya yang masih 42 tahun, sangat tak mudah untuk diterima begitu saja sebagai “suratan takdir” yang sudah digariskan oleh Allah SWT. Walaupun kita tahu Allah punya rencana sendiri terhadap semua hambaNya, namun taks erdikit sahabat-sahabat Ansor yang bertanya mengapa Allah begitu tega memanggil Iqbal pulang ke haribaanNya justru disaat ia sedang berada dipuncak penitian karirnya.Tak sedikit orang yang bahkan mencoba untuk meraba-raba rahasia Allah, sang maha pencipta itu. Mengapa Allah terlalu cepat memanggilnya justru ketika ia sedang berupaya membangun cita-cita luhurnya untuk keluarga, organisasi, bangsa dan negaranya ?

Sampai hari ini tak seorangpun yang tahu apa jawabannya. Tak seorangpun yang bisa menebak rahasia semesta Allah sang Maha. Sebab hanya dialah yang tahu rahasia apa yang ada dibalik kehendakNya itu. Sedang kiata hanya dapat mengambil hikmahnya. Memetik pelajaran dari garis takdir yang sudah ditentukanNya. Tak terkecuali garis takdir yang ditetapkanNya terhadap sahabat M. Iqbal Assegaf, betapapu kita semua menyesali kepergianNya.

LAHIR DARI DARAH PEJUANG

Lahir dikampung Bajo, sebuah desa terpencil dipulau Bacan kab Maluku Utara pada pada tanggal 12 oktober 1957, Iqbal adalah anak keempat dari duabelas orang bersaudara yang semuanya laki-laki. Kedua orang tuanya, Bapak Husein Ahmad Assegaf dan Ibu Rawang Abdullah Kamarullah, adalah orang desa yang hidup sangat sederhana namun sangat dihormatioleh pendududk desa . Ayahnya selain berpengetahuan agama yang cukup luas, adalah keturunan langsusng dari Habib Umar Assegaf, adalah seorang pejuang kemerdekaan keturunan arab yang berasal dari Palembang dan menikah dengan Raden Ayu Azimah, Putri sultan Badaruddin II. Kira kira pada awal abad ke20. Habib Umar Assegaf yang berjuang bersama Sultan Badaruddin II melawan kolonialis Belanda, tertangkap dan keduanya kemudian dibuang ke Tondano.

Dari perkawinan Habib Umar dengan Raden Ayu Azimah ini lahirlah Abdullah Assegaf yang kemudian menikah dengan seorang wanita keturunan Belanda bernama Meyers dan dikaruniai empat orang anak. Ketika Ny. Meyers meninggal dunia, Abdullah Assegaf menikah lagi dengan seorang wanita setempat yang masih memiliki hubungan darah dengan kyai Mojo, salah seorang Panglima perang Pangeran diponegoro yang tertangkap oleh Belanda dan dibuang ke Tondano. Keturunan kyai Mojo di Tondano inilah yang kemudian dikenal sebagai keturunan bangsawan Suratinoyo. Dan Abdullah Assegaf menikahi salah seorang perepuan dari bangsawan Suratinoyo. Lalu dari perkawinannya dengan putri bangsawan Suratinoyo inilah lahir kakek Iqbal, yaitu Habib Ahmad Assegaf.

Di Ternate dipagi hari Iqbal masuk sekolah umum di SD Islamiyah dan siang harinya ia sekolah agama dimadrasah Diniyah Awwaliyah Al- Khairat.Ada cerita menarikdari masuknya Iqbal ke madrasah Al Khairat ini. Karena di SD Islamiyah itu masuk pagi, siang harinya ia suka main ke madrasah dan suka mengintip anak- anak yang belajar lewat jendela kelas. Iqbal sangat ingin belajar dimadrash itu tapi dia tidak punmya uang. Hampir setiap hari Iqbal main kemadrasah tersebut. Tapi dia dapat mengintip murid- murid yang sedang belajar dari balik jendela kelas.

Suatu hari seorang guru memberikan pelajaran “nahwu” dan mengajukan pertanyaan pada murid-murid yag sedang belajar dikelas itu. Tak ada seorang murid yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Tapi Iqbal dari balik jendela kelas, tanpa malu-malu menjawab pertanyaan guru tersebut. Jawaban Iqbal rupanya membuat guru madrasah tersebut tertarik. Ia lalu mengajak Iqbal Masuk kedalam kelas. Sejak itu Iqbal bahkandibolehkan menjadi murid di madrasah tersebut. Bukan main senang hati Iqbal. Ia langsung masuk kemadrasah itu dan langsung duduk dikelas dua. Setelah catur wulan pertama, tanpa mengikuti ujian akhir, Iqbal malah lompat kelas lagi kekelas tiga. Dimadrasah Al khairat ini pulalah bakat berpidato Iqbal mulai terlihat. Setiap kali ada lomba berpidato antar siswa, Iqbal selalu mengikutinyadan selalu tampil jadi juara.

Aba Ye mengisahkan, pada waktu-waktu luang, selain sekolah iapun mengajari Iqbal berdagang. “Kami punya usaha membuat roti, dan Iqbal aku suruh untuk menjual roti-roti itu,” katanya. Setiap hari, dengan membawa keranjang rotan berisi roti yang ditaruh belakang sepedanya, Iqbal mengayuh sepedanya keliling kota Ternate. “Saya senang karena dia tidak malu melakukan pekerjaan itu,”ujar Aba Ye. Dengan cara itu, ujar Aba Ye, Ia berharap agar Iqbal dapat memperoleh pelajaran berharga untuk masa depannya. “Supaya dia tahu mencari uang tidak mudah. Sebab tanpa bekerja seseorang tidak akan dapat berbuat banyak untuk hidupnya,”kata Aba Ye. Iqbal sendiri melakukan pekerjaan menjadi penjual roti itu sampai ia duduk dikelas tiga SMA.

Selain mejual roti, dirumah pamannya itu Iqbal juga diberi tugas mengisi bak air. Di Ternate, sumur keluarga Aba Ye sangat dalam karena rumah mereka ada diatas bukit. Mungkin karena tugas itulah tubuh Iqbal ketika kecil terlihat kekar dan berotot. Tapi ujar Aba Ye, karena anak-anaknya juga banyak tugas mengisi bak air tak sepenuh oleh Iqbal. “Saya membuat jadwal dan membagi tugas mengisi bak air itu dalam kelompok. Iqbal satu ke;lompok dengan anak saya Najib,” ujar Aba Ye.Tapi waktu itu kata Aba Ye, Iqbal justru meminta agar ia sendiri saja yang mengisi bak ait tanpa harus menyertakan Najib. “Saya haru terharu mendengar permintaanya itu. Padahal saya akan menunjukkan padanya bahwa saya tidak pilih kasih. Saya katakan padanya bahwa semua anak saya harus bekerja,” kenang Aba Ye.

Aba Ye menyebutkan, sejak kecil Iqbal adalah anak yang penurut, sopan dan hormat pada yang lebih tua. “Dia tidakpernah melawan pada saya.Apayang saya katakan tidak pernah dibantahnya,” tutur Aba Ye. Tapi di sisi lain, kata Aba Ye, dia selalu ingin tahu kesulitan orang lain. Jika ada persoalan, dia selalu ingin ikut membantu. Saya sering ingatkan dia jangan suka mencampuri masalah orang. “Tapi itu rupanya sudah menjadi pembawaannya,” ujar Aba Ye lagi. Menurut Aba Ye, Iqbal adalah seorang yang tidak bisa melupakan begitu saja jasa orang kepadanya. Bahkan, kata Aba Ye, dia selalu ingin membantu siapa saja yang kesusahan. “Dia tidak bisa melihat penderitaan orang lain. Bahkan setelah ia di Jakarta, saya sendiri sering sekali  menerima kiriman uang darinya,” tutur Aba Ye.

HIDUP ITU TIDAK SENDIRI

Diluar pelajaran tentang kerasnya perjuangan hidup yang dialami Iqbal dimasa-masa kanak-kanaknya itu, orang yang justru berpengaruh pada pem,bentukan watak dan kepribadian Iqbal di kemudian hari adalah ayahnya sendiri. Ayahnyalah, Habib Husein Ahmad Assegaf, yang menanamkan pemahaman tentang nilai-nilai filosofis kehidupan kepadanya.. Hal ini bisa dimaklumi karena, menurut Rahma, sekalipun Iqbal sejak SD kecil tinggal di Ternate, namun setiap kali liburan sekolah tiba, dia tetap menyempatkan diri pulang keBajo bertemu ayahnya. Selama pertemuan di masa liburan itulah ayahnya selalu bercerita sejarah kebesaran Islamdan keduanya kemudian menghabiskan waktu dengan berdiskusi tentang persoalan tersebut. Terkadang ayahnya menceritakan sejarah itusambil mengajaknya memancing ikan dilaut.Bahkan ketika kemudian Iqbal sudah sudah duduk dibangku SMA dan ia menyadari potensi yang dimiliki anaknya itu, dia pun mulai menceritakan tentang kandungan-kandungan filsafat karya beberapa filosof terkemuka, diantaranya pemikir Muhammad Iqbal. Bahkan, selain hal-hal bersifaty rasional tadi, ayahnya juga mengajarkan masalah-masalah yang menyangkut tarekat. Iqbal sendiri, dikemudian hari, mengaku msangat bangga pada ayahnya tersebut.

Bagaimana besarnya pengaruh pendidikan watak yang ditanamkan ayahnya itu mepengaruhi kehidupan Iqbal dikemudian hari, bisa dilihat dalam berbagai aktivitas Iqbal bahkan sampai akhir-akhir masa hayatnya. Sebagai anak lelaki, sejak kecil Iqbal sudah diajari mengenai bahwa dia tidak hidup sendiri didunia ini. Sejak kecil dia sudah diajari dirinya adalah bagian kecil dari komunitas besar lingkungan masyarakatnya. Dan ajaran seperti itulah, ujar Iqbal suatu kali, yang selalu mendorongnya untuk tetap berdiri pada kerangka berfikir dan keinginan bertindak secara komunal. Bahkan ajaran seperti itu pula yang selalu mendorongnya untuk tampil sebagai “pioneer” bagi penyelesaian problem yang dihadapi teman-temannya.

Karenanya, bukan hal aneh ketika Iqbal menjadi ketua Umum PMII atau saat ia menjadi ketua Umum GP Ansor sampai menjelang akhir hayatnya, didatangi teman-teman dan adik-adik organisasssinya yang minta uang untuk biaya kuliah atau untuk mebayar uang kost. Bahkan tidak aneh pula kalau sebagai ketua umum Organisasi pemuda dilingkungan NU, Iqbal rela meminjami sekedar kopiah dan ikut mengantarkan adik kelasnya diorganisasi yang ingin menikah sekalipun ia harus rela keluar masuk pelosok-pelosok desa. Iqbal tak pernah sayang mengeluarkan uang maupun tenaganya untuk menolong sahabat-sahabat yang mebutuhkan pertolongan itu. Tidak sedikit Adik kelas atau rekan organisasi yang pernah “dibantunya  itu kini malah tampil sebagai politisi atau usahwan muda yang sukses. Dan keikhlasan seperti itu, tidak bisa tidak, adalah cerminan sebuah sikap solider yang sangat dimotivasi oleh pendidikan yang ditanamkan ayahnya dan pengalaman hidup Iqbal sendiri pada masa kecilnya.

Solidaritas Iqbal terhadap lingkungannya itu bisa dilihat ketika tahun 1997 misalnya, saat Jakarta dilanda banjir besar dan rumah-rumah penduduk yang tinggal di bantaran kali Ciliwung terendam air, Iqbal, pada suatu malam mengajak isterinya membawa makanan. dan mendatangi penduduk yang terkena musibah itu di kawasan Kalibata. Rahma menuturkan, mulanya dia menolak dan meminta Iqbal untuk datang besok siang saja. Tapi Iqbal justru bersikeras untuk datang malam itu juga. “Saya akhirnya mengalah. Malam itu juga kami datang ke Kalibata dengan membawa makanan. Tapi karena gelap, sampai-sampai bemper mobil yang kami tumpangi penyok karena menabrak trotoar,” cerita Rahma. Tapi Iqbal, kata Rahma, justru tenang saja. Ketika Rahma akhirnya bertanya mengapa untuk memberi bantuan saja harus malam-malam, Iqbal menjawab bahwa itulah yang dilakukan Imam Ali r.a. Menurut Rahma, ketika itu Iqbal mengatakan bahwa Imam Ali La justru memilih malam hari untuk membantu orang agar ketika tangan kanannya memberi bantuan tangan kirinya tidak mengetahui.

Kesadaran berpikir dan bertindak atas nama kepentingan  “orang banyak” itulah yang agaknya turut membentuk kemampuan Iqbal sebagai organisatoris. Dan itulahlah yang membuat ternan-ternan di masa kanak-kanaknya di SMP Negeri Ternate mendaulatnya untuk menjadi Ketua OSIS hingga ia tamat pada tahun 1974. Pendaulatan itu terulang kembali ketika ia menanjak remaja dan meneruskan sekolahnya ke SMA Negeri Ternate. “Waktu itu, secara aklamasi, ternan-ternan di SMA Negeri Temate meminta saya menjadi Ketua OSIS,” kenang Iqbal yang lulus dari sekolah menengah tersebut pada tahun 1977.

Sebelum terlibat dalam semua aktivitas kemahasiswaan/kepemudaan, Iqbal sesungguhnya sudah menyimpan catatan sejarah yang sangat panjang tentang keterkaitannya di organisasi. Masuk SMP Negeri Ternate tahun1972, ia sudah menjadi Ketua OSIS di SMP tersebut hingga akhimya lulus pada tahun 1974. Bahkan .SMP itu bakat kepemimpinan dan keberanian Iqbal sudah nampak menonjol. Menurut Ismunandar, teman semasa kecilnya, ketika menjadi ketua OSIS itu Iqbal bahkan sempat dipukul pak Lestaluhu, kepala sekolah SMP Negeri Ternate. Pasalnya karena Iqbal, tanpa sepengetahuan para guru, menyuruh seluruh siswa lelaki di sekolah itu memakai celana panjang pada setiap hari Sabtu. “Anehnya teman-teman mau saja,” kata Ismunandar. Keberanian serupa juga terlihat ketika, masih di SMP dulu, Iqbal berani ikut lomba pop singers dan bersaing dengan penyanyi-penyanyi yang sudah terlatih. “Sekalipun dia tak pemah jadi juara, tapi keberaniannya untuk tampil di atas panggung cukup luar biasa,” ujar Ismunandar.

Soal keberanian Iqbal bertindak dan mengambil keputusan itu dibenarkan juga oleh.Ismet Al-Hadar. “Begitu ,beraninya Iqbal sampai-sampai dia pernah dipecat sebagai Ketua OSIS SMA Negeri Temate. Soal itu, kata Ismet, diceritakan Iqbal padanya lewat surat. “Dan itulah satu-satunya surat yang pemah ditulis Iqbal untuk saya,” kat a Ismet lagi. Dalam surat itu, kata Ismet, Iqbal menceritakan perlakuan tidak adil Ibu Siti Hawa, Kepala Sekolah SMA Negeri Ternate yang memecatnya sebagai ketua OSIS di SMA tersebut. “Waktu itu saya sudah menetap di Jawa. Dan Iqbal, dalam suratnya mengeluhkan pemecatan itu,” kisah Ismet. Ismet menceritakan, menurut Iqbal pemecatan itu dilakukan karena dia dianggap tidak disiplin dan absen saat sekolah mengadakan acara ‘penting. Padahal, menurut Iqbal, dia tidak bisa mengikuti acara sekolah karena ayahnya, orang yang sangat dihormatinya, meninggal dunia dan dia harus pulang ke Bajo untuk menghadiri pemakamannya. “Pemecatan itu merupakan tindakan sepihak dari kepala sekolahnya,” tulis Iqbal dalam suratnya.

Namun Ibu Siti Hawa membantah alasan pemecatan yang dikemukakan Iqbal itu. Menurutnya, sebagai murid yang pintar dan unggul dalam beberapa mata pelajaran, Iqbal pada dasamya memang anak yang baik dan taat pada guru serta orangtua. “Sholatnya juga tidak pemah tinggal,” kata Ibu Siti Hawa. Namun, tambahnya, karena kepintarannya itu Iqbal suka over acting. “Dia selalu merasa paling pintar di antara teman-temannya. Dan karena sifatnya itulah saya memecatnya sebagai Ketua OSIS,” ujar Ibu Siti Hawa. Ia menambahkan, tidak. ada maksud apapun dari pemecatan Iqbal waktu itu. “Sayabermaksud baik. Saya ingin memberikan pembinaan kepadanya agarsifat merasa paling pintar itu tidak terulang lagi di kemudian hari,” kata ibu Siti Hawa. Sebab, tambahnya, pada saatnya nanti Iqbal pastilah akan hidup dan b’ergaul dengan masyarakat lain. “Jadi pemecatan itu saya lakukan untuk memberi pelajaran kepadanya bahwa sifat merasa paling pintar itu tidak baik,” ujar Ibu Siti Hawa.

Pria berpenampilan trendy dan selalu tampil tenang ini sepertinya memang ditakdirkan untuk menjadi aktivis. Sejarah panjang keterlibatannya di berbagai organisasi kepemudaan, di kampus maupun di luar kampus, membuktikan hal itu. Komitmennya terhadap dunia kepemudaan di Indonesia dan intensitas pergulatannya dalam berorganisasi, pada akhirnya ikut memperkokoh anggapan itu. Meski terkadang suka meledak-ledak, kiprah Iqbal tetap menjadi fenomena menarik dalam rangka membangun kepercayaan masyarakat terhadap organisasi kepemudaan di Indonesia. Setidaknya hal itu mulai terlihat ketika dia menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) masa bakti 1988-1991.

Semasa memimpin PB. PMII itulah “ghirah” politik Iqbal mulai mengkristal. Pada periode ini, sebagai Ketua Umum PMII Iqbal sempat membuat merah telinga beberapa pejabat pemerintah Orde Baru. Padahal saat itu mayoritas organisasi kepemudaan tampil lebih sebagai “pak turut” dan semata-mata tunduk pada kemauan pemerintah ketimbang sebagai anak muda yang kritis. Namun Iqbal mendobrak kebekuan itu.
Ketika terjadi musibah terowongan Mina pada musim haji tahun 1990 yang menewaskan sekitar 1600 jamaah haji asal Indonesia, Iqbal, dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dengan lantang mengeritik kinerja Departemen Agama dalam urusan penyelenggaraan haji tersebut dan meminta menteri agama Munawir Sadzali (alm) mundur dari jabatannya.

Pernyataan keras PMII itu sebenarnya dilontarkan Endin Soefihara, salah seorang Ketua PB. PMII. Namun Iqbal yang ketika itu berada di Amerika, menyetujuinya dan kemudian mengambil over permasalahannya. Menteri Agama Munawir Sadzali marah besar dan menganggap Iqbal tidak mengerti duduk persoalannya. Tapi tuntutan PMII itu justru disambut positif banyak ormas lain. Bahkan Ikadin, ketika itu, ikut menuntut agar menteri agama Munawir Sjadzali diadili di mahkamah Internasional karena keteledorannya.

Ghirah sebagai aktivis itu semakin menyala ketika Iqbal maju sebagai calon Ketua Umum GP Ansor dalam kongres Ormas pemuda itu di Palembang pada bulan September 1995. Dalam kongres itu, Iqbal yang berasal dari luar Ansor, justru terpilih menjadi Ketua Umum Ansor untuk masa bhakti 1995 – 2000. Terpilihnya Iqbal itu semakin memperkokoh sosoknya sebagai seorang aktivis yang memiliki visi dan konsepsi organisasi yang jelas. Pendaulatan itu sekaligus mempertegas eksistensinya bahwa PMII bukanlah anti klimaks dari (fitrah) kepemimpinannya sebagai aktivis tersebut.

Sumber: forluni.com

M. Zamroni, Pejuang yang Konsisten

Zamroni Tokoh Gerakan Yang Inspiratif

Di awal kebangkitan orde baru, siapa yang tidak mengenal nama� Mohammad Zamroni. Nama mencuat sejak tahun 1965 hingga 15-20 tahun kemudian dalam kancah perpolitikan Indonesia. Namun,kemudian tiba-tiba dia tenggelam ditelan zaman karena memegang teguh idealisme, ia enggan larut dalam tuntutan pragmatisme politik. Sementara teman seangkatannya pada menduduki posisi penting dalam kekuasaan, karena menjadi pendukung Golkar, sementara ia tetap di Partai NU dan kemudian bergabung bersama PPP, yang saat itu menjadi partai oposisi paling potensial dalam melakukan kontrol terhadap kekuasaan.

Dengan sikapnya yang konsisten itulah perjuanggannya tidak dihargai oleh rezim orde baru, berbeda dengan temannya yang menjadi penopang rezim itu bisa menikmati kekuasaan, namun dengan menggadaikan idealisme mereka, dan bersedia amenjadi aparat untuk merepresi rakyat, pembelenggu kebebasan. Sebaliknya Zamaroni menentang rezim represifitu, karenanya ia disingkirkan dari kekuasaan, seperti layaknya bukan seorang tokoh yang pernah berjasa pada republik ini. Padaahal ia seorang ketua umum PB PMII yang sekaligus menjabat sebagai ketua Kesatuan Akasi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang menumbangkan orde lama dan menegakkan orde baru.

M. Zamroni terlahir dari keluarga sederhana di kota Kudus Jawa Tengah. Kedua orang tuanya mendambakan puteranya menjadi seorang kiai, paling tidak mualim yang menguasai ilmu agama. Karena itu setelah tamat Sekolah Rakyat (SR), Zamroni melanjutkan sekolah ke Pendidikan Guru Agama -PGA- enam tahun di kota Magelang Jawa Tengah. Dengan susah payah, kedua orang tuanya mencukupi biaya pendidikan puteranya, dari hasil bercocok tanam padi di sawah dan ladang yang tidak terlalu luas. Namun tekad ibu bapaknya cukup keras, dan akhirnya Zamroni dapat menyelesaikan Sekolah PGA dengan baik.

Zamroni muda kemudian melanjutkan tugas belajar ke IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, setelah sebelumnya diterima menjadi pegawai negeri sipil di departemen agama.Jakarta,dan mendapat tugas mengajar di Magelang. Tugas inipun dapat diselesaikan dengan baik. Untuk beberapa tahun ia menetap di kota dingin ini dan berumah tangga, karena memenuhi keinginan kedua orang tuanya untuk cepat-cepat mendapatkan cucu-cucunya.

Tahun 1962 Zamroni hijrah ke Jakarta, sambil terus� melanjutkan sekolah di IAIN Syarif Hidayatullah Ciputat. Tugas belajar ini ditunaikan dengan baik, meskipun Zamroni diberi tanggung jawab sebagai Kepala Sekolah PGA Negeri Mampang Prapatan Jakarta Selatan. Tugas rangkap belajar dan mengajar ini dirasakan cukup berat bagi Zamroni, dan karena anak muda ini suka berorganisasi, maka kesibukannya masih ditambah dengan ngurusi organisasi.

Dengan berorgasisasi, dia merasa semakin banyak teman dan kenalan baru yang akan membawa manfaat dalam tata pergaulan dan kehidupan. Itulah sebabnya ketika partai Nahdlatul Ulama mendirikan organisasi kemahasiswaan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau PMII pada tahun 1962, maka Zamroini yang baru dating dari Yogya itu segera bergabung ke dalam organisasi baru itu. Di Komisariat� PMII Ciputat ini, Zamroni bergabung bersama-sama Ibrahim AR, Abdurrahman Saleh, Nadjid Muchtar,Chatibul Umam, dan yang lain-lain. Pengalaman di PMII ini� dirasakan sangat berharga dalam perjalanan perjuangan sebagai mahasiswa di masa depan.

Menonjol Sejak dari Ciputat.

Sejarah berjalan demikian cepat, keberadaan PMII di IAIN Ciputat demikian menonjol. PMII menjadi organisasi ekstra mahasiswa terbesar, berimbang dan pernah menjadi yang terbesar di lingkungan IAIN Ciputat. Himpunan Mahasiswa Islam-HMI- yang sudah terlebih dahulu eksis, cukup terkejut menyaksikan geliat PMII yang diterima dengan tangan terbuka oleh para mahasiswa lama dan baru di IAIN. Sebelum ada PMII, HMI nyaris sendirian “menggarap habis” calon mahasiswa baru dan mahasiswa lama. Keberadaan PMII seakan menjadi sparing partner bagi HMI, sehingga dia bisa bertindak lebih santun dalam merekrut anggota.

Salah satu alasan mengapa keberadaan PMII diterima baik mahasiswa baru, karena mereka adalah� putera puteri warga NU. Sebelum ada PMII, tidak sedikit mahasiswa yang puteri-puteri warga NU, bahkan anak-anak tokoh NU, “terpaksa” masuk HMI demi menyalurkan hobi berorganisasi dan bakatnya. Tetapi setelah ada PMII, mereka tumplek blek masuk organisasi yang akidah dan ideology politiknya sejalan dengan basis kulturalnya yaitu NU. Sebab selama di organisasi mahasiswa lain mereka mengalami alienasi, karena ada kesenjangan cultural.

Pergulatannya di PMII Cabang Ciputat, membuat nama Zamroni kian menonjol dan terkenal. Namun sebagai seorang santri, ia tetap berlaku low profile alias andap asor dan rendah hati. Dengan posisi itu aksesnya kepada tokoh-tokoh di PBNU sudah semakin terbuka. Sebagai sesama orang Kudus, tokoh NU yang di kemudian menjadi salah seorang Ketua PBNU yaitu HM Subchan ZE, sangat memberikan perhatian kepada Zamroni. Dia dinilai sebagai sosok anak muda yang potensial dan mempunyai masa depan� dalam kepemimpinan di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Dalam perjalanan sejarahnya “pertarungan” antara HMI dan PMII ketika itu terasa semakin menguat. Entah apa yang menjadi alasan bagi mereka, yang jelas Kafrawi Ridlwan dkk. di Yogyakarta sempat mendemo Menteri Agama Prof KH Saifuddin Zuhri.

Sumber: nu.or.id